NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Mulai November 2025 Narasinetwork.com menghadirkan "Pulau Imaji : Berlayar dalam Dongeng Narasi" Digagas oleh Erna Winarsih Wiyono, program ini membawa kembali kehangatan tradisi mendongeng sebelum tidur dengan sentuhan modern dan suri tauladan.
Menikmati ilustrasi dan cerita dongeng pendek karya Kak Nana dalam "Pulau Imaji," hadir dua kali sebulan di rubrik Khazanah Narasinetwork.com
Program ini diharapkan menjadi ruang inklusif yang ramah bagi semua pembaca, baik dewasa maupun anak-anak Indonesia.
Episode ketiga bertutur tentang "Petualangan Wai Menuju Bumi Larwul Ngabal" Selamat membaca.

Petualangan Wai Menuju Bumi Larwul Ngabal - Buku Cerita Anak 'Erna Winarsih Wiyono'
Felad ni nuhu, rahang ni ruan
Hormat bagi tanah, hormat bagi isi rumah
Di dermaga besar Tanjung Priok, ada sebuah kapal putih yang gagah bernama Kapal Pelni. Seorang anak laki-laki bernama Wai duduk di dekat jendela bersama Ina, ibunya. Mereka akan memulai perjalanan lima hari menuju Kepulauan Kei di Tual.
Sambil melihat ombak di samping kapal, Wai bertanya kepada ibunya.
"Ina, nggofo rumah kita jauh sekali di tengah laut ya? Kenapa tidak tinggal di darat saja?" tanya Wai.
Ina tersenyum lalu mengusap kepala Wai.
"Karena kita adalah anak nene pelaut, Wai.
Laut bukan pemisah, tapi jalan wong yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia. Kita harus bangga jadi orang Maluku Tenggara yang sopan dan sayang sesama, seperti ajaran di Bumi Larwul Ngabal."
Perjalanan itu sangat jauh, melewati Surabaya, Makassar, hingga Ambon. Karena sedang bulan puasa, Ina mengajak Wai belajar bersabar.
Udara laut yang asin terkadang membuat tenggorokan haus, tapi Wai ingat pesan ibunya:
"Sabar itu butuh waktu, nanti hasilnya pasti baik."
Saat sore tiba dan langit berwarna jingga, Wai mulai lapar. Ina membuka tas kain miliknya. Di dalamnya ada kotak bekal berisi sayur nangka muda, buah anggur, dan sate keju kesukaan Wai.
"Ayo makan, supaya kamu kuat sampai di Bumi Larwul Ngabal," kata Ina.
Wai senang sekali. "Wah, enak banget Ina! Masakan Ibu paling lezat."
Tiba-tiba, ada sesuatu di samping kapal. Wai berdiri dan memegang tangan ibunya.
"Ina, lihat itu! Ada lumba-lumba banyak sekali! Mereka melompat-lompat!" seru Wai gembira.
Lumba-lumba itu berenang mengikuti kapal. Ina mengajak Wai melihat dari pagar dek.
"Tuhan memberi kita laut yang indah.
Ada banyak ikan dan karang di sana. Kita harus jaga laut tetap bersih supaya hewan-hewan ini punya rumah yang nyaman.
Jangan buang sampah ke air ya?"
Wai mengangguk. "Janji Ina! Nanti kalau sudah sampai, aku ajak teman-teman membersihkan pantai too!"
Saat bintang muncul di langit malam, suara azan terdengar. Waktu buka puasa sudah tiba. Ina dan Wai duduk di sudut kapal yang tenang. Wai makan dengan lahap sambil mencium bau masakan yang harum.
Selesai makan, Wai berkata, "Terima kasih Ina sudah buat bekal enak. Rasanya seperti makan di rumah sendiri."
Ina memeluk Wai. "Anak pintar. Kalau kita selalu bersyukur, perjalanan jauh pun tidak akan terasa capek."
Malam hari, Wai jalan-jalan sebentar di atas kapal. Ia melihat banyak orang dari suku lain. Ada yang bicara bahasa Jawa, Bugis, dan Ambon. Mereka semua rukun dan saling berbagi makanan.
"Tadi ada ibu dari Sulawesi memberi aku pisang manis, Ina," cerita Wai.
Ina tersenyum. "Itulah Indonesia, Wai. Kita berbeda-beda tapi tetap satu keluarga besar."
Setelah beberapa hari, lampu-lampu di Pelabuhan Tual mulai kelihatan. Wai sangat senang melihat bukit hijau dan pantai pasir putih yang bersih.
"Ina, itu rumah kita! Cantik sekali!" teriak Wai.
Saat kapal berhenti, Wai memegang tangan ibunya erat-erat. Ia ingin sekali belajar banyak tentang budaya daerahnya dan menjaga alam di sana.
"Siap turun ke rumah kita, Wai?" tanya Ina.
"Siap, Ina! Aku ingin cepat bertemu Ama, Nene, dan teman-teman. Aku mau cerita soal lumba-lumba dan janji menjaga pantai!"
**
Pesan dari cerita dongeng pendek ini adalah :
- Sayangi dan jaga kebersihan laut.
- Selalu bersyukur dan bersabar.
- Bangga dengan daerah asal sendiri.
- Rukun dengan semua teman meskipun beda suku.
Daftar Kata :
- Wai: Panggilan anak laki-laki.
- Ina: Ibu.
- Ama: Ayah.
- Nene: Nenek atau kakek.
- Nggofo: Kenapa.
- Wong: Orang.
- Too: Juga.
- Larwul Ngabal: Nama daerah di Kepulauan Kei.
**
Source :
Cerita & Ilustrasi : Erna Winarsih Wiyono
Copyright Ilustrasi : NW Studio @ernawinarsihwiyono/2026/Maret
Kotak Saran : NW Studio - +6281212393683 (Jakarta).
**