NARASINETWORK.COM - Penulis Salwa Bakr dari Mesir dan Denny JA dari Indonesia resmi menjadi penerima Penghargaan Sastra BRICS yang pertama diselenggarakan. Denny JA memperoleh hadiah sebesar 200 juta rupiah, sementara Salwa Bakr menerima 600 ribu EGP. Selain uang tunai, kedua pemenang mendapatkan plakat dan buku sebagai souvenir.
Penghargaan diserahkan di Hall Internasional Pameran Buku Internasional Kairo, Mesir, pada tanggal 24 Januari. Penyerahan dilakukan oleh Direktur Eksekutif Penghargaan BRICS, Aleksander Okstovich, didampingi Direktur Eksekutif BRICS Literature Network, Vadim Terekhin, dan Koordinator BRICS Mesir, Douha Mostafa.
Proses pemilihan dilakukan oleh dewan juri profesional internasional melalui tahapan bertingkat. Tahap awal meliputi pengumuman lebih dari 30 nama dalam daftar panjang yang diumumkan di Brasil. Selanjutnya, dipilih 10 nominasi dalam daftar pendek yang diumumkan di Jakarta, Indonesia. Tahap akhir adalah pengumuman dua pemenang terbaik yang dilakukan di Rusia.
Salwa Bakr adalah tokoh sastra terkemuka yang menulis dalam bahasa Arab. Ia telah menghasilkan 7 novel, 7 kumpulan cerpen, dan sebuah drama. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa-bahasa Eropa, sehingga dikenal di luar negeri.
Sebagai penerima penghargaan utama, Salwa Bakr menyampaikan perasaannya kecewa karena Kementerian Kebudayaan Mesir tidak menghadiri acara dan tidak mengirimkan wakil. Ia menyatakan bahwa novel yang membuatnya meraih penghargaan mengangkat berbagai aspek budaya Mesir.
Denny JA menerima penghargaan khusus "Untuk Inovasi di Bidang Sastra" atas kontribusinya dalam pengembangan genre puisi esai, yang menggabungkan unsur faktual dan liris. Pidatonya tidak dapat dibacakan secara langsung karena ia sedang menjalankan tugas yang tidak dapat ditinggalkan, sehingga pembacaan dilakukan oleh Koordinator Sastra BRICS Indonesia, Sastri Bakry.
Dalam pidatonya, Denny JA menyampaikan peran sastra dan budaya dalam ruang lingkup global. Ia juga menjelaskan tentang perjuangannya dalam menemukan dan mengembangkan genre baru puisi esai yang menggabungkan imajinasi, fakta, dan data hingga karya-karyanya diakui luas.
"Sastra dunia saat ini masih sangat dipengaruhi oleh tradisi Barat. Ini adalah sejarah, bukan permusuhan. Dari kehidupan biasa, ada cerita yang layak untuk didengar. Dari Mesir, sebuah tanah yang mengajarkan kemanusiaan tentang cara mengingat, aku diingatkan akan alasan kita menulis. Kita menulis agar penderitaan tidak hilang seiring waktu. Kita berinovasi agar bahasa dapat berperan dalam menyembuhkan," ujar Denny JA.
Ia memberikan pesan kepada para penulis muda dari negara-negara Global South agar terus menulis, karena karya lokal akan dapat dikenal secara global seiring waktu. Ia berharap BRICS dapat terus berkembang tidak hanya dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan politik, tetapi juga dalam membangun masa depan moral dan budaya bagi seluruh kemanusiaan.
Acara dihadiri oleh penulis, sastrawan, wartawan, perwakilan BRICS dari Rusia, Mesir, dan Indonesia, serta mahasiswa Indonesia yang mengunjungi Pameran Buku Kairo.
Penghargaan Sastra BRICS dibentuk pada tahun 2024 dalam forum "Nilai-Nilai Tradisional". Tujuan penghargaan adalah untuk mendorong dialog antarbudaya serta menyebarkan nilai-nilai tradisional melalui karya sastra penulis dari negara-negara anggota BRICS.
Dalam sambutannya, Vadim Terekhin menyatakan bahwa penganugerahan penghargaan ini menunjukkan bahwa sastra negara-negara anggota BRICS adalah bagian dari ruang budaya global. Ia berharap penghargaan dapat menjadi awal bagi perjalanan Salwa Bakr dan Denny JA dalam dunia sastra, serta menjadi awal untuk mendapatkan pengakuan tidak hanya di negara-negara BRICS tetapi juga di seluruh dunia. Karya kedua pemenang akan diterjemahkan ke dalam 10 bahasa untuk memperluas jangkauan pembaca.