Orbit Bulan Perlahan Menjauh Kecepatan Rotasi Bumi Terdeteksi Melambat

Jumat, 15 May 2026 02:20
    Bagikan  
Orbit Bulan Perlahan Menjauh Kecepatan Rotasi Bumi Terdeteksi Melambat
Istimewa

Bulan bergerak menjauhi Bumi sekitar 3,8 sentimeter per tahun akibat interaksi gaya pasang surut air laut. Meski tidak berdampak langsung bagi kehidupan manusia saat ini, fenomena astronomis ini secara bertahap memperlambat rotasi Bumi.

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Jarak antara Bumi dan Bulan dilaporkan tidak bersifat statis, melainkan terus berubah seiring waktu. Satelit alami Bumi tersebut terdeteksi bergerak menjauh secara perlahan dengan kecepatan sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Pengukuran akurat ini diperoleh melalui Lunar Laser Ranging Experiment menggunakan reflektor yang ditinggalkan oleh misi Apollo milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di permukaan Bulan sejak tahun 1960-an.

Meskipun pergeseran posisi ini memicu berbagai pembahasan, penduduk Bumi tidak merasakan efek langsung dari fenomena tersebut saat ini. Proses perubahan jarak ini berlangsung dalam skala waktu astronomis yang sangat lambat, sehingga membutuhkan waktu ratusan juta tahun untuk memicu perubahan fisik yang nyata di permukaan planet. Kehidupan manusia dan aktivitas harian di seluruh dunia masih berjalan normal tanpa gangguan dari pergeseran posisi objek langit tersebut.
Secara ilmiah, fenomena menjauhnya Bulan disebabkan oleh interaksi gaya pasang surut air laut di Bumi. Gaya gravitasi Bulan menarik air laut sehingga menciptakan tonjolan pasang. Karena kecepatan rotasi Bumi berputar lebih cepat daripada kecepatan Bulan mengelilingi Bumi, tonjolan air laut ini mendorong posisi Bulan ke depan dan mentransfer energi orbital. Tambahan energi kinetik inilah yang membuat lintasan orbit Bulan melebar dan menjauh dari Bumi.
Efek akumulatif dari perpindahan energi ini berpotensi mengubah durasi waktu harian di Bumi akibat perlambatan kecepatan rotasi planet. Studi geologi menunjukkan bahwa sekitar 1,4 miliyar tahun lalu, satu hari di Bumi hanya berlangsung selama 18 jam. Para peneliti memperkirakan bahwa penurunan kecepatan putaran Bumi akan menambah durasi waktu harian menjadi 25 jam dalam kurun waktu sekitar 200 juta tahun yang akan datang.
Selain perubahan waktu, berkurangnya daya tarik gravitasi akibat jarak yang merenggang akan memengaruhi kekuatan pasang surut air laut global. Pasang surut air laut diproyeksikan akan melemah, yang dapat memengaruhi pergerakan arus laut serta habitat mahluk hidup di wilayah pesisir. Penurunan kekuatan gravitasi ini juga dapat memengaruhi kestabilan poros rotasi Bumi, sehingga memicu fluktuasi cuaca dan pergeseran iklim global dalam jangka panjang.
Kondisi visual langit malam juga akan mengalami perubahan karena ukuran tampak Bulan dari permukaan Bumi terlihat mengecil. Intensitas pantulan cahaya Matahari dari permukaan Bulan akan berkurang, sehingga membuat suasana malam hari menjadi lebih gelap dibandingkan saat ini. Fenomena astronomis seperti Gerhana Matahari Total juga diprediksi akan terus berkurang frekuensinya dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya dari pandangan dalam waktu 600 juta tahun ke depan.
Para ahli menegaskan bahwa Bulan tidak akan lepas sepenuhnya dari gravitasi Bumi karena proses menjauh ini akan berhenti ketika kedua objek mencapai titik pasang surut terkunci. Pada fase tersebut, satu kali rotasi Bumi akan memiliki durasi yang sama dengan satu kali revolusi Bulan. Kendati demikian, sistem tata surya diperkirakan akan mengalami perubahan total akibat fase kematian Matahari yang membesar menjadi bintang raksasa merah dalam kurun waktu 5 miliyar tahun ke depan, jauh sebelum titik keseimbangan orbit tersebut tercapai.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hari Ini Terakhir, Adira Experience Day Fasilitasi Test Drive hingga Promo Pembiayaan Berhadiah Kulkas 2 Pintu
Kebersamaan Makin Solid! Keseruan Gathering AxI Adira Finance Cabang Madiun
Adira Finance Kembali Gelar Program HARCILNAS 2026 dengan Hadiah Pelunasan Cicilan, Begini Caranya
Reses di Ciparay: Warga Bicara, H. Asep Ikhsan Siap Kawal Aspirasi sampai Jadi Program Nyata
SATRIA 2026 IKIP Siliwangi: Pengenalan Kampus dengan Pendekatan Humanis dan Berbasis Karakter
Mau Hadiah Langsung Kulkas 2 Pintu? Yuk, Hadiri Adira Experience Day 2026, Catat Tanggalnya
Erick Thohir Sampaikan Pesan Prabowo pada Hari Pramuka ke-65, Dorong Peran Pemuda Hadapi Tantangan Zaman
Pemerintah Percepat Penanganan Pascagempa di Sejumlah Wilayah NTT
Harga Emas Dunia dan Antam Proyeksi Harga, Faktor Penggerak, dan Strategi Pembelian
A Mother’s Final Embrace "Woman Found Holding Her Baby Beneath the Rubble After Flores Earthquake"
Urban Raga Tampilkan Eksperimen Tari dan Teks pada SIPFest 2026
Pameran tunggal Ireng Halimun  “My Artistic Soul”, digelar di Koi Kemang, Jakarta, pada 11–31 Agustus 2026
Gempa M 7,7 Guncang NTT, 38 Orang Meninggal dan Lebih dari 2.000 Warga Mengungsi
Gathering Nasabah Adira Finance Cabang Madiun Pererat Silaturahmi dan Kedekatan dengan Nasabah
KUNTARI’s Mutu Beton: Unorthodox Sounds at Galeri Salihara
KUNTARI Presents Mutu Beton at Galeri Salihara as Part of SIPFest 2026
Dari 10 Kata Siswa SMP Daarul Ma’arif Semper Timur Belajar Menulis Puisi
Konferprov PWI Jawa Barat 2026: Dua Kandidat Berebut Kursi Ketua, Persaingan Menghangat
Bapenda Kabupaten Bandung Perkuat Akurasi Penerimaan Retribusi Daerah
Kebakaran Gunung Bromo Meluas 176 Hektare Lahan Terbakar dan Wisata Ditutup