Narasinetwork.com Menaruh Jejak dalam Buku 'Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy'" HPN 2026

Senin, 9 Feb 2026 11:17
    Bagikan  
Narasinetwork.com Menaruh Jejak dalam Buku 'Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy'" HPN 2026
PWI Pusat Jakarta

Narasinetwork.com berkontribusi dengan tulisan dan sketsa dalam buku Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy, hasil Kemah Budaya PWI untuk HPN 2026. Tulisan tersebut dokumentasikan kehidupan masyarakat Baduy dan nilai-nilai adat yang mereka anut.

NARASINETWORK.COM - Kegiatan Kemah Budaya merupakan bagian dari rangkaian HPN 2026 yang pertama kalinya diselenggarakan sejak HPN pertama digelar tahun 1985. Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyatakan bahwa HPN bukan hanya perayaan seremonial, melainkan ruang refleksi bagi insan pers untuk menilai peran mereka di tengah masyarakat.

“Pers memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menyampaikan berita. Pers juga bertugas menjaga nilai, merawat keragaman, dan menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa,” ujar Akhmad Munir.

Sementara itu, Ketua Panitia HPN 2026 Zulmansyah Sekedang menjelaskan bahwa penyelenggaraan HPN di Banten dirancang sebagai kerja sama lintas sektor yang memberikan manfaat nyata bagi daerah. Buku yang berisi dokumentasi perjalanan Kemah Budaya menjadi hasil konkret dari kegiatan tersebut.

“Buku ini adalah bukti bahwa HPN dapat melahirkan produk yang bertahan lebih lama daripada acara seremonial. Ia dapat dibaca kembali, didiskusikan, dan dijadikan rujukan,” ujar Zulmansyah Sekedang.

Narasinetwork.com turut serta dalam Kemah Budaya yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat untuk menyambut Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026. Kegiatan yang bertema “Belajar Mencintai dari Baduy” menjadi wadah bagi media lokal ini untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.

Erna Winarsih Wiyono sebagai perwakilan Narasinetwork.com adalah salah satu dari 41 peserta yang datang dari berbagai wilayah Indonesia, antara lain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Purwakarta, Cilegon, Kuningan, Majalengka, Serang, Yogyakarta, Lampung, Palembang, Bengkulu, Surabaya, dan Samarinda. Acara berlangsung dua hari, tanggal 16 hingga 17 Januari 2026.

“Kami melihat momen ini sebagai kesempatan berharga untuk mencatat kearifan lokal yang telah ada dan bertahan lama,” ujar Erna. Selain tulisan, ia juga membuat sketsa menggunakan kertas A4 dan pensil arang untuk mengabadikan kehidupan masyarakat Baduy luar.

Masyarakat tinggal di wilayah yang dikenal sebagai Baduy Luar atau Urang Kaluaran. Kelompok ini berbeda dengan Baduy Dalam yang tinggal lebih jauh dan lebih terisolasi. Baduy Luar menerima beberapa perkembangan dari luar, namun tetap menjalankan aturan adat yang diteruskan leluhur.

Sistem nilai yang mereka anut disebut “Pikukuh Karuhun” kumpulan aturan yang disampaikan dari orang tua kepada anak-anak, dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Karuhun tidak pergi ke mana pun. Kami semua menjalankan aturan yang mereka buat, dan berjalan di atas tanah yang sama dengan tanah yang mereka tempuh,” ujar salah satu warga Baduy Luar.

Prinsip utama dari Pikukuh adalah ungkapan “Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung” kehidupan harus dijalankan sesuai dengan kondisi yang ada, tanpa melakukan perubahan besar pada tatanan alam.

Kehidupan sehari-hari masyarakat diatur oleh aturan adat yang jelas. Mereka tidak merusak pepohonan di hutan, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak mengambil sumber daya alam lebih dari yang dibutuhkan. Setiap aturan dibuat untuk menjaga kehidupan masyarakat dan kelengkapan alam sekitar.

“Tanah adalah tempat kerja karuhun sebelum kita ada. Jangan menggunakan tanah sembarangan, karena apa yang kita lakukan pada tanah akan berpengaruh pada kehidupan kita,” jelas salah satu warga.

Kawasan hutan di sekitar pemukiman dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah hutan tutupan yang dianggap sakral; tidak boleh merusak atau mengambil apapun dari kawasan ini. Bagian kedua adalah hutan garapan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka juga menjaga kebersihan sungai yang menjadi sumber air minum dan irigasi, dengan larangan membuang sampah atau menggunakan bahan kimia yang bisa mencemari air.

Saat menanam atau memanen, mereka mengikuti cara yang diajarkan leluhur. “Alam bukan milik kita saja. Gunakan alam untuk hidup sekarang, dan jagalah agar bisa digunakan oleh anak cucu kelak,” ujar salah satu warga.

Rumah-rumah di Baduy Luar dibangun dengan bahan alam seperti bambu, kayu, dan anyaman daun. Beberapa rumah menggunakan paku untuk memperkuat struktur dan panel surya di atap untuk menghasilkan listrik dalam jumlah kecil. Namun, jaringan listrik dari luar kawasan tidak diperbolehkan masuk.

