NARASINETWORK.COM - Busana adalah bahan yang menutupi tubuh sekaligus media untuk menyampaikan identitas dan nilai budaya yang dijunjung tinggi. Di Indonesia, kain tradisional atau wastra telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, membawa makna dan simbol yang menjadi bagian dari identitas lokal. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menghadirkan nilai-nilai budaya tersebut dalam bentuk yang sesuai dengan gaya hidup masa kini.
Brand Dinayra dibuat untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan tagline "A Touch of Heritage", Dinayra menyematkan unsur warisan budaya Indonesia dalam setiap produk yang dihasilkan. Pendirian brand ini terkait dengan peran aktif Rini Intama, sebagai pendiri, pemilik, dan desainer sekaligus sastrawati yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kelestarian budaya dan pengembangan seni di Indonesia.
Narasinetwork berkesempatan berbincang santai dengan Rini Intama, berikut petikan wawancara kami disajikan untuk para pembaca setia narasinetwork :
Narasi Network (NN) : Selamat pagi, Ibu Rini Intama. Terima kasih telah bersedia kami wawancara mengenai brand Dinayra yang Anda dirikan. Sebelum membahas lebih jauh tentang Dinayra, apakah Ibu dapat menjelaskan mengenai makna istilah wastra yang menjadi dasar konsep brand ini?
Rini Intama (RI) : Selamat pagi juga. Terima kasih atas kesempatan ini. Istilah wastra berasal dari bahasa Sanskerta dengan makna harfiah "sehelai kain". Di Indonesia, wastra bukan hanya bahan tekstil biasa. Wastra adalah kain tradisional yang dibuat secara manual, dengan makna filosofis, simbol yang diakui masyarakat, serta nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas lokal. Setiap daerah memiliki ciri khas dalam pola, warna, dan teknik pembuatan yang mencerminkan kehidupan masyarakat setempat, sistem kepercayaan, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Kain ini sering digunakan dalam acara penting seperti pernikahan dan upacara adat.
NN: Bagaimana awal mula ide pendirian brand Dinayra dengan tagline "A Touch of Heritage" muncul?
RI: Ide pendirian Dinayra muncul dari kepedulian terhadap kelestarian nilai budaya yang terkandung dalam wastra. Saya melihat potensi untuk menghadirkan nilai tersebut dalam bentuk busana yang sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang. Tagline "A Touch of Heritage" dipilih untuk menyematkan unsur warisan budaya Indonesia dalam setiap produk yang kami hasilkan. Tujuan utama adalah untuk menghubungkan generasi sekarang dengan akar budaya melalui pilihan busana yang relevan.
NN: Apa tujuan utama yang ingin dicapai melalui brand Dinayra?
RI: Brand ini dibuat untuk memperlihatkan sisi terbaik dari setiap wanita yang mengenakannya, sebagai bentuk penghargaan terhadap keindahan yang elegan dan bernuansa puitis. Kami berharap setiap pengguna tidak hanya memenuhi kebutuhan berpakaian, tetapi juga dapat menunjukkan karakter yang unik, memiliki nilai seni yang jelas, tampilan yang elegan, dan makna yang sesuai dengan konsep brand. Setiap desain dirancang untuk memberikan kesan positif, serta membuat pengguna merasa nyaman dan percaya diri.
NN: Bagaimana proses pembuatan produk Dinayra dilakukan agar dapat menyatukan unsur seni dan kenyamanan modern?
RI: Setiap produk pakaian merupakan kombinasi dari pekerjaan seni yang memperhatikan detail dengan tingkat kenyamanan yang disesuaikan dengan gaya hidup masa kini. Proses pembuatan melibatkan perhatian terhadap kualitas bahan yang digunakan, presisi dalam penyusunan pola, dan penerapan unsur budaya yang sesuai. Kami juga memastikan setiap produk memiliki fungsi praktis, baik untuk digunakan sehari-hari maupun dalam acara khusus. Semua tahapan dilakukan dengan perhatian penuh agar hasilnya memenuhi standar yang telah ditetapkan.
NN: Siapa saja yang menjadi target pasar utama untuk produk Dinayra?
