NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Arif Setyo Budi atau Arif Onelegz merupakan seniman tari, atlet sepak bola amputasi, dan kreator konten asal Malang, Jawa Timur. Ia lahir pada 15 Mei 1987. Perjalanan hidupnya berubah setelah mengalami kecelakaan kerja di Surabaya pada 11 September 2007 yang menyebabkan kaki kanannya harus diamputasi hingga pangkal paha.
"Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saat ketika keadaan berubah dan memaksa seseorang memulai dari awal. Yang membedakan setiap orang bukan beratnya ujian, melainkan pilihan untuk bangkit, menerima kenyataan, lalu terus melangkah. Perubahan tidak terjadi sekaligus, tetapi lahir dari usaha yang dilakukan setiap hari.
Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya. Selama masih ada kemauan untuk belajar, berusaha, dan tidak mudah menyerah, selalu ada jalan untuk mencapai tujuan."
Peristiwa itu sempat membuatnya kehilangan semangat. Namun, sejak 2008 ia memilih kembali menari, berlatih, dan terus berkarya. Hingga saat ini, Arif dikenal sebagai penari breakdance berkaki satu yang aktif tampil di berbagai kegiatan seni, olahraga, serta proyek internasional yang mengangkat seni inklusif.
Perubahan hidup yang dialami Arif bukanlah akhir dari cita-citanya. Ia menyadari bahwa keadaan tidak dapat diubah, tetapi cara menjalani hidup masih bisa dipilih. Langkah itu tidak lahir secara instan. Ada proses panjang untuk menerima keadaan, melatih tubuh, lalu membangun rasa percaya diri sedikit demi sedikit.
Breakdance menjadi jalan yang membawanya kembali berdiri. Gerakan yang dahulu dilakukan dengan dua kaki harus dipelajari ulang menggunakan satu kaki. Latihan dilakukan berulang kali hingga tubuhnya mampu menyesuaikan keseimbangan. Dari proses tersebut, Arif membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan karya yang baik.
Perjalanannya kemudian membuka kesempatan tampil pada berbagai panggung. Salah satunya melalui proyek Convergence of Grace yang mempertemukan seniman Indonesia dan Inggris. Arif ikut terlibat dalam film tari Factory Devotion bersama sejumlah penari profesional. Penampilannya menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang yang terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan kondisi fisik.

Tidak berhenti di dunia tari, Arif juga aktif sebagai pemain sekaligus kapten Persama Malang, tim sepak bola amputasi. Bersama timnya, ia mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan membawa Persama Malang melaju hingga babak final pada kompetisi tahun 2026. Semangat yang sama terlihat saat ia menjalani seleksi tim nasional sepak bola amputasi Indonesia. Walau belum berhasil masuk skuad akhir, ia tetap melanjutkan latihan dan pertandingan bersama timnya.
Kegemarannya bersepeda dan mendaki gunung menjadi bagian lain dari perjalanan hidupnya. Setelah menemukan cara bersepeda menggunakan sepeda fixie, Arif kembali menikmati aktivitas luar ruangan yang sempat ia tinggalkan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan sering kali dapat diatasi melalui kemauan untuk mencoba cara yang berbeda.
Di luar kegiatan sebagai seniman dan atlet, Arif juga mengelola usaha kuliner di Kota Malang. Tempat usahanya menjadi ruang berkumpul bagi teman dan anggota komunitas. Melalui kegiatan sehari-hari, media sosial, serta pertemuan langsung, ia lebih sering menunjukkan contoh nyata daripada sekadar memberi nasihat.
Kisah Arif Onelegz mengajarkan bahwa kekuatan seseorang tidak selalu diukur dari kondisi fisik. Kesungguhan untuk bangkit setelah mengalami masa sulit menjadi nilai yang patut dihargai. Ia memilih bergerak ketika banyak orang mungkin memilih berhenti. Sikap itulah yang membuat perjalanan hidupnya mampu memberi harapan bagi banyak orang tanpa perlu kata-kata yang berlebihan.