“Kami menggunakan panel surya agar bisa mengisi daya pada gadget atau menyalakan lampu kecil saat malam hari,” kata seorang pemuda di kawasan tersebut. Ia mengenakan pakaian biasa saat sehari-hari, namun menggunakan pakaian adat warna biru tua atau hitam saat acara adat.

Masyarakat Baduy Luar lebih terbuka terhadap teknologi dibandingkan Baduy Dalam. Beberapa hal yang diperbolehkan antara lain menggunakan alas kaki, kendaraan untuk bepergian keluar kawasan, deterjen di sungai tertentu, gadget untuk berkomunikasi, dan mengenakan pakaian modern. Merokok juga diperbolehkan bagi warga lokal dan wisatawan. Semua hal tersebut digunakan dengan tetap menghormati aturan adat utama.

“Bisa menggunakan barang baru yang bermanfaat, tapi tidak boleh melupakan cara hidup yang diajarkan oleh karuhun. Misalnya, tetap melakukan gotong royong saat ada teman atau tetangga yang membangun rumah atau mengalami kesulitan di ladang,” ujarnya.

Gotong royong menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Saat kegiatan berlangsung, beberapa warga sedang membantu membangun rumah baru untuk salah satu keluarga. Informasi tentang kepercayaan, agama, istiadat, dan cerita nenek moyang diteruskan secara lisan. Mereka berkomunikasi dengan dialek Bahasa Sunda Banten dan bisa berbahasa Indonesia dengan lancar saat berinteraksi dengan orang luar.

Pelanggaran aturan adat mendapatkan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahan, mulai dari teguran langsung, tugas membantu pekerjaan masyarakat, hingga diusir dari wilayah dalam kasus yang berat. Masyarakat juga percaya bahwa pelanggaran akan menyebabkan akibat dari kekuatan alam atau karuhun.

“Kalau ada orang yang merusak pohon di hutan tutupan, biasanya ia akan mengalami kesulitan dalam pekerjaan pertanian atau tanamannya tidak tumbuh baik. Ini adalah konsekuensi karena tidak menghormati aturan yang ada,” jelas seorang warga yang telah tinggal di kawasan puluhan tahun.

Bagi wisatawan yang berkunjung, terdapat aturan yang harus dipatuhi: tidak boleh mengambil barang apapun tanpa izin pemimpin adat, tidak boleh merusak tanaman atau bangunan adat, dan harus menghormati semua larangan. Beberapa rumah warga menyediakan tempat tinggal dengan fasilitas sederhana dan makanan dari bahan lokal yang ditanam sendiri.

Masyarakat Baduy Luar menerapkan aturan tersebut untuk melindungi budaya dan menjaga alam agar tetap layak huni bagi generasi mendatang. “Kami ingin orang luar mengetahui tentang cara hidup Baduy, tapi mereka harus datang dengan sikap hormat terhadap apa yang ada di sini,” ujar salah satu warga.

 

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Cipta Bella Garut Ramai Pengunjung, Kenyamanan Dipuji, Namun Pengelolaan Perlu Terus Ditingkatkan
Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diharapkan 28-29 Maret Masyarakat Diminta Sesuaikan Jadwal Perjalanan Kembali
Krisis Pangan Dunia Meningkat Indonesia Dorong Swasembada Lewat Deregulasi dan Modernisasi
Kebuntuan Negosiasi Gaji dan Kontrak Lebih dari 1.000 Staf ABC Lakukan Mogok Kerja 24 Jam
Celah Tenang di Sudut Barat Nusa Ceningan
Shelter Pererenan Paduan Arsitektur Tropis dan Hidangan Mediterania
Menikmati Senja dan Kolam Infinity di Timbis Beach Club
Nahas! Wisatawan Asal Baleendah, Terseret Ombak Pantai Cilame Garut
Antara Target dan Realita: Ketua Komisi D Cecep Suhendar Beberkan Masalah Ketenagakerjaan
Aplikasi Be My Eyes Fasilitasi Bantuan Visual Bagi Penyandang Gangguan Penglihatan Lewat Jaringan Relawan
Tak Mengindahkan Informasi Publik, UPT PJU Kabupaten Bandung Malah Bungkam dan Tutup Mata
Dongeng Anak Narasinetwork "Matahari dari Eragama"
SD Negeri Wobarek Distrik Kurulu Bukti Nyata Semangat Belajar di Papua Pegunungan
The Orient Jakarta Hadirkan Nuansa Tradisional di Jantung Bisnis Sudirman
Ekspansi Alaya Hotels dan Resorts Melalui Unit Hunian Eksklusif di Ubud
Tarya Witarsa: Sampah Tak Pernah Selesai, Antara Teknologi, Kebiasaan, dan Kesadaran
Pariwisata Jadi Harapan PAD, Komisi B Perkuat Fungsi Pengawasan
Green School Bali Terapkan Sistem Energi Terbarukan dan Kurikulum Ekologi Mandiri
Rahasia Masak Ketupat Empuk dan Tidak Cepat Basi
Kepemimpinan Gus Haris dan Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Budaya di Probolinggo