NARASINETWORK.COM - Masing-masing orang memiliki kisah perjalanan hidup. Ada suka dan duka, ada senang dan susah, ada jalan yang bengkok dan bahkan berkelok-kelok, ada pula yang lurus dan mulus. Semua kisah tersebut unik dan menarik, serta pada akhirnya menyimpan hikmah tersendiri bagi yang menjalaniinya. Namun, jika hanya diceritakan secara lisan, tak banyak yang akan mengetahui tentang kisah-kisah tersebut. Ketika dituliskan, kisah hidup dapat memberikan manfaat bagi banyak orang yang membacanya. Dari situlah banyak kisah muncul sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan orang lain.
"Dari anak kampung yang pernah makan bulgur sebagai makanan bantuan hingga menjadi tokoh yang melahirkan banyak guru penulis, semua dimulai dari kegigihan dan kecintaan pada membaca serta menulis."

Anak Kampung ke UGM mengisahkan perjalanan kehidupan termasuk karier seorang manusia bernama Thomas Akaraya Sogen. Masa kecilnya bertepatan dengan bencana kelaparan yang melanda negeri ini, membuatnya harus makan bulgur, makanan bantuan pemerintah yang diimpor dari Amerika Serikat, padahal di negara asalnya bulgur digunakan sebagai makanan ternak.
"Keterbatasan ekonomi dan geografis bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan jika dibarengi dengan tekad, kerja keras, dan kecintaan pada bidang yang digeluti."
Ia menghabiskan masa kecil di kebun dan bahkan bersekolah di sana sebelum pindah ke kampung. Sebagai anak kampung, ia pernah tidak mengikuti ujian namun tetap dapat naik kelas. Ia juga tidak pernah berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, apalagi menjadi guru Pegawai Negeri Sipil.
Namun, semua hal tersebut akhirnya terjadi. Ia memutuskan untuk pindah ke ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) karena ingin menjadi sarjana. Perjalanannya tidak berhenti sampai di situ; anak kampung ini kemudian melanjutkan studi pasca sarjana ke Universitas Gadjah Mada. Kariernya terus berkembang pesat, mulai dari guru, kepala sekolah, instruktur, hingga akhirnya menjabat sebagai pengawas sekolah sebelum memasuki masa purnabhakti.
Thomas Akaraya Sogen lahir di Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, pada tanggal 22 Desember 1963. Ia adalah pensiunan guru Bahasa Inggris yang telah meninggalkan jejak berharga dalam dunia pendidikan dan kepenulisan di NTT. Kisah hidupnya mencerminkan perjalanan seorang anak petani yang mampu meraih prestasi melalui kegigihan dan kecintaan pada tulis-menulis.
Masa Muda dan Awal Karier Menulis
Masa kecil Thomas di Pulau Solor berlangsung pada tahun 1960-an, ketika wilayah tersebut masih terbatas dalam hal infrastruktur. Di tengah keterbatasan tersebut, ia menemukan minatnya pada membaca dan menulis. Sejak berada di sekolah dasar, ia rajin membaca majalah Kunang-Kunang dan Dian di rumah gurunya, serta meniru gaya penulisan yang ia baca.
Keberaniannya untuk mengirim tulisan tentang kunjungan para biarawan dan biarawati ke Pulau Solor ke majalah Dian yang berpusat di Ende membuahkan hasil, tulisannya berhasil dimuat. Keberhasilan ini menjadi titik balik yang semakin memperkuat semangatnya dalam menulis.
Selain menulis untuk majalah, Thomas juga aktif mengirim pesan ke Radio Australia. Bahkan, ia pernah masuk dalam tiga besar pengirim pesan terbanyak di program yang diikuti. Bagi Thomas, aktivitas ini bukan sekadar hobi semata, tetapi juga cara untuk memperkenalkan kampung halamannya yang terpencil kepada masyarakat luar.
Prestasi akademiknya juga menunjukkan kemampuan yang baik. Ia terpilih sebagai siswa teladan di SMA Surya Mandala pada tahun 1983, sebuah sekolah yang banyak diminati di Kabupaten Flores Timur. Kisah kesuksesannya di sekolah tersebut kemudian dituangkan dalam tulisan yang dimuat di Majalah Hidup.
Pengabdian di Dunia Pendidikan dan Agupena
Setelah menyelesaikan pendidikan, Thomas mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Inggris dan kemudian menjabat sebagai pengawas sekolah di Kabupaten Kupang. Namun, kecintaannya pada dunia tulis-menulis tidak pernah padam. Pada tahun 2014, ia mendirikan organisasi Agupena di Provinsi NTT dan turut serta mendirikan cabang Agupena di beberapa kabupaten, antara lain Flores Timur, Lembata, Ngada, dan Timor Tengah Selatan.
Ia memimpin Agupena NTT selama dua periode berturut-turut (2014–2018 dan 2018–2022) dan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Pusat Agupena untuk periode 2022–2026.
Melalui Agupena, Thomas berperan sebagai motivator dan inspirator bagi para guru di NTT. Ia mendorong rekan-rekannya untuk menulis dan menyampaikan aspirasi serta keresahan mereka melalui tulisan. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana namun memiliki wawasan luas dan mampu memberikan inspirasi.
Komitmennya terhadap organisasi ini sangat tinggi; ia selalu menghadiri setiap kegiatan yang diadakan, tanpa mempertimbangkan waktu yang diperlukan maupun biaya transportasi. Dedikasi dan contoh yang diberikan olehnya telah memberikan hasil yang nyata banyak guru di NTT kini mampu menulis artikel, karya ilmiah, bahkan buku.
Thomas Akaraya Sogen bukan hanya seorang guru Bahasa Inggris dan pengawas sekolah yang berprestasi, tetapi juga tokoh yang telah melahirkan banyak guru penulis di NTT. Kisah hidupnya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan kondisi geografis bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan, selama didukung oleh tekad yang kuat, kerja keras, dan cinta pada bidang yang ditekuni. Ia telah meninggalkan warisan berharga bagi dunia pendidikan dan kepenulisan di NTT, dan namanya akan selalu dikenang sebagai "Gurunya Para Guru Penulis NTT".
Ia pensiun sebagai guru dengan pangkat tertinggi di Provinsi NTT—bukti nyata bahwa aktivitas menulis yang ia tekuni sejak awal karier telah memberikan manfaat besar dalam kehidupannya.
Temu Wicara Daring Narasinetwork.com × Thomas Akaraya Sogen
Jakarta - Flores, 10 Januari 2026.
