Pendidikan Inklusif dan Redistribusi Guru Upaya Mewujudkan Pendidikan yang Berkeadilan

Sabtu, 15 Nov 2025 14:40
    Bagikan  
Pendidikan Inklusif dan Redistribusi Guru Upaya Mewujudkan Pendidikan yang Berkeadilan
Istimewa

Menteri Muti menekankan pentingnya data akurat dan sistem meritokrasi dalam redistribusi guru untuk pemerataan pendidikan.

NARASINETWORK.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, kembali menegaskan esensi akurasi data dalam perumusan kebijakan pendidikan. Penegasan ini muncul seiring perhatian pada inkonsistensi data pokok pendidikan (Dapodik), termasuk laporan kondisi sekolah yang tidak sesuai fakta dan kasus guru yang telah meninggal dunia namun masih menerima tunjangan.

“Mari kita susun data yang jujur dan akurat. Jangan sampai ada guru fiktif yang tidak terdata, atau data guru yang sudah wafat masih menerima tunjangan,” kata Menteri Mu’ti.

Dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Redistribusi Guru ASN Daerah dan Pendidikan Inklusif Regional Jakarta tahap 2, yang dihadiri oleh kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, kepala BKD, serta perwakilan pemerintah daerah, Menteri Mu’ti juga menekankan pentingnya sistem meritokrasi dalam redistribusi guru. Menurutnya, penempatan guru harus berdasar pada kinerja serta kebutuhan lapangan, bukan karena faktor personal atau politis.

“Redistribusi guru bukan sekadar urusan administrasi, melainkan bagian dari membangun sistem meritokrasi. Guru harus ditempatkan sesuai kebutuhan dan kinerjanya, bukan berdasar kedekatan,” tegasnya.

Menteri Mu’ti menjelaskan bahwa kebijakan redistribusi guru bukan sekadar perubahan arah akibat pergantian pimpinan, tetapi langkah strategis untuk memastikan pemerataan dan keadilan pendidikan.

“Kebijakan redistribusi ini bukan kebijakan ganti menteri, tapi langkah menuju pendidikan bermutu untuk semua dan layanan pendidikan yang inklusif serta berkeadilan,” imbuhnya.

Selain redistribusi guru, pemerintah terus memprioritaskan kebijakan pendidikan inklusif, dengan tujuan memastikan anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh hak belajar yang setara. Menteri Mu’ti menjelaskan bahwa guru yang kurang jam mengajar akan diberi peluang menjadi guru pendidikan khusus, dengan fokus melayani pembelajaran bagi murid berkebutuhan khusus, asalkan memenuhi kualifikasi yang sesuai.

“Guru yang kurang jam mengajar juga bisa mendapat tugas tambahan sebagai koordinator pembelajaran pendidikan inklusif, dan tugas itu tetap dihitung dalam beban kerja. Ini bukan menambah beban, tapi memperluas makna pengabdian,” jelasnya.

Menteri Mu’ti juga menyoroti tantangan kultural yang menghambat pelaksanaan pendidikan inklusif, seperti pandangan negatif terhadap anak berkebutuhan khusus dan kasus perundungan di sekolah.

“Masih ada orang tua yang enggan anaknya belajar bersama anak berkebutuhan khusus. Padahal semua anak adalah makhluk Tuhan yang mulia. Pendidikan inklusif harus dimulai dari perubahan budaya,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG), Nunuk Suryani, melaporkan bahwa kebijakan redistribusi guru ASN Daerah (ASND) dan pendidikan inklusif berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 1 Tahun 2025 dan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kepmendikdasmen) Nomor 82 Tahun 2025.

Nunuk Suryani menambahkan bahwa redistribusi guru kini berjalan dua kali setahun, yaitu April dan November, berbasis aplikasi digital Ruang SDM. Aplikasi ini telah digunakan oleh 132 pemerintah daerah dan 10 yayasan pendidikan.

