NARASINETWORK.COM - TUBAN, Pemerintah Kabupaten Tuban memperingati Hari Jadi Kabupaten Tuban setiap tanggal 12 November. Momentum ini merujuk pada upacara pelantikan Raden Haryo Ronggolawe sebagai Adipati Tuban pertama oleh Raja Majapahit, Raden Wijaya, pada tahun 1293. Ronggolawe merupakan putra dari Arya Wiraraja, seorang tokoh politik dari Sumenep Madura. Berdasarkan catatan kronik Jawa Timur, figur Ronggolawe menempati posisi penting saat pembukaan Hutan Tarik yang menjadi cikal bakal pendirian Kerajaan Majapahit, serta memimpin pertahanan laut ketika menghalau serangan pasukan Dinasti Yuan asal Mongol di wilayah pesisir utara.
Konflik bersenjata antara pihak Kadipaten Tuban dan istana Majapahit pecah akibat ketidakpuasan politik terhadap pembagian jabatan di struktur pemerintahan pusat. Ronggolawe menyampaikan protes terbuka kepada Raden Wijaya atas pengangkatan Nambi sebagai Rakryan Patih, posisi yang dinilai lebih tepat diberikan kepada pamannya, Lembu Sora. Situasi ini dimanfaatkan oleh seorang tokoh istana bernama Mahapati untuk memicu perselisihan internal. Ketegangan tersebut berujung pada pertempuran di Sungai Tambak Beras, Jombang, pada tahun 1295, saat Ronggolawe gugur saat berduel melawan panglima militer Majapahit bernama Kebo Anabrang.
Bagi warga Kabupaten Tuban, figur Ronggolawe diposisikan sebagai tokoh perjuangan yang menegakkan keadilan dari tindakan kesewenang-wenangan politik. Karakteristik kepemimpinan sang adipati yang bersikap jujur, terbuka, serta tegas memengaruhi pembentukan sifat masyarakat pesisir utara Jawa Timur saat ini. Warga setempat memandang keputusan politik Ronggolawe pada masa lampau bukan sebagai bentuk pengkhianatan kepada negara, melainkan tindakan koreksi moral untuk meluruskan tatanan birokrasi pemerintahan Majapahit yang dianggap tidak adil.
Situs pemakaman yang diyakini sebagai petilasan Raden Haryo Ronggolawe berada di Dukuh Kajongan, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban. Area cagar budaya ini terletak dekat pusat kota dan berada di sekitar pemukiman penduduk setempat. Kompleks makam tersebut menyimpan beberapa nisan kuno yang dipercaya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sang adipati beserta para pengikut militer setianya. Lokasi ini menjadi pusat kegiatan ritual tahunan yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat untuk menghormati sejarah kepemimpinan daerah.
Pemerintah daerah setempat menerapkan protokol resmi yang mewajibkan jajaran pejabat daerah melakukan kegiatan ziarah ke makam Sidomulyo. Agenda kunjungan kerja ini dilaksanakan secara rutin oleh Bupati Tuban beserta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah setiap menjelang upacara puncak peringatan hari jadi kota. Ritual birokrasi ini bertujuan untuk mengingat kembali asal-usul pembentukan pemerintahan daerah sekaligus sebagai bentuk penghormatan formal terhadap pendiri pertama struktur administrasi wilayah Kabupaten Tuban.
Kisah perjuangan sang adipati juga terekam melalui penamaan satwa bernama kuda perang jantan yang diberi nama Nilam Umbara. Berdasarkan narasi lisan yang berkembang di lingkungan masyarakat, hewan tersebut dipercaya memiliki insting kuat saat menolak dipasang pelana menjelang keberangkatan pasukan Tuban menuju medan perang di Jombang. Cerita rakyat ini diwariskan secara turun-temurun melalui kesenian tradisional seperti pertunjukan ketoprak, wayang orang, serta pagelaran tari kolosal yang diproduksi oleh seniman lokal.
Pemerintah Kabupaten Tuban mengadopsi visualisasi satwa tersebut ke dalam lambang resmi daerah berupa gambar kuda hitam dengan posisi kepala menengok ke arah belakang. Secara administratif, simbol tersebut bermakna perintah agar masyarakat selalu melihat aspek sejarah masa lalu sebagai landasan pembangunan wilayah ke depan. Identitas visual ini juga diaplikasikan pada fasilitas publik, nama jalan protokol, nama stadion olahraga Loka Jaya, hingga menjadi julukan resmi bagi tim sepak bola lokal Persatu Tuban.