Budaya Bukan Sekadar Konten "Mengembalikan Makna Tari Tradisional di Era Digital"

Jumat, 17 Oct 2025 13:23
    Bagikan  
Budaya Bukan Sekadar Konten "Mengembalikan Makna Tari Tradisional di Era Digital"
Istimewa

Fenomena popularitas joget di media sosial yang mengungguli minat terhadap tarian tradisional. Joget yang seringkali vulgar dan dangkal lebih digemari daripada tarian budaya yang sarat makna. Hal ini mengancam identitas budaya dan nilai-nilai moral bangsa

NARASINETWORK.COM - Di pusaran arus digital yang kian deras, teknologi telah menjelma menjadi kekuatan transformatif yang memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan kita, termasuk lanskap budaya. Salah satu fenomena yang paling mencolok adalah menjamurnya joget di berbagai platform media sosial, yang tampaknya mengalahkan minat generasi muda terhadap tarian tradisional yang kaya akan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.

"Ironisnya, joget yang seringkali mengumbar sensualitas dan mengundang syahwat justru lebih digandrungi daripada tarian budaya yang seharusnya dilestarikan, diwariskan, dan dijadikan identitas bangsa"

Fenomena ini memicu serangkaian pertanyaan mendasar tentang identitas budaya, nilai-nilai moral, dan arah perkembangan peradaban kita. Mengapa joget yang cenderung vulgar, dangkal, dan seragam lebih menarik perhatian daripada tarian tradisional yang sarat makna filosofis, simbolisme mendalam, dan ekspresi artistik yang unik?

Apa yang menyebabkan generasi muda lebih memilih untuk meniru gerakan-gerakan sensual dan provokatif di layar ponsel daripada mempelajari, menghayati, dan mengembangkan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur?

Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena ini adalah daya tarik instan, kemudahan akses, dan sifat adiktif yang ditawarkan oleh platform media sosial. Joget dapat dipelajari, dipraktikkan, dan dipamerkan dengan mudah, tanpa memerlukan pelatihan khusus, pemahaman mendalam tentang seni tari, atau investasi waktu dan tenaga yang signifikan.

Cukup dengan mengikuti tren yang sedang viral, meniru gerakan-gerakan populer, dan mengunggah video ke media sosial, seseorang dapat dengan cepat meraih popularitas, mendapatkan pengakuan dari ribuan atau bahkan jutaan pengikut, dan merasa menjadi bagian dari komunitas virtual yang besar.

Selain itu, joget seringkali dikemas dengan unsur-unsur sensual yang dirancang untuk menarik perhatian, seperti gerakan-gerakan provokatif, pakaian minim yang mengumbar aurat, ekspresi wajah yang menggoda, dan penggunaan filter serta efek visual yang mempercantik tampilan.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan tarian tradisional yang lebih menekankan pada keindahan gerakan yang anggun, keselarasan dengan musik yang harmonis, penyampaian pesan-pesan moral atau spiritual yang mendalam, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kesopanan dan kesantunan.

Namun, di balik popularitas joget yang menggiurkan dan sensasi viral yang memabukkan, terdapat bahaya laten yang mengancam keberlangsungan budaya bangsa, merusak moralitas generasi muda, dan mengikis identitas nasional. Ketika generasi muda lebih terpapar pada konten-konten vulgar, dangkal, dan seragam, mereka berisiko kehilangan apresiasi terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya tradisional, seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, kesopanan, dan penghormatan terhadap orang tua serta sesama.

Mereka juga dapat terpengaruh oleh gaya hidup hedonis, konsumtif, dan individualistis yang dipromosikan oleh media sosial, yang pada akhirnya dapat merusak karakter, moralitas, dan jati diri bangsa.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengambil tindakan yang tepat, terencana, dan berkelanjutan guna mengatasi masalah kompleks ini. Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa perlu bekerja sama secara sinergis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan, mengembangkan, dan mewariskan budaya tradisional kepada generasi mendatang.

Tarian tradisional harus dipromosikan sebagai bagian integral dari identitas nasional, sebagai sumber inspirasi bagi generasi muda, dan sebagai sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Selain itu, perlu adanya upaya untuk menyaring konten-konten negatif yang beredar di media sosial, seperti konten pornografi, kekerasan, ujaran kebencian, dan berita bohong. Aplikasi-aplikasi yang mempromosikan joget vulgar, eksploitasi seksual, dan perilaku menyimpang harus diblokir atau dibatasi aksesnya.

Pemerintah juga perlu memberikan dukungan finansial, pelatihan, dan promosi kepada para seniman, budayawan, dan komunitas yang berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan tarian tradisional.

Pada akhirnya, pelestarian budaya adalah tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara yang beradab dan bermartabat. Dengan menghargai, mengembangkan, dan mewariskan budaya tradisional, kita dapat memperkuat identitas nasional, meningkatkan kualitas moral bangsa, membangun karakter generasi muda, dan menciptakan masyarakat yang lebih beradab, toleran, dan sejahtera.


Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Tags
Fenomena

Berita Terbaru

Antisipasi Kerawanan Ramadan, Satpol PP Kabupaten Bandung Turun Hingga Tingkat Desa
IANJO Art Installation Highlights Marginalised Stories of Ianfu Women
Perjanjian Perdagangan Energi dengan AS Tidak Perbesar Impor Nasional
Penguatan Pendidikan dan Riset di Papua melalui Alih Aset BRIN
Makan Bergizi Gratis: Program Bekelanjutan untuk Tingkatkan Kualitas SDM Sejak Dini
Data Indonesia Jadi Incaran Pengembangan AI Pemerintah Siapkan Langkah Perlindungan
Teknologi Maggot Didorong Jadi Andalan Pengolahan Sampah Nasional
Pekerja Menjadi Kelompok Terbesar dalam Program BP Tapera pada 2025
Perkuat Budaya Komunikasi Efektif, RSUD Majalaya Terapkan Metode SBAR
Penetapan Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Jenderal TNI (Purn.) H. Try Sutrisno 
Momentum Nyepi dan Ramadan Sinergi Umat Hindu dalam Aksi Kemanusiaan
MBG: Langkah Nyata Pemerintah Wujudkan Ketahanan Gizi ke Anak Sejak Dini di Kabupaten Blitar
Kementerian Agama Siapkan Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H dengan Prosedur Terbuka
Komisi IX DPR Sebut Pentingnya Intervensi Gizi Sejak Dini dalam Sosialisasi Makan Bergizi Gratis di Kediri
7 Fitur Unggulan Samsung Galaxy S26 Series untuk Efisiensi dan Kreasi
Kemenkes RI Luncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara 2025–2034 dalam Rangka Menurunkan Angka Kematian
Kusdono Rastika Suara yang Berbisik dari Seni Lukis Kaca Cirebon
Ekspresi Seni Islam Ruang Tafakur Hadir di Bentara Budaya Jakarta
Komisi IX DPR Dorong Pengawasan dan Pemberdayaan Pemasok Lokal dalam Sosialisasi MBG di Kediri
Perkembangan Terkini Penanganan Campak di Indonesia dan Dunia