Calon Pegawai RSHS Diperas Hingga Jual Aset, Oknum Orang Dalam Diduga Terlibat

Kamis, 15 Jan 2026 04:14
    Bagikan  
Calon Pegawai RSHS Diperas Hingga Jual Aset, Oknum Orang Dalam Diduga Terlibat
Istimewa

Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG 

-Dugaan praktik penipuan dan pemerasan berkedok penerimaan pegawai di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung mencuat ke publik.

Seorang pemuda asal Pacet, Kabupaten Bandung, mengaku menjadi korban hingga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

Korban bernama Zaelani Ahmad Arifin menuturkan, peristiwa yang menimpanya bermula pada Januari 2025, saat dirinya menanyakan lowongan kerja ke teman nya sebut saja AA (nama samaran). Setelah itu AA mengirim nomor Sari Maesaroh yang sedang bekerja di RSHS. 

“Awalnya saya dapat nomor Sari dari teman. Katanya ada lowongan kerja di RS HS Kota Bandung. Dari situ saya komunikasi terus,” kata Zaelani saat ditemui di kediamannya, Rabu malam (14/1/2026)

“Awal keterkaitannya itu Sari. Dia bilang lagi magang di RSHS,” tambahnya. 

Tak lama setelah komunikasi terjalin, Zaelani diminta mentransfer uang sebesar Rp1,5 juta dengan dalih administrasi awal. Namun, setelah itu, komunikasi tidak hanya berhenti pada satu orang.

“Setelah itu saya dihubungi beberapa orang lewat WhatsApp. Mereka mengaku pimpinan dan staf RSHS yang bisa membantu saya cepat masuk kerja,” ungkapnya.

Zaelani kemudian dijanjikan bisa langsung bekerja sebagai admin kesehatan dengan syarat menyetor uang hingga Rp70 juta. Ia mengaku mengirim uang tersebut secara bertahap, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, ke beberapa rekening, termasuk atas nama Sari Maesaroh.

Namun, setelah seluruh uang disetorkan, Zaelani justru dinyatakan gagal diterima sebagai pegawai.


Dijanjikan Lulus Lagi, Nominal Justru Membengkak

Tak berhenti di situ, keluarga Zaelani kembali ditawari kesempatan kedua. Ia disebut berpeluang masuk sebagai pelayanan kesehatan di RSHS, dengan jaminan kelulusan.

“Yang kedua kali dijanjikan jadi managemen admin, dan syaratnya tetap harus mengeluarkan uang,” jelasnya.

Nominal yang diminta bahkan lebih besar dari sebelumnya. Zaelani diminta menyetor kembali puluhan juta dengan dalih untuk “menyelesaikan masalah pungutan sebelumnya”.

Mereka yang mengaku sebagai atasan di RSHS, turut menghubungi korban.

“Dia bilang kalau saya kirim puluhan juta lagi, nanti Rp70 juta sebelumnya bisa dicairkan dan dikembalikan,” tutur Zaelani.

Selain itu, mereka bilang jika tidak dikirim segera uang yang sebelumnya tidak akan dicairkan dan Zaelani tidak bisa masuk kerja.

"Sebelum dana cair yang sebelumnyaz saya bisa masuk kerja tapi harus beres dulu itu," ucapnya. 


Dugaan Intimidasi dan Larangan Bicara

Zaelani mengaku berada dalam tekanan dan intervensi. Ia diminta tidak menceritakan permasalahan tersebut kepada orang tuanya.

“Mereka bilang jangan cerita ke siapa pun, termasuk ke bapak saya,” ucapnya lirih.

Keluarga Jual Aset untuk Penuhi Permintaan

Ibu Zaelani membenarkan adanya tekanan psikologis dan dugaan intimidasi.Menurutnya, permintaan uang dilakukan setiap hari, dengan jumlah yang terus berubah.

“Kami seperti diteror. Hari ini diminta ratusan ribu, besok jutaan. Kalau tidak dikirim, mereka bilang anak saya tidak akan bekerja di sana,” ujarnya sambil menangis.
Demi memenuhi permintaan tersebut, keluarga terpaksa menjual berbagai aset.

“Motor dijual, perhiasan saya habis, kontrakan dijual, barang elektronik yang ada turut dijual. Kami sampai berutang ke sana-sini,” katanya.

Upaya Klarifikasi Berujung Ancaman

Pihak keluarga sempat berencana mendatangi RSHS untuk memastikan identitas orang-orang yang mengaku sebagai pegawai tersebut.

Namun, upaya itu justru disebut mendapat ancaman.

“Saat anak saya mau menemui Bu Vivi, malah dibilang kalau datang ke sana, bantuan untuk kerja akan ditutup,” ungkap sang ibu.


**

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"
Goa Garunggang Bogor Tawarkan Wisata Alam Unik dengan Formasi Bebatuan dan Labirin Alami
Ketua APPMBGI Jawa Barat Hadiri Audiensi dan Jajaki Kolaborasi dengan PT Migas Utama Jabar
Wawancara Tokoh : Budi Santoso "PSAI Bogor to Host 5th National Amputee Football Competition"
Anna Ruswan Latuconsina Gelar Diskusi Buku “Arung Jeram Pernikahan” Bahas Perlindungan Perempuan
PSAI Kabupaten Bogor Gelar Latihan Mandiri untuk Persiapan Kompetisi Nasional Sepak Bola Amputasi Edisi V
“Narasinetwork.com Hadirkan Edisi Kompilasi Empat Dongeng Anak ‘Pulau Imaji’”
TVRI Perluas Akses Penyiaran Lewat Uji Coba 5G Broadcast Tanpa Kuota Internet
Pengelolaan Informasi Digital Kemdiktisaintek Raih Penghargaan pada Ajang IDEAS 2026
Kemendikdasmen Gelar Bintang Sobat SMP 2026 Dorong Murid Jadi Penggerak Budaya Digital Positif
Wamenhaj Dorong Ormas Islam Kelola Bimbingan Haji dan Umrah untuk Perkuat Perlindungan Jemaah
Prabowo Resmikan Mandatori Biodiesel B50 Pemerintah Targetkan Hentikan Impor Solar pada 2026
Digital Detox Jadi Pilihan Saat Informasi Terus Membanjiri Ruang Digital
Kemkomdigi Ajak Generasi Muda Kembangkan Satelit Buatan Indonesia
INNOPROM 2026 Jadi Momentum Industri Agro Indonesia Perluas Pasar ke Kawasan Eurasia
Dari Batik hingga Drone Produk Manufaktur Indonesia Dipromosikan ke Pasar Eurasia melalui INNOPROM 2026
Indonesia Perluas Kemitraan Industri dengan Rusia melalui Tujuh MoU di INNOPROM 2026
Pertemuan Bilateral di INNOPROM 2026 Indonesia dan Armenia Bahas Perluasan Kerja Sama Industri
Wonogiri Kukuhkan Identitas sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso
Sempat Hilang Kontak Sepekan, Mahasiswi Telkom University Nadira Az-Zahra Ditemukan Selamat