NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Circle 4 Autism menggelar diskusi sehari penuh di Menara Bidakara 1 dengan mengusung tema "Lebih dari Sekadar Kuota: Neurodivergen, Berkarya, Indonesia". Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Prof. Rhenald Kasali, komponis Ananda Sukarlan, praktisi hukum dari HHP Law Firm, pelatih karier Circle 4 Autism Taufiq Hidayat, serta tim sumber daya manusia PT United Tractors yang dipimpin oleh Nurdiansyah Budiman. Turut hadir sejumlah individu neurodivergen yang telah memiliki pengalaman kerja untuk berbagi kisah nyata.
Istilah neurodivergen merujuk pada kondisi di mana cara otak berkembang dan bekerja berbeda dari pola umum yang dianggap standar. Hal ini mencakup spektrum autisme, sindrom Asperger, sindrom Tourette, disleksia, dan kondisi serupa lainnya. Setiap kondisi tersebut membawa karakteristik tersendiri, mulai dari cara memproses informasi, berkomunikasi, hingga merespons lingkungan sekitar.
Circle 4 Autism merupakan bagian dari program Yayasan Autisma Indonesia. Lembaga ini didirikan pada tahun 1997, seiring dengan mulai dikenalnya kasus autisme di Indonesia. Pada awal berdirinya, lembaga berfokus pada penyebaran informasi yang akurat mengenai ciri-ciri kondisi tersebut dan langkah penanganan sejak dini bagi anak-anak. Seiring berjalannya waktu, ruang lingkup kegiatannya meluas, meliputi kerja sama dengan pemerintah dalam penyusunan peraturan terkait disabilitas, upaya perlindungan hak penyandang autisme dan kondisi neurodivergen lainnya, serta keikutsertaan dalam jaringan organisasi se-Asia Tenggara sebagai anggota ASEAN Autism Network.
Sejak tahun 2025, Dewan Pelindung Yayasan Autisma Indonesia dijabat oleh Muhammad Farhan, Ananda Sukarlan, dan Sarah Bey Hadad.
Ananda Sukarlan yang juga bertindak sebagai pemandu diskusi menyampaikan bahwa acara ini terbuka untuk umum, namun ditujukan secara khusus bagi tiga kelompok. Kelompok tersebut meliputi orang tua yang memerlukan informasi mengenai persiapan anak dengan kondisi neurodivergen memasuki dunia kerja, praktisi sumber daya manusia yang ingin memahami cara menyesuaikan lingkungan kerja agar dapat diakses, serta masyarakat yang meyakini bahwa kemampuan seseorang tidak dapat dibatasi oleh perbedaan cara kerja otak. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 17.00 WIB.
Diskusi yang dilaksanakan pada pukul 13.00 hingga 15.00 bersama Nurdiansyah Budiman, Taufiq Hidayat, dan Ananda Sukarlan menghasilkan empat kesepahaman utama. Pertama, individu neurodivergen memiliki kelebihan tersendiri seperti ketelitian, daya fokus mendalam pada bidang tertentu, atau cara pandang yang unik, sehingga diposisikan sebagai aset, bukan sekadar kewajiban yang harus dipenuhi. Penerimaan mereka di lingkungan kerja merupakan pilihan yang memberikan manfaat bagi perusahaan. Kedua, peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia memberikan perlindungan bagi pekerja neurodivergen maupun perusahaan yang menerapkan prinsip inklusif. Ketiga, peluang untuk memperoleh penghidupan tidak terbatas pada posisi sebagai karyawan. Berwirausaha dan mencapai kemandirian ekonomi merupakan jalur yang memiliki kedudukan setara. Keempat, melalui pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, proses persiapan memasuki dunia kerja dapat dijalankan secara bertahap.
Ketua Yayasan Autisma Indonesia, Dr. Adriana S. Ginanjar, menyatakan bahwa sistem sosial dan kebijakan yang ada saat ini masih menjadi hambatan utama. Tantangan pertama berkaitan dengan perbedaan pola komunikasi dan cara berinteraksi yang sering disalahartikan sebagai kurangnya kemampuan atau semangat bekerja. Individu neurodivergen dapat memerlukan penjelasan yang lebih terperinci, waktu pemrosesan yang cukup, atau penyesuaian cara penyampaian informasi agar dapat berfungsi dengan baik.
Ia menjelaskan bahwa pada kenyataannya, banyak penyandang autisme dan kondisi neurodivergen lainnya mampu melaksanakan tugas dengan baik apabila bidang pekerjaan yang dijalankan sesuai dengan minat dan kemampuan khususnya, uraian tugas disampaikan secara jelas dan terperinci, serta lingkungan kerja tersusun dengan teratur dan minim gangguan berlebih.
Tantangan kedua bersumber dari pandangan yang berkembang di masyarakat. Istilah neurodivergen sering disamakan dengan keterbatasan, padahal hal utama yang ada adalah perbedaan. Banyak di antaranya memiliki kepekaan khusus, daya ingat yang kuat, atau kemampuan analisis yang menonjol. Mereka dapat berkontribusi dan mengembangkan potensi apabila diberikan kesempatan serta bimbingan yang sesuai dengan karakteristiknya.
Salah satu contoh nyata disampaikan melalui kisah Ananda Sukarlan, komponis dan pianis yang hidup dengan sindrom Asperger dan Tourette, keduanya termasuk dalam lingkup spektrum neurodivergen. Seniman yang disebut harian Sydney Morning Herald sebagai salah satu pianis terkemuka dunia ini menunjukkan bahwa perbedaan cara kerja otak yang dimiliki tidak menjadi penghalang untuk meraih prestasi. Ia telah menerima penghargaan negara dari dua negara di Eropa, yaitu Cavaliere Ordine della Stella d'Italia yang dianugerahkan Presiden Italia dan Real Ordine Isabel la Catolica dari Kerajaan Spanyol. Pada tahun 2020, ia juga diangkat sebagai anggota kehormatan Rotary Club Internasional.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut pendiri Yayasan Autisma Indonesia dr. Melly Budhiman, jajaran pengurus lembaga, Ketua Rotary Club cabang Menteng Nana Lim, serta Direktur Ananda Sukarlan Center Chendra Effendy Panatan.
