Suku Baduy Cagar Budaya Banten dengan Kehidupan Tradisional yang Tetap Terjaga

Rabu, 14 Jan 2026 10:57
    Bagikan  
Suku Baduy Cagar Budaya Banten dengan Kehidupan Tradisional yang Tetap Terjaga
Istimewa

Suku Baduy adalah kelompok etnis Sunda asli Banten yang tinggal di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes. Terbagi menjadi Baduy Dalam dan Luar, mereka hidup seiring dengan alam, memiliki tradisi menenun dan kepercayaan Sunda Wiwitan.

NARASINETWORK.COM - Sebagai negara yang kaya akan seni dan budaya, ada berbagai macam suku yang menetap di segala penjuru Nusantara. Kearifan lokal serta adat istiadatnya masih terjaga dengan baik, bahkan banyak di antaranya yang hidup seiring dengan alam. Nama Baduy terselip di antara banyaknya suku yang ada di Indonesia. Kelompok etnis Sunda ini tinggal bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

"Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak, yang pendek tidak boleh disambung, dan yang panjang tidak boleh dipotong."

Pembagian Kelompok dalam Suku Baduy

Suku Baduy terbagi dalam dua golongan utama, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan utama dari kedua kelompok ini terletak pada cara menjalankan pikukuh atau aturan adat. Baduy Dalam tetap memegang teguh setiap aturan adat yang berlaku, sedangkan Baduy Luar telah menerima beberapa pengaruh dari luar.

Masyarakat Baduy Luar sudah mulai mengenal budaya luar, penggunaan barang elektronik dan sabun diperkenankan oleh ketua adat yang disebut Jaro untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Selain itu, Baduy Luar juga dapat menerima tamu dari dalam maupun luar negeri, bahkan mengizinkan mereka menginap di rumah warga.

Perbedaan juga terlihat dari pakaian yang dikenakan. Baduy Dalam menggunakan pakaian dengan warna putih yang mendominasi, kadang hanya bagian celana yang berwarna hitam atau biru tua. Warna putih melambangkan kesucian dan keaslian budaya yang tidak terpengaruh luar. Sementara itu, Baduy Luar menggunakan baju berwarna hitam atau biru tua dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam hal tempat tinggal, Baduy Dalam memiliki tiga kampung yang mengatur kebutuhan dasar seluruh masyarakat Suku Baduy. Tugas ini dipimpin oleh Pu’un sebagai ketua adat tertinggi, dibantu oleh Jaro sebagai wakilnya. Ketiga kampung tersebut adalah Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan masyarakat Baduy Luar tinggal di 50 kampung lainnya yang tersebar di bukit-bukit Gunung Kendeng.

Asal Usul Nama Baduy

Ada dua versi mengenai asal usul nama Baduy. Versi pertama menyebutkan bahwa nama ini merupakan pemberian dari peneliti Belanda yang melihat kemiripan masyarakat di sini dengan masyarakat Badawi atau Bedouin di Arab. Kemiripan tersebut terlihat dari kebiasaan mereka yang dahulu sering berpindah-pindah mencari tempat tinggal yang sesuai. Versi lain menyatakan bahwa nama Baduy berasal dari nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes.

Mata Pencaharian dan Hubungan dengan Alam

Mata pencaharian utama masyarakat Suku Baduy adalah berladang dan bertani. Alam yang subur dan berlimpah memudahkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Komoditas yang paling sering ditanam antara lain kopi, padi, dan umbi-umbian.

Dalam praktik berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan hewan berkaki empat seperti kerbau atau sapi untuk mengolah lahan. Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke Desa Kanekes, hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian alam sekitar.

Proses pelestarian alam juga diterapkan saat membangun rumah. Rumah mereka terbuat dari kayu dan bambu, dengan kontur tanah yang tetap dijaga tidak digali rata. Fondasi rumah menggunakan batu kali sebagai dasar, sehingga tiang-tiang penyangga rumah seringkali memiliki tinggi yang berbeda.

Rumah adat Baduy memiliki tiga ruangan dengan fungsi masing-masing. Bagian depan difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan menenun bagi kaum perempuan. Bagian tengah digunakan sebagai ruang keluarga dan tempat tidur, sedangkan bagian belakang digunakan untuk memasak dan menyimpan hasil ladang.

Semua ruangan memiliki lantai yang terbuat dari anyaman bambu, sedangkan atapnya terbuat dari serat ijuk atau daun kelapa. Rumah dibangun saling berhadap-hadapan dan hanya menghadap arah utara atau selatan, dikarenakan pertimbangan sinar matahari yang akan masuk ke dalam ruangan.

