NARASINETWORK.COM - MANGGARAI TIMUR, Nusa Tenggara Timur, Seorang ibu, bayi, dan anak perempuan pertamanya meninggal setelah rumah mereka runtuh akibat gempa berkekuatan 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026), sekitar pukul 04.58 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi di Desa Liang Deruk, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Saat evakuasi, tim SAR gabungan bersama warga menemukan sang ibu terlentang sambil memeluk bayinya di dada, sementara suami korban dan seorang anak lainnya dilaporkan selamat.
“Momang nggitit ba to'o mate, sira dekansa hamutuk.
Kasih seorang ibu tidak berhenti ketika tubuhnya sudah tidak mampu bergerak. Ia tetap memeluk anaknya hingga ditemukan dari tempat tinggalnya. Pada saat terakhir, yang tersisa bukan hanya kehilangan seorang ibu dan bayinya, tetapi juga kisah tentang seorang perempuan yang tetap menjaga anaknya sampai akhir.
Bagi keluarga yang dicintai, pelukan itu menjadi bagian dari kenangan atas seorang ibu yang pergi bersama anak yang ia sayangi.”
Gempa tersebut mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores pada Sabtu pagi. Rumah korban dilaporkan runtuh akibat kuatnya getaran dan menimpa para penghuni yang masih berada di dalam bangunan.
Petugas dan warga menemukan ibu serta bayinya di bawah puing rumah. Kedua tangan perempuan itu masih mengapit tubuh bayi yang berada di atas dada. Anak perempuan pertamanya juga ditemukan meninggal tidak jauh dari titik penemuan tersebut.
Proses bantuan dilakukan secara manual dengan bantuan warga sekitar. Kayu dan balok yang menimpa korban harus dipotong agar jenazah dapat dikeluarkan dari pendinginnya.
Penemuan tersebut kemudian diberitakan sejumlah media dan muncul dalam rekaman proses penyelamatan. Posisi ibu saat ditemukan menjadi salah satu bagian yang banyak diberitakan karena ia masih memeluk bayinya ketika petugas mengangkat tubuh mereka dari puing rumah.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 itu dilaporkan terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB. Pusat gempa disebut berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan hiposentrum sekitar 15 kilometer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores. Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah Flores dan menyebabkan kerusakan bangunan serta korban jiwa.
Warga setempat membantu ikut proses pencarian dan evakuasi. Sejumlah keluarga terdampak juga harus menghadapi kerusakan tempat tinggal serta kebutuhan pengungsian setelah gempa.
Peristiwa di Desa Liang Deruk menjadi salah satu kejadian setelah gempa besar mengguncang Flores. Petugas bersama masyarakat masih melakukan penanganan korban, pendataan kerusakan, serta bantuan bagi warga yang terdampak.
