Hidangan Khas Malam Satu Suro dan Jejak Tradisi Tahun Baru Jawa

Selasa, 16 Jun 2026 21:40
    Bagikan  
Hidangan Khas Malam Satu Suro dan Jejak Tradisi Tahun Baru Jawa
Istimewa

Bubur Suro menjadi hidangan yang paling identik dengan peringatan Malam Satu Suro. Selain itu, masyarakat Jawa juga menyajikan ayam ingkung, nasi tumpeng, sego golong, jenang tujuh rupa, dan kue apem dalam berbagai kegiatan kenduri serta selamatan.

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Malam Satu Suro tidak hanya ditandai dengan pelaksanaan tirakat, doa bersama, dan kirab budaya, tetapi juga penyajian berbagai makanan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari peringatan tahun baru Jawa. Hidangan tersebut umumnya disajikan dalam kenduri atau selamatan sebagai bentuk ungkapan syukur serta doa untuk tahun yang akan datang.

Bubur Suro menjadi sajian yang paling dikenal dalam peringatan Malam Satu Suro. Makanan ini dibuat dari beras yang dimasak bersama santan, jahe, serai, dan sejumlah bumbu tradisional. Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan aneka lauk, seperti telur, perkedel, kacang-kacangan, dan sambal goreng kering.

Selain Bubur Suro, masyarakat Jawa mengenal ayam ingkung yang dimasak utuh menggunakan santan dan rempah-rempah. Hidangan tersebut kerap hadir dalam acara kenduri dan selamatan yang berkaitan dengan tradisi keagamaan maupun adat.

Nasi tumpeng juga menjadi bagian dari sajian yang sering ditemui pada peringatan Malam Satu Suro. Bentuknya yang menyerupai kerucut telah lama menjadi simbol budaya dalam berbagai upacara tradisional di Jawa.

Di lingkungan Pura Mangkunegaran Surakarta terdapat hidangan khas bernama sego golong. Nasi yang dibentuk bulat-bulat tersebut disajikan dalam rangkaian peringatan Malam Satu Suro dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Sementara itu, bubur merah putih menjadi sajian yang turut hadir dalam sejumlah kegiatan selamatan. Bubur ini terdiri atas dua warna, yakni merah dan putih, yang memiliki makna simbolis dalam tradisi masyarakat Jawa.

Jenis makanan lain yang juga dikenal adalah jenang tujuh rupa. Sajian ini terdiri atas beberapa variasi jenang yang disiapkan untuk acara adat tertentu. Kue apem turut menjadi pelengkap yang umum ditemukan dalam berbagai kegiatan masyarakat Jawa. Nama apem diyakini berasal dari kata afwun dalam bahasa Arab yang berarti permohonan maaf atau ampunan.

Perpaduan Budaya Jawa dan Islam

Tradisi kuliner Malam Satu Suro berkembang seiring proses pertemuan budaya Jawa dan Islam yang berlangsung sejak masa Kesultanan Mataram.

Sejarahnya berkaitan dengan reformasi penanggalan yang dilakukan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1633 Masehi. Melalui kebijakan tersebut, sistem Kalender Saka dipadukan dengan Kalender Hijriah sehingga lahirlah kalender Jawa yang digunakan hingga kini.

Penetapan bulan Suro sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa membuat peringatan tahun baru Jawa berlangsung bersamaan dengan 1 Muharram. Sejak saat itu, berbagai tradisi masyarakat berkembang, termasuk penyajian makanan dalam kegiatan tirakatan dan kenduri.

Pada malam pergantian tahun, warga biasanya berkumpul untuk berdoa bersama dan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat di berbagai daerah.

Asal-Usul Bubur Suro

Penyajian bubur pada bulan Muharram sering dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS yang dikenal luas di kalangan masyarakat.

Dalam cerita yang berkembang, setelah banjir besar berakhir, bahan makanan yang tersisa dikumpulkan dan dimasak bersama agar dapat dinikmati oleh seluruh penumpang kapal. Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu latar belakang tradisi memasak bubur pada bulan Muharram di sejumlah wilayah.

Masyarakat Jawa selanjutnya menyesuaikan sajian tersebut dengan bahan pangan setempat sehingga lahirlah Bubur Suro yang dikenal saat ini.

Makna Tujuh Lauk Pendamping

Dalam beberapa tradisi, Bubur Suro disajikan bersama tujuh jenis pelengkap. Angka tujuh dikaitkan dengan kata pitu dalam bahasa Jawa yang sering dihubungkan dengan pitulungan atau pertolongan.

Bahan yang digunakan antara lain kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tunggak, kacang mete, kacang koro, serta buah delima atau jeruk bali.

Penyajian tujuh pelengkap tersebut dipahami sebagai ungkapan harapan agar memperoleh keselamatan, kelancaran, dan kesejahteraan pada tahun yang baru.

Hingga kini, Bubur Suro tetap menjadi sajian yang paling identik dengan peringatan Malam Satu Suro. Bersama berbagai hidangan tradisional lainnya, makanan tersebut masih hadir dalam kegiatan kenduri dan selamatan yang diselenggarakan masyarakat Jawa di sejumlah daerah.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hidangan Khas Malam Satu Suro dan Jejak Tradisi Tahun Baru Jawa
Malam Satu Suro 2026 Sejarah Penetapan Kalender Jawa, Makna Peringatan, dan Tradisi yang Masih Dilestarikan
Indonesia-Qatar Siapkan Peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik
Garuda Muda U-12 dan U-14 Wakili Indonesia pada AFC Vietnam Hanoi International 2026
Kopaja dalam Lintasan Sejarah Transportasi Jakarta
Direktorat Kebudayaan UI Peringati Malam 1 Suro melalui Ritual Budaya dan Refleksi Diri
Kisruh PCMB SPMB 2026 di Jabar, Fortusis Minta Investigasi Menyeluruh dan Evaluasi Sistem
Tahun Baru Islam 1448 H Menteri Agama Dorong Penguatan Dialog dan Kepedulian Sosial
Menjaga Nyala di Balik Kedaton Transisi Kebudayaan Ternate di Tangan Sultan ke-49
Apakah Aman Makan Telur Setiap Hari?
Peran Media Partner Dorong Keberhasilan Penyelenggaraan IMLF-4
Ananda Sukarlan Padukan Musik Portugal dan Tanah Airku untuk Film Dokumenter Rainha Boki Raja
PP TUNAS Mengatur Akses Digital Anak Demi Keamanan dan Pertumbuhan
Kisah Rainha Boki Raja Pemutaran Film dan Diskusi Sejarah di Galeri Nasional Indonesia
Lepas Bapenda Bedas Run, KDS Ajak Warga Tingkatkan Kepatuhan Pajak
PCMB SPMB Jabar 2026 Diumumkan, Sistem Dikeluhkan Eror dan Sulit Diakses
DMDI Tiongkok Usulkan Aksara Jawi untuk Ikon Kota Bukittinggi
Kualitas Suara dan Kenyamanan Menjadi Alasan Walkman Sony Tetap Diminati
Pergeseran Teknologi Bawa Dampak pada Keberlangsungan Radio Konvensional
Piala Dunia 2026 Kunjungan Suporter Menurun Sektor Usaha Sesuaikan Target