NARASINETWORK.COM - Jakarta, Masalah bullying di lingkungan sekolah merupakan isu yang memerlukan perhatian serius dan mendesak. Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dikembangkan, salah satunya adalah Program SEMANTIK (“Semangat Timur Kami”), sebuah inisiatif program yang diluncurkan pada 4 Januari 2021 oleh Erna W. Wiyono, seorang Kreatif Desain Program dan Jurnalis, dan sejak tahun 2024 berkolaborasi dengan Advokat dan Konselor, Sukaedah Dewi Mayumi. Program ini mengintegrasikan seni, pemahaman hukum, dan pendidikan karakter untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, inklusif, dan kondusif bagi proses pembelajaran.
Dua Cerpen Fileski mengambil bagian di Program Semantik
SEMANTIK mengadopsi pendekatan karakter yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk seniman, penulis, dan lembaga hukum, untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai bullying, kekerasan seksual, dan rasisme. Strategi kreatif yang diimplementasikan memanfaatkan seni sebagai media yang efektif dan menarik untuk menyampaikan pesan-pesan penting.
Program SEMANTIK mengintegrasikan "literasi sebagai ruang untuk membuat suatu perubahan." sebagai contoh ; Cerpen "Nadir (Neraka itu ada di rumah)" dan "Anak Sekolah Dasar Yang Mati Tak Berdasar," karya Fileski Walidha Tanjung (guru Seni Budaya SMAN 2 Madiun, musisi, dan pendiri komunitas Negeri Kertas dan Teater Pilar Merah), sebagai salah satu cara meningkatkan pemahaman siswa akan dampak negatif perundungan dan mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman dan inklusif. Kedua cerpen ini ditulisnya sebagai respons terhadap peningkatan kasus perundungan di kalangan pelajar.
"Nadir (Neraka itu ada di rumah) dimuat di Utusan Borneo, Koran Malaysia pada Minggu, 10 Maret 2024 dan Anak Sekolah Dasar yang Mati Tak Berdasar, dimuat di Majalah Panji , Balai Bahasa Jawa Timur, 2024.
Pandangan Fileski Walidha Tanjung, seorang pakar pendidikan berpengalaman, selaras dengan visi dan misi yang diusung SEMANTIK. Beliau menekankan pentingnya penerapan tindakan tegas dari pihak sekolah, termasuk sanksi disipliner yang konsisten dan penegakan aturan yang ketat. Namun, Fileski Walidha Tanjung juga menyoroti perlunya pendekatan yang personal dan komprehensif dalam menangani setiap kasus bullying, mengingat kompleksitas dan konteks yang beragam dari setiap kejadian.
Selain tindakan represif, Fileski Walidha Tanjung juga menekankan pentingnya upaya preventif melalui seminar dan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai empati, rasa hormat, dan kerja sama, dipadukan dengan seminar yang membahas dampak bullying, diharapkan dapat membentuk perilaku positif siswa dan mengurangi insiden bullying. juga ia menyoroti peran krusial keluarga dalam pembentukan karakter anak dan penyediaan dukungan emosional yang memadai. Masalah keluarga, seperti kekerasan dalam rumah tangga atau kurangnya perhatian orang tua, dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya bullying, sehingga kolaborasi yang erat antara sekolah dan keluarga sangatlah penting.
Peran Cerita Pendek dalam Penanggulangan Perilaku Bullying. Cerita pendek, atau cerpen, dapat menjadi instrumen yang efektif dalam mengatasi masalah sosial seperti bullying. Cerpen menawarkan platform unik untuk ;Meningkatkan Kesadaran: Melalui narasi fiktif, cerpen dapat menggambarkan dampak emosional dan psikologis bullying terhadap korban dan pelaku.Mempromosikan Empati: Dengan mengeksplorasi perspektif berbagai karakter yang terlibat dalam situasi bullying, cerpen dapat menumbuhkan empati dan pemahaman. Mendorong Pemikiran Kritis: Cerpen dapat merangsang diskusi dan pemikiran kritis mengenai bullying, mendorong pembaca untuk mengevaluasi tindakan dan keyakinan mereka sendiri. Menginspirasi Perubahan: Dengan menampilkan tokoh-tokoh positif dan solusi alternatif untuk menyelesaikan konflik, cerpen dapat menginspirasi siswa untuk melawan bullying dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
"Cerpen 'Nadir' dan 'Anak Sekolah Dasar yang Mati Tak Berdasar' karya Fileski Walidha Tanjung sungguh luar biasa," tutur Erna Wiyono. "Mereka berhasil menyentuh sisi emosional pembaca, mengungkapkan betapa menyakitkannya bullying dan betapa pentingnya empati. Mayumi menambahkan, "Saya sendiri terharu membaca 'Nadir'. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak dan mencegah bullying. Kedua cerpen ini menjadi bukti nyata kekuatan seni dalam menyampaikan pesan-pesan penting dalam peran serta di Program SEMANTIK."
(*)