NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG
-Dugaan praktik penipuan dan pemerasan berkedok penerimaan pegawai di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung mencuat ke publik.
Seorang pemuda asal Pacet, Kabupaten Bandung, mengaku menjadi korban hingga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.
Korban bernama Zaelani Ahmad Arifin menuturkan, peristiwa yang menimpanya bermula pada Januari 2025, saat dirinya menerima tautan lowongan kerja yang mengatasnamakan RSHS dengan posisi admin.
“Awalnya saya dapat link website lowongan kerja. Setelah mengisi form dan mengirim dokumen, saya dihubungi lewat WhatsApp,” kata Zaelani saat ditemui di kediamannya, Rabu malam (14/1/2026).
Awal Kontak hingga Permintaan Uang
Zaelani menyebut, pihak pertama yang menghubungkannya adalah seorang perempuan bernama Sari Meyasaroh yang mengaku sedang magang di RSHS.
“Awal keterkaitannya itu Sari. Dia bilang lagi magang di RSHS,” ujarnya.
Tak lama setelah komunikasi terjalin, Zaelani diminta mentransfer uang sebesar Rp1,5 juta dengan dalih administrasi awal. Namun, setelah itu, komunikasi tidak hanya berhenti pada satu orang.
“Setelah itu saya dihubungi beberapa orang lewat WhatsApp. Mereka mengaku pimpinan dan staf RSHS yang bisa membantu saya cepat masuk kerja,” ungkapnya.
Zaelani kemudian dijanjikan bisa langsung bekerja sebagai admin kesehatan dengan syarat menyetor uang hingga Rp70 juta. Ia mengaku mengirim uang tersebut secara bertahap, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, ke beberapa rekening, termasuk atas nama Sari Maesaroh.
Namun, setelah seluruh uang disetorkan, Zaelani justru dinyatakan gagal diterima sebagai pegawai.
Dijanjikan Lulus Lagi, Nominal Justru Membengkak
Tak berhenti di situ, keluarga Zaelani kembali ditawari kesempatan kedua. Ia disebut berpeluang masuk sebagai pelayanan kesehatan di RSHS, dengan jaminan kelulusan.
“Yang kedua kali dijanjikan jadi managemen admin, dan syaratnya tetap harus mengeluarkan uang,” jelasnya.
Nominal yang diminta bahkan lebih besar dari sebelumnya. Zaelani diminta menyetor kembali puluhan juta dengan dalih untuk “menyelesaikan masalah pungutan sebelumnya”.
Mereka yang mengaku sebagai atasan di RSHS, turut menghubungi korban.
“Dia bilang kalau saya kirim puluhan juta lagi, nanti Rp70 juta sebelumnya bisa dicairkan dan dikembalikan,” tutur Zaelani.
Selain itu, mereka bilang jika tidak dikirim segera uang yang sebelumnya tidak akan dicairkan dan Zaelani tidak bisa masuk kerja.
"Sebelum dana cair yang sebelumnyaz saya bisa masuk kerja tapi harus beres dulu itu," ucapnya.
Dugaan Intimidasi dan Larangan Bicara
Zaelani mengaku berada dalam tekanan dan intervensi. Ia diminta tidak menceritakan permasalahan tersebut kepada orang tuanya.
“Mereka bilang jangan cerita ke siapa pun, termasuk ke bapak saya,” ucapnya lirih.
Keluarga Jual Aset untuk Penuhi Permintaan
Ibu Zaelani membenarkan adanya tekanan psikologis dan dugaan intimidasi.Menurutnya, permintaan uang dilakukan setiap hari, dengan jumlah yang terus berubah.
“Kami seperti diteror. Hari ini diminta ratusan ribu, besok jutaan. Kalau tidak dikirim, mereka bilang anak saya tidak akan bekerja di sana,” ujarnya sambil menangis.
Demi memenuhi permintaan tersebut, keluarga terpaksa menjual berbagai aset.
“Motor dijual, perhiasan saya habis, kontrakan dijual, barang elektronik yang ada turut dijual. Kami sampai berutang ke sana-sini,” katanya.
Upaya Klarifikasi Berujung Ancaman
Pihak keluarga sempat berencana mendatangi RSHS untuk memastikan identitas orang-orang yang mengaku sebagai pegawai tersebut.
Namun, upaya itu justru disebut mendapat ancaman.
“Saat anak saya mau menemui Bu Vivi, malah dibilang kalau datang ke sana, bantuan untuk kerja akan ditutup,” ungkap sang ibu.
**
