NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Jarak antara Bumi dan Bulan dilaporkan tidak bersifat statis, melainkan terus berubah seiring waktu. Satelit alami Bumi tersebut terdeteksi bergerak menjauh secara perlahan dengan kecepatan sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Pengukuran akurat ini diperoleh melalui Lunar Laser Ranging Experiment menggunakan reflektor yang ditinggalkan oleh misi Apollo milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di permukaan Bulan sejak tahun 1960-an.
Meskipun pergeseran posisi ini memicu berbagai pembahasan, penduduk Bumi tidak merasakan efek langsung dari fenomena tersebut saat ini. Proses perubahan jarak ini berlangsung dalam skala waktu astronomis yang sangat lambat, sehingga membutuhkan waktu ratusan juta tahun untuk memicu perubahan fisik yang nyata di permukaan planet. Kehidupan manusia dan aktivitas harian di seluruh dunia masih berjalan normal tanpa gangguan dari pergeseran posisi objek langit tersebut.
Secara ilmiah, fenomena menjauhnya Bulan disebabkan oleh interaksi gaya pasang surut air laut di Bumi. Gaya gravitasi Bulan menarik air laut sehingga menciptakan tonjolan pasang. Karena kecepatan rotasi Bumi berputar lebih cepat daripada kecepatan Bulan mengelilingi Bumi, tonjolan air laut ini mendorong posisi Bulan ke depan dan mentransfer energi orbital. Tambahan energi kinetik inilah yang membuat lintasan orbit Bulan melebar dan menjauh dari Bumi.
Efek akumulatif dari perpindahan energi ini berpotensi mengubah durasi waktu harian di Bumi akibat perlambatan kecepatan rotasi planet. Studi geologi menunjukkan bahwa sekitar 1,4 miliyar tahun lalu, satu hari di Bumi hanya berlangsung selama 18 jam. Para peneliti memperkirakan bahwa penurunan kecepatan putaran Bumi akan menambah durasi waktu harian menjadi 25 jam dalam kurun waktu sekitar 200 juta tahun yang akan datang.
Selain perubahan waktu, berkurangnya daya tarik gravitasi akibat jarak yang merenggang akan memengaruhi kekuatan pasang surut air laut global. Pasang surut air laut diproyeksikan akan melemah, yang dapat memengaruhi pergerakan arus laut serta habitat mahluk hidup di wilayah pesisir. Penurunan kekuatan gravitasi ini juga dapat memengaruhi kestabilan poros rotasi Bumi, sehingga memicu fluktuasi cuaca dan pergeseran iklim global dalam jangka panjang.
Kondisi visual langit malam juga akan mengalami perubahan karena ukuran tampak Bulan dari permukaan Bumi terlihat mengecil. Intensitas pantulan cahaya Matahari dari permukaan Bulan akan berkurang, sehingga membuat suasana malam hari menjadi lebih gelap dibandingkan saat ini. Fenomena astronomis seperti Gerhana Matahari Total juga diprediksi akan terus berkurang frekuensinya dan diperkirakan akan hilang sepenuhnya dari pandangan dalam waktu 600 juta tahun ke depan.
Para ahli menegaskan bahwa Bulan tidak akan lepas sepenuhnya dari gravitasi Bumi karena proses menjauh ini akan berhenti ketika kedua objek mencapai titik pasang surut terkunci. Pada fase tersebut, satu kali rotasi Bumi akan memiliki durasi yang sama dengan satu kali revolusi Bulan. Kendati demikian, sistem tata surya diperkirakan akan mengalami perubahan total akibat fase kematian Matahari yang membesar menjadi bintang raksasa merah dalam kurun waktu 5 miliyar tahun ke depan, jauh sebelum titik keseimbangan orbit tersebut tercapai.