“Redistribusi guru dan pendidikan inklusif adalah dua kebijakan yang saling melengkapi: yang satu memastikan pemerataan tenaga pendidik, yang satu menjamin kesetaraan kesempatan belajar,” ujarnya.

Dirjen Nunuk juga menyampaikan data bahwa hingga Desember 2024, kekurangan guru nasional tercatat 374.154 orang, sementara terdapat kelebihan 62.764 guru ASN dan 166.618 guru non-ASN di sejumlah daerah. Pemerintah berencana melatih 18.000 guru pendamping khusus melalui fasilitator nasional pada tahun depan.

Menteri Mu’ti menutup sambutannya dengan menekankan bahwa redistribusi guru dan pendidikan inklusif akan memperkuat landasan layanan pendidikan di seluruh Indonesia.

“Aturan ini dibuat untuk kepentingan yang lebih besar, memastikan pendidikan bermutu untuk semua, memberi layanan inklusif yang berkeadilan, serta menjamin guru mendapat haknya,” pungkasnya.

Dengan penataan guru berbasis data dan sistem meritokrasi, diharapkan pemerataan layanan pendidikan di seluruh Indonesia terwujud, sejalan dengan amanat konstitusi dan visi Indonesia Emas 2045.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Disorot Soal Layanan Pengaduan dan Informasi, Dewan Pengawas Tirta Raharja Akui Kritik Publik Jadi Masukan
TPS3R Manggungharja Diduga Tak Berfungsi Maksimal, Sampah Berakhir Dibakar, Ini Kata Pengelola
Lebaran Yatim Kebersamaan dan Pelestarian Budaya di Kabupaten Bekasi
Sesmenpora Pimpin Upacara Harganas Ke-33 Ajak Perkuat Peran Keluarga untuk SDM Berkualitas
Kemenpora dan Nestlé Indonesia Jalin Kerja Sama untuk Pengembangan Olahraga Nasional
Bogor Hornbills Juara IBL 2026 Menpora Erick Thohir Apresiasi Persaingan Liga yang Semakin Kompetitif
Tiga Orang Karyawan di Jakarta Mengaku Disekap dan Dianiaya oleh Bos Perusahaan
Rizki Fauzi Terpilih Secara Aklamasi Pimpin KNPI Kecamatan Ciparay
LIPSUS; Tower BTS Sudah Berdiri, Pemilik Lahan Terdampak Mengaku Tak Pernah Memberi Persetujuan
Rumah Aspirasi H. Asep Romy Romaya Resmi Dibuka, Cak Imin dan Bupati Bandung Hadir, Warga Nikmati Layanan
Situasi Musyawarah Kecamatan (Muscam) KNPI Kecamatan Ciparay berlangsung cukup panas
Geger! Mayat Perempuan Bertato Ditemukan Telanjang di Sungai Pacet, Polisi Masih Selidiki Identitas Korban
KNPI Baleendah Diharapkan Jadi Rumah Besar Pemuda, Camat Tekankan Kolaborasi
Rizki Haerul Fadli, Nahkodai Ketua PK KNPI Baleendah, Begini Katanya
Kapolda Sumbar Apresiasi Keberhasilan IMLF‑4 dan Dukung Perluasan Gerakan Literasi ke Seluruh Wilayah
Budi Santoso Pimpin PSAI Kabupaten Bogor dalam Pembinaan Atlet dan Persiapan Piala Kemenpora 2026
Bogor Jadi Tuan Rumah Kompetisi Nasional Sepak Bola Amputasi Edisi V yang Diikuti 224 Atlet dari 11 Klub
Rakor SPPG Ciparay Perkuat Sinergi, Pastikan Makan Bergizi Gratis Tepat Sasaran
Masih Bingung Mau Lanjut Sekolah ke Mana? SMK Wirakarya 2 Ciparay Bisa Jadi Pilihan
Camat Ciparay Monitoring dan Evaluasi SPPG Se Kecamatan Ciparay, Ini Penjelasan nya