RI: Produk Dinayra disiapkan untuk kelompok konsumen yang memiliki selera khusus dalam busana. Target pasar kami mencakup mereka yang mencari desain dengan konsep berbeda dari produk umum di pasaran. Selain itu, brand ini juga ditujukan bagi mereka yang berfokus pada busana sopan kelas atas, serta mereka yang mengutamakan filosofi sebagai dasar dalam setiap pilihan gaya berpakaian. Kelompok ini memiliki kesadaran terhadap nilai budaya, menghargai kualitas dan keunikan produk, serta menginginkan busana yang dapat mencerminkan kepribadian mereka. Mereka juga memperhatikan aspek etika dalam produksi dan mencari produk yang memiliki makna lebih dari sekadar barang konsumsi.
NN: Apa kelebihan dari nama Dinayra yang membuatnya berbeda dari brand busana lainnya?
RI: Nama Dinayra dipilih dengan pertimbangan matang. Nama ini memiliki kesan orisinal dan tidak umum ditemui di pasaran, sehingga mudah dikenali dan diingat. Selain itu, nama Dinayra memiliki daya tarik yang dapat diterima secara luas di berbagai negara, yang mendukung pengembangan brand ke pasar internasional. Brand ini juga membawa kesan perbaikan penampilan seseorang melalui pilihan pakaian yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan pengguna, tanpa mengorbankan kenyamanan atau nilai budaya yang menjadi dasar kami.
NN: Sebagai pendiri sekaligus desainer, bagaimana pengalaman Ibu dalam menggabungkan latar belakang pendidikan dan aktivitas lainnya dengan pengelolaan brand Dinayra?
RI: Saya menyelesaikan pendidikan tinggi pada jurusan Teknik Informatika, namun minat terhadap sastra telah muncul sejak masa sekolah menengah pertama dan tetap terjaga hingga saat ini. Selain mengelola Dinayra, saya juga mengelola Kiddy English & Mathematics Centre – lembaga pendidikan untuk anak-anak usia sekolah dasar hingga tingkat lanjutan. Saya juga menulis buku modul pendidikan berjudul Belajar Matematika dengan Mudah dan Menyenangkan serta Belajar Bahasa Inggris untuk Anak-anak, yang bertujuan untuk membantu anak-anak memahami materi dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Semua aktivitas ini saling mendukung; pengalaman dalam pendidikan memberikan wawasan mengenai kebutuhan masyarakat, sementara bakat sastra membantu dalam menyampaikan pesan dan nilai yang terkandung dalam produk Dinayra.
NN: Ibu juga dikenal sebagai sastrawati dengan karya yang telah dipublikasikan luas. Bagaimana aktivitas dalam dunia sastra berperan dalam pengembangan brand Dinayra?
RI: Sebagai sastrawati, saya menghasilkan karya dalam bentuk novel, cerita pendek, dan puisi yang telah dipublikasikan di sejumlah surat kabar serta terhimpun dalam berbagai antologi. Saya juga pernah berpartisipasi dalam berbagai perhelatan sastra tingkat nasional dan internasional, antara lain Pertemuan Penyair Indonesia Dari Negeri Poci, Pertemuan Penyair Nusantara, Borobudur Writers and Cultural Festival, Festival Sastra Tanjungbintan, dan International Poetry Festival Tegal Mas Island. Kontribusi saya dalam dunia sastra juga tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi pada tahun 2018. Pengalaman dalam dunia sastra membantu saya dalam mengembangkan konsep desain yang memiliki makna dan cerita di baliknya, serta dalam menyampaikan nilai budaya yang ingin kami angkat melalui Dinayra.
NN: Selain aktivitas dalam dunia sastra dan pengelolaan Dinayra, Ibu juga aktif dalam berbagai komunitas seni dan budaya. Apa peran komunitas tersebut dalam pengembangan brand dan karya Ibu?
RI: Saya merupakan anggota Komunitas Seni dan Budaya Tangerang Serumpun, Komunitas Penulis Muda Indonesia, serta Komunitas Pecinta Puisi. Melalui keikutsertaan dalam komunitas-komunitas ini, saya terus mengembangkan kemampuan dalam bidang sastra dan mendapatkan wawasan mengenai berbagai bentuk seni dan budaya dari berbagai daerah. Komunitas juga menjadi tempat untuk berbagi ide dan pengalaman dengan sesama seniman dan pelaku budaya, yang kemudian dapat diintegrasikan dalam proses desain dan pengembangan produk Dinayra. Selain itu, kami juga berperan dalam kegiatan yang bertujuan untuk memajukan seni dan budaya di masyarakat.
