NARASINETWORK.COM - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), melalui Education Policy Outlook Team, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional, Anak dan Remaja Luksemburg, menyelenggarakan Education Policy Reform Dialogues 2025 pada 27–29 November 2025 lalu.
Forum internasional ini menjadi wadah bagi para pemimpin dan pembuat kebijakan pendidikan dari 22 negara anggota OECD dan ekonomi mitra untuk berbagi ide dan pengalaman dalam merancang kebijakan pendidikan yang lebih adil dan inklusif, sejalan dengan Deklarasi Menteri OECD 2022 tentang Membangun Masyarakat yang Adil Melalui Pendidikan.
Acara ini dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional, Anak dan Remaja Luksemburg, Claude Meisch, yang menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat dalam menghadapi perubahan zaman.
“Pembelajaran sepanjang hayat melampaui pendidikan orang dewasa, reskilling, upskilling, atau pembelajaran untuk rekreasi. Ini juga berarti tetap terbuka dan peduli terhadap dunia serta masyarakat, dan mengambil peran aktif di dalamnya,” kata Menteri Claude.
Indonesia menjadi satu-satunya perwakilan dari kawasan ASEAN. Delegasi Indonesia terdiri dari Yos Sunitiyoso (Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek), Saryadi Guyatno (Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikdasmen), serta Firman Hidayat (Kepala Bagian Evaluasi dan Kerja Sama Kemdiktisaintek). Kehadiran Indonesia menegaskan komitmen pemerintah terhadap pembelajaran sepanjang hayat dan aksesi menuju keanggotaan OECD.
Fokus forum tahun ini adalah bagaimana sistem pendidikan dapat memberikan dukungan terarah pada momen-momen penting dalam kehidupan, seperti masa kanak-kanak awal, awal remaja, dan pertengahan karier. Ketiga fase ini dianggap strategis untuk memperkuat lifelong learning, terutama di tengah transformasi digital.
Para delegasi membahas berbagai pendekatan lintas negara, strategi peningkatan motivasi belajar, serta cara memperkuat will, skills, and means para pembelajar di seluruh usia.
“Tiga isu utama menjadi perhatian Indonesia: penyelarasan kurikulum dan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat, pengakuan kredensial mikro oleh pendidikan formal, dan pemanfaatan teknologi seperti AI dalam pembelajaran sepanjang hayat,” ujar Yos.
Yos juga mengamati praktik baik dan tantangan yang dihadapi negara-negara peserta terkait implementasi pembelajaran sepanjang hayat. “Praktik baik yang dibagikan memberikan banyak inspirasi, dan beberapa dapat direplikasi dalam konteks Indonesia,” tambahnya.
Forum ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama internasional dan menghasilkan rekomendasi kebijakan inovatif yang dapat diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Laporan terbaru OECD Education Policy Outlook juga menekankan pentingnya motivasi, kompetensi, dan akses pembelajaran sebagai fondasi membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan.