NARASINETWORK.COM -Isu penegakan hukum yang belakangan ramai diperbincangkan publik menjadi sorotan dalam peluncuran buku Rapor Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo ‘Kapolri Pilihan Jokowi’ karya Ahmad Bahar di Kota Cirebon.
Dalam forum tersebut, Ahmad Bahar secara terbuka menyinggung fenomena “No Viral, No Justice” yang dinilainya masih kuat dirasakan masyarakat.
Peluncuran buku itu digelar di salah satu kafe di kawasan Stadion Bima, Kota Cirebon, Selasa (10/2/2026).
Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian roadshow Ahmad Bahar ke sejumlah daerah setelah sebelumnya melakukan launching perdana di Jakarta.
Ahmad Bahar mengatakan, kehadirannya di Cirebon bertujuan memperkenalkan isi buku sekaligus membuka ruang diskusi dengan masyarakat dan insan pers di daerah.
“Sebenarnya ini bagian dari saya meluncurkan buku. Launching sudah hari Kamis kemarin di Jakarta. Setelah itu saya ke Tasik, ketemu kawan-kawan media, lalu ke Banjar, Solo, terakhir Jogja. Nah, baru sampai Cirebon tadi malam. Intinya ya ketemu kawan-kawan media,” ujar Ahmad Bahar, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, buku Rapor Merah Sang Jenderal ditulis sebagai respons atas isu-isu aktual yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Proses penulisan sendiri telah dimulai sejak Desember 2025, dengan pengumpulan data yang berlangsung lebih dari satu tahun.
"Sebagai penulis, saya terbiasa mencoba menangkap isu-isu aktual, isu-isu kekinian. Kebetulan buku ini muncul pas lagi ramai-ramainya isu Pak Kapolri yang belakangan ini viral,” ucapnya.
Bahar menjelaskan, salah satu poin utama dalam bukunya adalah kritik terhadap lamanya masa jabatan Kapolri.
Ia menilai, kekuasaan yang terlalu lama berpotensi menimbulkan persoalan serius.
"Kalau buku ini diperas, salah satunya adalah terlalu lama menjadi Kapolri. Kekuasaan itu kalau terlalu lama cenderung korup,” jelas dia.
Selain itu, ia juga menyoroti praktik kriminalisasi hukum yang dinilai masih terjadi, serta budaya setoran yang menurutnya dirasakan tidak hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh internal kepolisian.
“Di masa Pak Listyo ini, kriminalisasi hukum itu sangat menonjol. Yang agak menggelisahkan juga budaya setoran. Itu dirasakan oleh internal sendiri dan juga oleh masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, penanganan laporan masyarakat kerap bergantung pada viral atau tidaknya suatu kasus.
“Kalau masyarakat lapor atau ada persoalan, itu enggak ditanggapi kalau enggak viral. Jadi istilah ‘No Viral, No Justice’ itu memang berlaku,” ujarnya.
Bahar juga menilai, jargon Presisi yang selama ini menjadi slogan Polri belum sepenuhnya terwujud di lapangan.
“Kalau disimpulkan dari kekurangan-kekurangan itu, termasuk salah satunya tagline Presisi, sebenarnya enggak ketemu,” ucap Bahar.
Melalui peluncuran buku di Cirebon, Ahmad Bahar berharap karyanya dapat dibaca lebih luas dan menjadi bahan refleksi bersama.
“Niat saya memperkenalkan buku ini kepada masyarakat Cirebon. Siapa tahu ada masukan atau sesuatu yang bisa kita bagikan kepada masyarakat di wilayah Cirebon. Setidaknya buku ini didengar atau dibaca,” jelas dia.
Sebagai informasi, buku Rapor Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo ‘Kapolri Pilihan Jokowi’ setebal 230 halaman ini hanya dipasarkan secara daring dan telah dicetak sebanyak 12.000 eksemplar.
Buku tersebut merupakan salah satu dari puluhan karya Ahmad Bahar yang dikenal kerap mengangkat fenomena tokoh publik dan refleksi sosial budaya.
Ahmad Bahar sendiri adalah seorang penulis dan budayawan Indonesia yang dikenal luas berkat karya-karyanya yang sering mengangkat fenomena tokoh publik dan budaya.
Meskipun ia sering tampil di berbagai kegiatan peluncuran buku di Kota Cirebon dan daerah lain, ia bukan lahir atau berakar pendidikan dari Cirebon, beberapa laporan menyebut bahwa ia berasal dari Blitar, Jawa Timur dan kini berdomisili di Depok, Jawa Barat.
Ahmad Bahar dikenal sebagai penulis produktif yang telah menerbitkan puluhan hingga ratusan buku dengan berbagai tema, termasuk biografi tokoh nasional dan refleksi budaya.
Beberapa karyanya yang mendapat perhatian publik, antara lain Gibran The Next President, sebuah buku yang menyoroti sosok Gibran Rakabuming Raka dari perspektif budaya dan fenomena sosial, bukan sekadar politik.
Buku-buku prediktif tentang tokoh nasional seperti Sembilan Alasan Kenapa Memilih Jokowi dan karya lain yang membahas figur seperti Presiden Jokowi sebelum dilantik.
Ia menggambarkan dirinya bukan sebagai tokoh politik atau simpatisan partai tertentu, tetapi lebih sebagai pengamat sosial dan budaya yang mencoba mencerdaskan masyarakat lewat tulisan.
Bahar juga pernah menjelaskan bahwa tujuan tulisannya banyak tentang fenomena budaya dan refleksi sosial, meskipun tema tokoh yang dibahas sering bersinggungan dengan ranah politik.
Di luar penulisan buku, ia diketahui aktif mempromosikan literasi dan mendukung penulis lain melalui kegiatan pelatihan dan komunitas menulis.
Walaupun sering disebut sebagai penulis yang aktif meluncurkan buku di Cirebon dan tampil di berbagai media lokal di sana, kelahiran asli Ahmad Bahar bukan dari Cirebon.
Keterkaitan dengan Cirebon lebih pada kegiatan publikasi karya dan promosi karya ketimbang sebagai kota asalnya.