NN: Apakah ada rencana pengembangan produk atau ekspansi pasar yang akan dilakukan oleh brand Dinayra ke depannya?
RI: Kami memiliki rencana untuk mengembangkan variasi produk agar dapat memenuhi kebutuhan lebih banyak konsumen, sambil tetap mempertahankan konsep dasar berbasis warisan budaya. Selain itu, kami juga berencana untuk memperluas jangkauan pasar, baik di tingkat lokal maupun internasional, dengan memanfaatkan daya tarik nama Dinayra yang dapat diterima secara luas. Kami juga akan terus melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian budaya Indonesia untuk menghasilkan produk yang lebih baik dan memiliki dampak positif bagi masyarakat.
NN: Pesan apa yang ingin Ibu sampaikan kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki minat terhadap busana berbasis budaya?
RI: Saya ingin menyampaikan bahwa budaya Indonesia memiliki nilai yang tinggi dan patut untuk dilestarikan serta diperkenalkan kepada lebih banyak orang. Melalui pilihan busana berbasis budaya seperti yang kami hasilkan di Dinayra, masyarakat dapat turut serta dalam melestarikan warisan budaya sambil tetap tampil sesuai dengan gaya hidup masa kini. Saya berharap lebih banyak orang dapat menghargai keunikan dan keindahan budaya Indonesia, serta mendukung produk lokal yang memiliki nilai positif bagi perkembangan seni dan budaya bangsa.
**
Rini Intama lahir di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada tanggal 21 Februari. Ia adalah pendiri, pemilik, dan desainer brand busana Dinayra sekaligus tokoh sastra yang telah dikenal luas.
Minatnya terhadap menulis dan sastra muncul sejak masa sekolah menengah pertama. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan tinggi pada jurusan Teknik Informatika, namun hasrat terhadap karya kreatif tetap terjaga dan terus berkembang hingga saat ini.
Selain mengelola Dinayra, Rini mengelola Kiddy English & Mathematics Centre – lembaga pendidikan yang fokus pada pengajaran matematika dan bahasa Inggris untuk anak-anak usia sekolah dasar hingga tingkat lanjutan. Ia telah menulis buku pendidikan berjudul Belajar Matematika dengan Mudah dan Menyenangkan serta Belajar Bahasa Inggris untuk Anak-anak, dibuat untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
Sebagai penulis, Rini telah menerbitkan novel, cerita pendek, dan puisi di berbagai surat kabar serta antologi sastra. Ia telah terpilih untuk berpartisipasi dalam berbagai acara sastra tingkat nasional dan internasional, antara lain Pertemuan Penyair Indonesia Dari Negeri Poci, Pertemuan Penyair Nusantara, Borobudur Writers and Cultural Festival, Festival Sastra Tanjungbintan, dan Festival Puisi Internasional Pulau Tegal Mas. Kontribusinya dalam dunia sastra Indonesia diakui pada tahun 2018 ketika nama serta karyanya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia, diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi.
Rini merupakan anggota aktif dalam beberapa komunitas seni dan budaya, antara lain Komunitas Seni dan Budaya Tangerang Serumpun, Komunitas Penulis Muda Indonesia, serta Komunitas Pecinta Puisi. Melalui komunitas tersebut, ia terus mengembangkan kemampuan kreatif dan berperan dalam kegiatan yang bertujuan untuk memajukan seni dan budaya di masyarakat Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, brand Dinayra diperkenalkan dengan tagline "A Touch of Heritage", menyematkan unsur warisan budaya Indonesia dalam setiap desain. Brand ini berfokus pada pembuatan busana yang menyatukan seni tekstil tradisional dengan kenyamanan modern, ditujukan bagi konsumen yang menghargai desain unik, busana sopan kelas atas, serta gaya berpakaian yang memiliki makna filosofis.
Tangerang, 28 Januari 2026
NARASINETWORK.COM x Wawancara Tokoh : Rini Intama "A Touch of Heritage by Dinayra Indonesian Wastra in Modern Fashion"
