NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Pameran tunggal pelukis Ireng Halimun bertajuk “My Artistic Soul” digelar di Koi Kemang – Gallery and Restaurant, Jakarta, pada 11–31 Agustus 2026 dan dibuka pada Selasa (11/8/2026) pukul 16.00 WIB oleh Bonnie Triyana, Anggota DPR RI periode 2024–2029, dengan Tubagus Andre Sukmana sebagai kurator.
Pameran yang berlangsung setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB ini menampilkan sejumlah karya dari beberapa fase penciptaan Ireng Halimun, termasuk Dehumanisasi (2023) dan Menolong Saudara Dekat (2025).
Pameran tersebut menampilkan karya pilihan Ireng untuk melihat perubahan gaya, media, objek, serta gagasan yang muncul sepanjang perjalanan seninya. Ireng mulai melukis sejak usia sembilan tahun dan terus mengembangkan kegiatan seni melalui pengalaman di bidang teater, sastra, ilustrasi, desain grafis, serta penyuntingan media.
Ireng Halimun merupakan nama seni dari Iwan Ridwan yang lahir di Jakarta pada 11 Agustus 1965. Ireng mulai mengikuti kegiatan teater dan sastra sejak 1978, kemudian bergabung dengan Sanggar Garajas, Bulungan, pada 1979.
Ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 6 Jakarta pada 1981–1984 dan Jurusan Seni Rupa IKIP Jakarta pada 1984–1990. Pada 1985, Ireng tercatat sebagai Ketua Sanggar Seni Rupa Rawamangun atau S2R2, UKM IKIP Jakarta.
Sebelum berkarya aktif sebagai pelukis, Ireng memiliki pengalaman sebagai ilustrator, desainer grafis, dan editor di sejumlah media. Pengalaman tersebut turut terlihat pada cara ia menempatkan objek, mengatur bidang, serta menggunakan garis dan warna.
Kurator Tubagus Andre Sukmana mengatakan karya Ireng mengalami perubahan dari segi gaya, media, dan pilihan objek. Perubahan tersebut mengikuti pengalaman serta gagasan yang muncul saat berkarya.
Menurut Andre, “My Artistic Soul” tidak dimaksudkan sebagai rangkuman seluruh perjalanan karier Ireng. Karya yang dipilih berasal dari beberapa fase penciptaan untuk memperlihatkan perubahan cara seniman mengolah bentuk, warna, objek, dan pengalaman personal.
“Tagline yang diambil, ‘My Artistic Soul’, bukan hendak menunjukkan sebuah tema khusus pada karya-karya yang dipamerkan, tetapi lebih kepada sebuah bingkai dari pilihan ide-ide konseptual yang menjadi pandangan dan inspirasi pada diri Ireng dalam mengutarakan dan melahirkan setiap karyanya,” ujar Andre.
Salah satu karya yang ditampilkan ialah Dehumanisasi, berukuran 145 x 160 sentimeter, menggunakan cat akrilik di atas kanvas dan dibuat pada 2023. Karya tersebut menampilkan figur robot dengan latar yang dipenuhi garis, warna, dan bentuk yang saling bertumpuk.
Karya lainnya, Menolong Saudara Dekat, berukuran 100 x 120 sentimeter, menggunakan cat akrilik di atas kanvas dan dibuat pada 2025. Lukisan tersebut menampilkan tangan yang menggenggam bendera merah putih.
Kedua karya memperlihatkan cara berbeda dalam menyampaikan tema. Dehumanisasi memakai figur robot sebagai objek utama, sedangkan Menolong Saudara Dekat memusatkan perhatian pada gestur tangan dan simbol bendera. Perbedaan tersebut menunjukkan perubahan cara Ireng mengolah objek sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.
Penggunaan warna yang kuat, garis, sapuan cat, dan bentuk figur menjadi bagian dari bahasa visual Ireng. Figur tetap mudah dikenali, tetapi tidak selalu disajikan dengan gaya realis. Latar juga mendapat ruang untuk bergerak melalui goresan dan pertemuan warna.
Manajer Galeri Koi Kemang, Rian Adriansyah, mengatakan galeri membuka ruang bagi seniman untuk bertemu dengan masyarakat melalui karya. Menurutnya, pameran dapat menjadi sarana bagi seniman untuk menyampaikan pengalaman dan persoalan sosial melalui seni.
Bonnie Triyana yang membuka pameran turut menyoroti peran seni dalam menjaga nilai kemanusiaan. Karya seni dinilai dapat mencatat pengalaman masyarakat sekaligus mengajak pengunjung melihat persoalan sosial melalui sudut pandang seniman.
Bagi Ireng, melukis telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ia menyebut kegiatan tersebut tidak sekadar hobi, tetapi sesuatu yang terus dijalani sejak masa kanak-kanak.
“Saya menyadari bahwa hobi melukis saya diawali dengan sikap efisien: mencintai kegiatan yang dilakukan. Sejak kecil hingga kini, seni lukis menjadi jiwa saya, mungkin sesuai dengan istilah
S. Sudjojono, ‘Jiwa Ketok: jiwa yang tampak’.
Bagi saya, berkarya seni harus dilakukan dengan konsisten dan dijiwai,” ujar Ireng.
Pameran “My Artistic Soul” masih dapat dikunjungi masyarakat hingga 31 Agustus 2026 di Koi Kemang – Gallery and Restaurant, Jakarta. Galeri buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB.
Pembukaan pameran tunggal Ireng Halimun terasa spesial, pada (11/8/2026) bersamaan dengan hari jadi Ireng Halimun.
