NARASINETWORK.COM - Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menuangkan 10.000 liter eco enzyme ke Sungai Jelentreng, Taman Kota 2 BSD, Kota Tangerang Selatan pada pagi hari Minggu (8/3/2026). Aksi ini tercatat dalam Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai penuangan eco enzyme terbanyak di sungai.
Kegiatan dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-40 Gemabudhi sekaligus upaya membantu pemulihan kualitas lingkungan Sungai Cisadane.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, penuangan eco enzyme merupakan bentuk kepedulian terhadap pemulihan ekosistem sungai, terutama setelah insiden pencemaran beberapa waktu lalu.
Eco enzyme adalah cairan hasil fermentasi bahan organik yang membutuhkan waktu minimal tiga bulan untuk diproduksi. Penuangan 10.000 liter eco enzyme di Sungai Cisadane mendapatkan pengakuan MURI karena proses produksi yang kompleks dan memerlukan waktu lama. Produksi mencapai jumlah tersebut melibatkan banyak komunitas dan relawan.
Direktur Operasional MURI, Jusuf Ngadri, menyatakan, “Hari ini MURI menjadi saksi aksi anak-anak Buddhis Indonesia dalam menyambut 40 tahun usia Gemabudhi. Penggunaan eco enzyme menjadi cara alami untuk membantu memperbaiki kualitas air yang tercemar.”
Ketua Umum Gemabudhi Bambang Patijaya menjelaskan, aksi penuangan eco enzyme melibatkan berbagai komunitas dan relawan yang peduli terhadap lingkungan, termasuk mahasiswa. Bambang menyatakan jumlah eco enzyme yang digunakan bisa melebihi 10.000 liter, karena banyak komunitas dan relawan yang membawa tambahan secara mandiri.
Bambang berharap aksi ini memberikan manfaat bagi pemulihan lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Supriyadi menyebut kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama antara Kementerian Agama, Kementerian Lingkungan Hidup, dan lembaga keagamaan dalam menjaga lingkungan.
“Aksi ini merupakan praktik ekoteologi yang digaungkan Kementerian Agama untuk mendorong umat menjaga alam. Mudah-mudahan kita akan terus bergerak,” tandasnya.
Ajaran Buddha menekankan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan manusia. Ajaran tersebut mendorong hidup selaras dengan alam, termasuk merawat hutan dan lingkungan, karena alam semesta menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
