NARASINETWORK.COM -
-Indonesia dijadwalkan akan resmi mengemban mandat sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada (8/1/2025 di Jenewa. Penunjukan ini bukan sekadar capaian diplomatik, melainkan ujian besar kepemimpinan Indonesia di tengah eskalasi ketegangan global yang belum mereda.
Momentum tersebut datang di saat yang sensitif. Dunia tengah diguncang laporan internasional terkait operasi Amerika Serikat terhadap Venezuela, yang kembali memanaskan peta geopolitik dan memunculkan perdebatan tajam soal kedaulatan, legitimasi kekuasaan, serta dampak kemanusiaan terhadap rakyat sipil.
Indonesia, Calon Tunggal dari Asia-Pasifik
Indonesia ditetapkan sebagai calon tunggal Presiden Dewan HAM PBB dari kawasan Asia-Pasifik, setelah melalui proses konsultasi internal yang melibatkan lebih dari 50 negara. Konsensus ini mencerminkan tingkat kepercayaan lintas sistem politik dan kepentingan terhadap posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang dinilai stabil dan kredibel.
Dukungan internasional pun mengalir. China, melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Indonesia di forum HAM tertinggi dunia tersebut.
Siapa yang Akan Memimpin?
Jika berjalan sesuai rencana, kursi Presiden Dewan HAM PBB akan diemban oleh Sidarto Reza Suryodipuro, selaku Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB di Jenewa. Ia akan memimpin forum yang beranggotakan 47 negara, sekaligus menjadi wajah diplomasi Indonesia dalam isu-isu HAM paling sensitif di dunia.
Dilema Diplomasi: Tegas atau Akomodatif?
Kasus Venezuela menempatkan Indonesia dalam dilema klasik diplomasi internasional.
Sikap yang terlalu keras terhadap Amerika Serikat berpotensi mengganggu hubungan bilateral, sementara sikap yang terlalu akomodatif justru bisa menggerus kredibilitas Indonesia sebagai pemimpin forum HAM global.
Sebagai Presiden Dewan HAM PBB, Indonesia tidak dapat menghindar. Forum ini akan menjadi panggung utama diplomasi global untuk membahas dimensi HAM konflik Venezuela mulai dari isu kedaulatan negara, legitimasi kekuasaan, hingga dampak nyata terhadap kehidupan rakyat.
Lebih dari Sekadar Jabatan Prestisius
Penunjukan Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB menempatkan Tanah Air pada posisi yang nyaris belum pernah dialami negara berkembang mana pun: memimpin forum HAM tertinggi dunia di saat krisis internasional belum mereda.
Namun, keberhasilan Indonesia tidak diukur dari terpilihnya semata. Ukuran sesungguhnya terletak pada kemampuan menjaga kredibilitas, netralitas, dan kepercayaan internasional sepanjang masa jabatan hingga akhir 2026.
Di tengah sorotan dunia, Indonesia kini berdiri di persimpangan sejarah antara kepentingan nasional, tuntutan moral global, dan tanggung jawab kemanusiaan.
**