Budaya Menenun dan Karya Seni

Layaknya kebanyakan suku di Nusantara, Suku Baduy juga memiliki budaya menenun yang telah diturunkan dari nenek moyang. Kegiatan menenun hanya dilakukan oleh kaum perempuan yang mulai diajarkan sejak usia dini. Di kalangan mereka berlaku kepercayaan bahwa jika laki-laki menyentuh alat menenun yang terbuat dari kayu, maka perilakunya akan berubah menyerupai tingkah laku perempuan.

Tradisi menenun menghasilkan kain tenun yang digunakan sebagai pakaian adat. Kain ini memiliki tekstur yang bervariasi, ada yang lembut untuk pakaian dan ada juga yang kasar digunakan untuk ikat kepala atau ikat pinggang. Selain digunakan sendiri, kain tenun ini juga diperjualbelikan kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Kanekes.

Selain kain tenun, masyarakat Baduy juga menghasilkan karya seni dari kulit kayu pohon terep. Salah satunya adalah tas yang disebut koja atau jarog, yang digunakan untuk menyimpan kebutuhan selama beraktivitas atau dalam perjalanan.

Kepercayaan dan Status Cagar Budaya

Suku Baduy percaya bahwa mereka adalah keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul ini juga sering dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, warga Kanekes memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan dunia. Kepercayaan ini dikenal dengan nama Sunda Wiwitan, yang memuja nenek moyang sebagai bentuk penghormatan.

Wilayah tempat tinggal Suku Baduy telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah Lebak pada tahun 1990. Kawasan yang meliputi area dari Desa Ciboleger hingga Rangkasbitung menjadi tempat tinggal bagi Suku Baduy sebagai suku asli Provinsi Banten. Wisatawan yang ingin mengunjungi mereka dapat menggunakan Terminal Ciboleger sebagai pemberhentian terakhir kendaraan bermotor.

Dari terminal tersebut, pemandu akan mengantarkan wisatawan melalui jalur bukit dan hutan hingga mencapai kampung terluar Baduy Luar, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam melalui jalan mendaki dan menurun. Bagi yang ingin mengunjungi wilayah Baduy Dalam, perlu melakukan perjalanan hingga 7 jam sebelum sampai di Kampung Cibeo, salah satu dari tiga kampung Baduy Dalam.

 

 

 

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Suku Baduy Cagar Budaya Banten dengan Kehidupan Tradisional yang Tetap Terjaga
PWI Banten dan Pemkab Lebak Gelar Kemah Budaya HPN 2026 di Wilayah Adat Baduy
John Herdman Resmi Jabat Pelatih Timnas Indonesia Target Bawa Garuda ke Panggung Dunia
Bapenda Kabupaten Bandung Rilis Tutorial Pembayaran Pajak Daerah dan Pelaporan SPTPD Secara Digital
25 Indonesian Professionals Complete Australia Awards Course on Transparency and Leadership
2.445 Kartu Transportasi Transjakarta Gratis Akan Didistribusikan Pemkot Jakarta Pusat Melalui Camat dan Lurah
Pemkot Jakarta Pusat Gerak Cepat Bersihkan Saluran Air dan Periksa Pohon Rawan Tumbang
Bahasa yang Manusiawi untuk Penyandang Disabilitas Memahami Istilah Resmi dan Pilihan Komunitas
Review Film Narasinetwork : Sumala (2024) Pesan Sosial tentang Tekanan Perempuan dan Penerimaan Disabilitas
DEEP Indonesia: Usulan Pilkada oleh DPRD Langkah Mundur Demokrasi dan Buka Karpet Merah Oligarki Daerah
Diskominfo Kabupaten Bandung Dorong Kesadaran Keamanan Digital di Tengah Maraknya Ancaman Siber
Di Balik Banjir Pati: Peran Komunikasi Krisis Pemerintah di Tengah Situasi Darurat
Halimah Munawir dan SatuPena Sumbar Bantu Anak-Anak Korban Bencana Galodo Melalui Kegiatan Terapi Literasi
Peringatan 52 Tahun Malari dan HUT Indemo ke-26 Dorong Aksi Kolektif Lawan Korupsi
Pelita Jaya Sukses Bungkam Dewa United 98-82 di IBL 2026 Efisiensi Field Goals Jadi Kunci Kemenangan
Bonus SEA Games 2025 Dimanfaatkan Bijak Dirga Wira Targetkan Asian Games dan Olimpiade
Indonesia, Bosnia, dan Herzegovina Sepakat Perluas Kerja Sama Pertahanan Pertemuan Resmi Digelar di Sarajevo
Rano Karno Tangani Pengembangan Setu Babakan Grand Design dan Lembaga Pendidikan Jadi Prioritas
398.519 Wisatawan Kunjungi Kepulauan Seribu Tahun 2025 Pulau Pari Jadi Destinasi Favorit
'Sugianto' Indonesian Migrant Worker Recognised as National Ambassador After Yeongdeok Wildfire Rescue