NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Malam Satu Suro tidak hanya ditandai dengan pelaksanaan tirakat, doa bersama, dan kirab budaya, tetapi juga penyajian berbagai makanan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari peringatan tahun baru Jawa. Hidangan tersebut umumnya disajikan dalam kenduri atau selamatan sebagai bentuk ungkapan syukur serta doa untuk tahun yang akan datang.
Bubur Suro menjadi sajian yang paling dikenal dalam peringatan Malam Satu Suro. Makanan ini dibuat dari beras yang dimasak bersama santan, jahe, serai, dan sejumlah bumbu tradisional. Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan aneka lauk, seperti telur, perkedel, kacang-kacangan, dan sambal goreng kering.
Selain Bubur Suro, masyarakat Jawa mengenal ayam ingkung yang dimasak utuh menggunakan santan dan rempah-rempah. Hidangan tersebut kerap hadir dalam acara kenduri dan selamatan yang berkaitan dengan tradisi keagamaan maupun adat.
Nasi tumpeng juga menjadi bagian dari sajian yang sering ditemui pada peringatan Malam Satu Suro. Bentuknya yang menyerupai kerucut telah lama menjadi simbol budaya dalam berbagai upacara tradisional di Jawa.
Di lingkungan Pura Mangkunegaran Surakarta terdapat hidangan khas bernama sego golong. Nasi yang dibentuk bulat-bulat tersebut disajikan dalam rangkaian peringatan Malam Satu Suro dan masih dipertahankan hingga sekarang.
Sementara itu, bubur merah putih menjadi sajian yang turut hadir dalam sejumlah kegiatan selamatan. Bubur ini terdiri atas dua warna, yakni merah dan putih, yang memiliki makna simbolis dalam tradisi masyarakat Jawa.
Jenis makanan lain yang juga dikenal adalah jenang tujuh rupa. Sajian ini terdiri atas beberapa variasi jenang yang disiapkan untuk acara adat tertentu. Kue apem turut menjadi pelengkap yang umum ditemukan dalam berbagai kegiatan masyarakat Jawa. Nama apem diyakini berasal dari kata afwun dalam bahasa Arab yang berarti permohonan maaf atau ampunan.
Perpaduan Budaya Jawa dan Islam
Tradisi kuliner Malam Satu Suro berkembang seiring proses pertemuan budaya Jawa dan Islam yang berlangsung sejak masa Kesultanan Mataram.
Sejarahnya berkaitan dengan reformasi penanggalan yang dilakukan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1633 Masehi. Melalui kebijakan tersebut, sistem Kalender Saka dipadukan dengan Kalender Hijriah sehingga lahirlah kalender Jawa yang digunakan hingga kini.
Penetapan bulan Suro sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa membuat peringatan tahun baru Jawa berlangsung bersamaan dengan 1 Muharram. Sejak saat itu, berbagai tradisi masyarakat berkembang, termasuk penyajian makanan dalam kegiatan tirakatan dan kenduri.
Pada malam pergantian tahun, warga biasanya berkumpul untuk berdoa bersama dan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat di berbagai daerah.
Asal-Usul Bubur Suro
Penyajian bubur pada bulan Muharram sering dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS yang dikenal luas di kalangan masyarakat.
Dalam cerita yang berkembang, setelah banjir besar berakhir, bahan makanan yang tersisa dikumpulkan dan dimasak bersama agar dapat dinikmati oleh seluruh penumpang kapal. Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu latar belakang tradisi memasak bubur pada bulan Muharram di sejumlah wilayah.
Masyarakat Jawa selanjutnya menyesuaikan sajian tersebut dengan bahan pangan setempat sehingga lahirlah Bubur Suro yang dikenal saat ini.
Makna Tujuh Lauk Pendamping
Dalam beberapa tradisi, Bubur Suro disajikan bersama tujuh jenis pelengkap. Angka tujuh dikaitkan dengan kata pitu dalam bahasa Jawa yang sering dihubungkan dengan pitulungan atau pertolongan.
Bahan yang digunakan antara lain kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tunggak, kacang mete, kacang koro, serta buah delima atau jeruk bali.
Penyajian tujuh pelengkap tersebut dipahami sebagai ungkapan harapan agar memperoleh keselamatan, kelancaran, dan kesejahteraan pada tahun yang baru.
Hingga kini, Bubur Suro tetap menjadi sajian yang paling identik dengan peringatan Malam Satu Suro. Bersama berbagai hidangan tradisional lainnya, makanan tersebut masih hadir dalam kegiatan kenduri dan selamatan yang diselenggarakan masyarakat Jawa di sejumlah daerah.
