NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Sastra dan budaya adalah dua hal yang tak terpisahkan dari peradaban manusia. Melalui kata-kata, kita merekam sejarah dan perasaan. Lewat kain dan busana, turut menjaga identitas dan kearifan lokal.
Narasinetwork.com berkesempatan berbincang langsung dengan sosok yang mampu menyatukan kedua dunia tersebut dengan apik. Beliau adalah Ibu Rini Intama, seorang sastrawati yang juga pendiri brand fashion Dinayra.
"Menemukan makna bukan hanya pada apa yang terlihat, tetapi pada kisah yang membentuk kita. Kata-kata dan kain hanyalah wadah yang membawa inti dari jati diri"
Berikut petikan perbincangan kami ;
NN : Buku Molase menjadi karya terbaru Ibu. Bisa Ibu ceritakan bagaimana proses penciptaan dan apa yang menjadi sumber gagasan utama dari puisi-puisi ini?
RI : Penulisan buku ini berjalan dengan tempo yang berubah-ubah. Ada saat saya menulis dengan santai, namun ada juga momen di mana ide datang begitu cepat sehingga saya harus mengejarnya. Itulah sebabnya puisi-puisi di dalamnya saya sebut sebagai perjalanan puitik, karena prosesnya memakan waktu bertahun-tahun.
Semuanya bermula dari rasa kehilangan. Saya menulis tentang kenangan yang memudar, abrasi yang menggerus daratan, kampung-kampung yang tenggelam, hingga sejarah pabrik-pabrik gula yang perlahan hilang. Bagi saya, perasaan yang paling jujur dan kuat itulah yang pantas dituangkan ke dalam tulisan. Seolah-olah saya terjebak dalam takdir untuk menemukan kata-kata yang mewakili apa yang saya rasakan.
NN : Mengapa Ibu memilih judul Molase dan bagaimana Ibu menghubungkan istilah tersebut dengan kondisi sosial serta lingkungan yang terjadi saat ini?
RI : Molase sering dianggap hanya sebagai sisa produksi, ampas yang kotor, atau limbah industri gula. Padahal, menurut pandangan saya, molase lebih dari itu. Ia menjadi kunci atau cermin yang menunjukkan bahwa ada hal-hal pahit yang pernah terjadi di negeri ini. Krisis yang terjadi di wilayah pesisir sangat kompleks, dan masalah abrasi menjadi salah satu yang paling nyata. Namun di tengah semua persoalan itu, saya tetap bisa melihat sisi indah sekaligus menyedihkan. Dua hal yang bertolak belakang namun hadir bersamaan. Pantura, misalnya, bagaikan jalur waktu yang menyimpan jutaan cerita dan kerinduan.
NN : Bagaimana gaya penulisan Ibu dalam buku ini dan apa pesan yang paling ingin Ibu sampaikan kepada para pembaca?
RI : Saya berusaha menyeimbangkan antara pemilihan kata dan perasaan. Kata-kata tidak hanya menunjukkan arah, tetapi juga menyentuh sisi terdalam jiwa. Bagi saya, ini adalah tinta nyata dari puisi pesisir yang penuh cerita. Mulai dari air mata nelayan yang kehilangan tempat tinggal, hingga gambaran tentang krisis yang terjadi. Batas antara sejarah dan mitos, daratan dan lautan, menjadi satu kesatuan yang utuh.
Tugas saya adalah mengubah kisah tersebut menjadi narasi yang indah namun tetap menyampaikan pesan yang kuat. Buku ini bukan hasil penelitian akademis. Ini hanya sebagian kecil dari apa yang ingin saya sampaikan. Saya ingin pembaca melihat molase bukan lagi sebagai sisa, melainkan sebagai kebenaran tentang warisan, kerusakan alam, dan harapan. Hidup itu rumit, dan di situlah letak kemanusiaan kita. Semoga puisi-puisi ini tidak hanya dibaca, tapi juga direnungi.
NN : Selain dunia tulis-menulis, Ibu juga mendirikan brand Dinayra dengan tagline "A Touch of Heritage". Apa konsep dasar dan tujuan utama berdirinya brand ini?
RI : Dinayra hadir untuk membawa unsur budaya Indonesia ke dalam busana modern. Kami menggunakan wastra, yaitu kain tradisional yang dibuat dengan tangan. Kata wastra sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain, namun maknanya jauh lebih luas karena menyimpan filosofi, simbol, dan nilai budaya masyarakat setempat.
Setiap daerah memiliki corak dan teknik sendiri yang mencerminkan kehidupan dan kepercayaan mereka. Kami ingin melestarikan nilai-nilai tersebut dan menghadirkannya dalam bentuk pakaian yang sesuai dengan zaman sekarang. Setiap desain dibuat dengan detail tinggi dan tetap nyaman dipakai.
NN : Siapa target pengguna dari produk Dinayra dan apa alasan khusus di balik pemilihan nama Dinayra sebagai identitas brand?
RI : Produk kami ditujukan bagi mereka yang menyukai desain berbeda, busana yang sopan, dan mempertimbangkan makna di balik setiap pilihan pakaian. Mereka yang menghargai budaya, kualitas, dan keunikan, serta peduli pada cara produksi yang baik. Sementara itu, nama Dinayra dipilih karena terdengar unik dan mudah diingat, baik di tingkat lokal maupun internasional. Nama ini juga memberikan kesan positif, bahwa busana dapat memperbaiki penampilan seseorang sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.
NN : Bisa Ibu bagikan sedikit tentang perjalanan hidup Ibu dan bagaimana keterkaitan antara dunia sastra dengan dunia fashion yang Ibu geluti saat ini?
RI : Saya lahir di Garut, Jawa Barat, tanggal 21 Februari. Saya dikenal sebagai penulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karya saya sudah dimuat di berbagai media dan buku antologi, serta nama saya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia.
Saya sudah suka menulis sejak sekolah menengah pertama meski latar belakang pendidikan saya adalah Teknik Informatika. Selain menulis, saya juga mengelola lembaga pendidikan dan aktif di berbagai komunitas seni. Baik dalam menulis maupun mendesain busana, saya selalu berusaha menyampaikan cerita dan nilai.
Molase berbicara tentang sejarah, alam, dan kehidupan manusia melalui kata-kata. Sementara Dinayra menyampaikan warisan budaya melalui kain dan desain. Keduanya sama-sama berupaya menjaga dan menghadirkan sesuatu yang berharga agar tidak hilang ditelan zaman.
**
