Hutan Tarik dan Kepemimpinan Adipati Pertama Tuban "Ronggolawe"

Jumat, 22 May 2026 05:42
    Bagikan  
Hutan Tarik dan Kepemimpinan Adipati Pertama Tuban "Ronggolawe"
Istimewa

Ronggolawe memiliki peran besar dalam pembukaan Hutan Tarik yang menjadi asal-usul Majapahit serta memimpin pertahanan laut melawan pasukan Mongol.

NARASINETWORK.COM - TUBAN, Pemerintah Kabupaten Tuban memperingati Hari Jadi Kabupaten Tuban setiap tanggal 12 November. Momentum ini merujuk pada upacara pelantikan Raden Haryo Ronggolawe sebagai Adipati Tuban pertama oleh Raja Majapahit, Raden Wijaya, pada tahun 1293. Ronggolawe merupakan putra dari Arya Wiraraja, seorang tokoh politik dari Sumenep Madura. Berdasarkan catatan kronik Jawa Timur, figur Ronggolawe menempati posisi penting saat pembukaan Hutan Tarik yang menjadi cikal bakal pendirian Kerajaan Majapahit, serta memimpin pertahanan laut ketika menghalau serangan pasukan Dinasti Yuan asal Mongol di wilayah pesisir utara.

Konflik bersenjata antara pihak Kadipaten Tuban dan istana Majapahit pecah akibat ketidakpuasan politik terhadap pembagian jabatan di struktur pemerintahan pusat. Ronggolawe menyampaikan protes terbuka kepada Raden Wijaya atas pengangkatan Nambi sebagai Rakryan Patih, posisi yang dinilai lebih tepat diberikan kepada pamannya, Lembu Sora. Situasi ini dimanfaatkan oleh seorang tokoh istana bernama Mahapati untuk memicu perselisihan internal. Ketegangan tersebut berujung pada pertempuran di Sungai Tambak Beras, Jombang, pada tahun 1295, saat Ronggolawe gugur saat berduel melawan panglima militer Majapahit bernama Kebo Anabrang.
Bagi warga Kabupaten Tuban, figur Ronggolawe diposisikan sebagai tokoh perjuangan yang menegakkan keadilan dari tindakan kesewenang-wenangan politik. Karakteristik kepemimpinan sang adipati yang bersikap jujur, terbuka, serta tegas memengaruhi pembentukan sifat masyarakat pesisir utara Jawa Timur saat ini. Warga setempat memandang keputusan politik Ronggolawe pada masa lampau bukan sebagai bentuk pengkhianatan kepada negara, melainkan tindakan koreksi moral untuk meluruskan tatanan birokrasi pemerintahan Majapahit yang dianggap tidak adil.
Situs pemakaman yang diyakini sebagai petilasan Raden Haryo Ronggolawe berada di Dukuh Kajongan, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban. Area cagar budaya ini terletak dekat pusat kota dan berada di sekitar pemukiman penduduk setempat. Kompleks makam tersebut menyimpan beberapa nisan kuno yang dipercaya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sang adipati beserta para pengikut militer setianya. Lokasi ini menjadi pusat kegiatan ritual tahunan yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat untuk menghormati sejarah kepemimpinan daerah.
Pemerintah daerah setempat menerapkan protokol resmi yang mewajibkan jajaran pejabat daerah melakukan kegiatan ziarah ke makam Sidomulyo. Agenda kunjungan kerja ini dilaksanakan secara rutin oleh Bupati Tuban beserta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah setiap menjelang upacara puncak peringatan hari jadi kota. Ritual birokrasi ini bertujuan untuk mengingat kembali asal-usul pembentukan pemerintahan daerah sekaligus sebagai bentuk penghormatan formal terhadap pendiri pertama struktur administrasi wilayah Kabupaten Tuban.
Kisah perjuangan sang adipati juga terekam melalui penamaan satwa bernama kuda perang jantan yang diberi nama Nilam Umbara. Berdasarkan narasi lisan yang berkembang di lingkungan masyarakat, hewan tersebut dipercaya memiliki insting kuat saat menolak dipasang pelana menjelang keberangkatan pasukan Tuban menuju medan perang di Jombang. Cerita rakyat ini diwariskan secara turun-temurun melalui kesenian tradisional seperti pertunjukan ketoprak, wayang orang, serta pagelaran tari kolosal yang diproduksi oleh seniman lokal.
Pemerintah Kabupaten Tuban mengadopsi visualisasi satwa tersebut ke dalam lambang resmi daerah berupa gambar kuda hitam dengan posisi kepala menengok ke arah belakang. Secara administratif, simbol tersebut bermakna perintah agar masyarakat selalu melihat aspek sejarah masa lalu sebagai landasan pembangunan wilayah ke depan. Identitas visual ini juga diaplikasikan pada fasilitas publik, nama jalan protokol, nama stadion olahraga Loka Jaya, hingga menjadi julukan resmi bagi tim sepak bola lokal Persatu Tuban.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Cabang Madiun Perkuat Komitmen Berikan Pelayanan Terbaik
Langkah Nyata RSUD Majalaya & IDI Kabupaten Bandung Temukan Potensi Thalassemia Sejak Dini
NARASINETWORK.COM Jadi Media Partner FESPIN XIII 2026, Perkuat Publikasi Diplomasi Budaya Asia
Mentan Amran Realisasikan Bantuan Alsintan bagi Buruh Tani di Karawang
MTQ Nasional ke-31 di Semarang Bahas Keilmuan Al-Qur’an dan Transformasi Dakwah di Era AI
PMI Manufaktur Indonesia Turun Tipis pada Agustus 2026, Kemenperin Dorong Penguatan Industri dan Ekspor
Gencarkan Penertiban Pajak, Bapenda Kabupaten Bandung Gelar Operasi Gabungan 3 Hari
KDS Dukung Raperda Pornografi, Edukasi dan Pendampingan Anak Harus Diperkuat
Kawal Perubahan APBD 2026, Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Bandung Tegaskan Anggaran Harus Bekerja untuk Rakyat
Tri Suhartanto ke Polresta Bandung, Rekam Jejaknya Penuh Lika-liku
Warga Jongor di Bandung, Turun Tangan Perbaiki Langsung Jalan yang Rusak
Penelusuran Rokok Ilegal di Kabupaten Bandung Mulai Diungkap, Satpol PP Gandeng Bea Cukai
Program Pentahelix Dibentuk, Camat Ciparay Dorong Mitigasi Sejak Dini
Pentahelix Dibentuk, Kapolsek Ciparay Siap Dukung dan Kawal Program Pemerintah
Reses Ala Ketua DPRD Kabupaten Bandung Hj. Reni Rahayu Fauzi Bersama Konstituen
Lampu Jalan Mati di Dekat Kantor PLN Baleendah, Keselamatan Pengendara Dipertaruhkan
Asep Ikhsan di Dikpol Demokrat Jabar: "Wakil Rakyat Tidak Cukup Hanya Hadir di Sidang!"
Perkuat Silaturahmi, Jajaran Fraksi Partai Demokrat Kabupaten Bandung Gelar Lomba Rakyat yang Meriah
BBWS CimanCis Beri Santunan dan Bantuan Pendidikan untuk Keluarga Korban Pohon Tumbang di Cirebon
Reses Faisal Radi: Warga Soroti Bukti Nyata Pembangunan di Cangkuang