NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Malam Satu Suro merupakan penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram atau Tahun Baru Islam. Bagi masyarakat Jawa, peringatan ini lebih banyak diisi dengan kegiatan keagamaan, perenungan, dan pelaksanaan adat daripada perayaan yang bersifat hiburan.
Tradisi tersebut telah berlangsung selama berabad-abad dan masih dijalankan di berbagai daerah, terutama di lingkungan keraton yang menjadi pusat pelestarian budaya Jawa.
Makna Malam Satu Suro
Malam Satu Suro dipahami sebagai waktu untuk mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tahun yang baru. Nilai yang sering dikaitkan dengan peringatan ini adalah eling lan waspada, yakni mengingat Tuhan serta menjaga sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, malam pergantian tahun Jawa juga dimanfaatkan untuk berdoa, memohon keselamatan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Tradisi yang Dilaksanakan
Sejumlah tradisi masih dijumpai dalam peringatan Malam Satu Suro. Salah satunya adalah tirakat, yaitu kegiatan berdoa dan menahan diri dari berbagai hal yang dianggap dapat mengganggu ketenangan batin.
Sebagian masyarakat juga menjalankan semadi atau meditasi di tempat yang tenang sebagai sarana perenungan.
Di Yogyakarta dikenal tradisi Mubeng Beteng atau mengelilingi benteng keraton dengan berjalan kaki tanpa berbicara. Ritual ini disebut tapa bisu dan menjadi simbol pengendalian diri.
Sementara itu, keraton di Jawa masih melaksanakan kirab pusaka yang menampilkan berbagai benda bersejarah milik kerajaan. Prosesi tersebut disertai doa dan rangkaian upacara adat.
Tradisi lain yang masih dilakukan adalah ngumbah keris, yaitu membersihkan keris dan pusaka keluarga sebagai bagian dari perawatan benda warisan.
Pantangan yang Berkembang
Di sejumlah daerah, terdapat kepercayaan yang berkaitan dengan Malam Satu Suro. Sebagian masyarakat memilih tidak mengadakan hajatan, seperti pernikahan atau khitanan, pada periode tersebut.
Ada pula yang membatasi perjalanan pada malam hari kecuali untuk kepentingan tertentu. Selain itu, menjaga ucapan dan menghindari pertengkaran menjadi bagian dari sikap yang dianjurkan selama peringatan berlangsung.
Sejarah Kalender Jawa
Kalender Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil reformasi penanggalan yang dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1633 Masehi.
Sebelumnya, masyarakat Jawa menggunakan Kalender Saka yang berbasis peredaran matahari. Di sisi lain, kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan telah digunakan untuk kepentingan keagamaan.
Melalui reformasi tersebut, sistem Kalender Saka diubah mengikuti perhitungan lunar seperti kalender Hijriah. Namun, angka tahun Saka tetap dipertahankan sehingga kesinambungan penanggalan tidak terputus.
Bulan pertama dalam kalender baru itu diberi nama Suro yang berasal dari kata Asyura. Sejak saat itu, tanggal 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharram.
Jadwal Kirab Budaya Tahun 2026
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah diperingati pada Selasa, 16 Juni 2026. Dalam tradisi Jawa, pergantian hari dimulai setelah matahari terbenam sehingga rangkaian Malam Satu Suro berlangsung sejak Senin malam, 15 Juni 2026.
Di Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, kirab budaya dijadwalkan berlangsung pada Selasa malam mulai pukul 19.00 WIB. Kegiatan tersebut meliputi kirab pusaka, tapa bisu, serta keikutsertaan Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang menjadi bagian dari tradisi Keraton Surakarta.
Sementara itu, Keraton Yogyakarta menyelenggarakan rangkaian acara sejak pukul 20.00 WIB. Kegiatan diawali dengan persiapan peserta, dilanjutkan pembacaan tembang macapat dan upacara adat.
Tepat tengah malam, peserta memulai Mubeng Beteng dengan berjalan mengelilingi benteng luar keraton sejauh sekitar lima kilometer tanpa berbicara hingga prosesi berakhir.
Hingga kini, Malam Satu Suro tetap menjadi bagian dari tradisi budaya Jawa yang diperingati melalui kegiatan keagamaan, adat, dan pelestarian warisan budaya.