Desa Bahowo : Destinasi Ekowisata Unggulan yang Berakar pada Konservasi Mangrove

Jumat, 31 Oct 2025 21:26
    Bagikan  
Desa Bahowo : Destinasi Ekowisata Unggulan yang Berakar pada Konservasi Mangrove
Istimewa

Desa Bahowo di Manado menjadi contoh sukses konservasi mangrove dan ekowisata. Inisiatif masyarakat sejak 2009, didukung LSM, mengubah hutan mangrove menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian wisatawan domestik dan internasional.

NARASINETWORK.COM - Desa Bahowo, yang terletak di Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, telah menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana masyarakat lokal dapat berperan aktif dalam konservasi lingkungan dan pengembangan ekowisata berkelanjutan.

Kisah sukses ini bermula pada tahun 2009, ketika inisiatif pelatihan pembibitan dan penanaman mangrove yang diinisiasi oleh BTN Bunaken memicu ide kreatif di kalangan masyarakat setempat untuk memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di desa mereka.

Dengan dukungan pendampingan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Manengkel Solidaritas, masyarakat Desa Bahowo secara kolektif membagi hutan mangrove yang masuk dalam zona pemanfaatan menjadi zona-zona tematik, meliputi zona persemaian, zona pembibitan, dan zona wisata. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan ekosistem mangrove, tetapi juga untuk menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat melalui pengembangan ekowisata.

Keberhasilan pengelolaan mangrove di Desa Bahowo telah menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru, termasuk mancanegara seperti Ukraina, yang tertarik untuk mempelajari praktik pengelolaan mangrove yang berkelanjutan.

Selain itu, Desa Bahowo juga menjadi lokasi favorit untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan penanaman mangrove, yang melibatkan berbagai pihak seperti Lantamal, BNPB, serta kunjungan dari duta besar negara-negara ASEAN. Hal ini menunjukkan pengakuan luas terhadap upaya konservasi yang telah dilakukan oleh masyarakat Bahowo.

Keunikan Bahowo tidak hanya terletak pada hutan mangrovenya yang terjaga dengan baik, tetapi juga pada lokasinya yang strategis di ujung utara Kota Manado. Dikelilingi oleh keindahan alam yang memukau, Bahowo menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Meskipun secara administratif termasuk dalam Kecamatan Tongkaina yang terdiri dari empat lingkungan, Lingkungan 4 (Bahowo) memiliki karakteristik geografis yang unik karena terpisah dari Lingkungan 1 dan 3. Jarak dari pusat Kota Manado menuju Bahowo sekitar 15,3 kilometer, yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 34 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Salah satu daya tarik utama Bahowo adalah jembatan kayu sepanjang 600 meter yang membentang dari darat ke laut. Jembatan ini tidak hanya memudahkan akses bagi wisatawan untuk menikmati keindahan hutan mangrove, tetapi juga menjadi spot foto yang populer. Dari atas jembatan, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan yang menakjubkan, termasuk pulau-pulau di sekitarnya seperti Bunaken, Nain, dan Siladen.

Selain itu, Bahowo juga dikenal sebagai benteng kehidupan bagi masyarakat Kota Manado. Hutan mangrove yang lebat berperan penting dalam melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan intrusi air laut, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Keberadaan mangrove di wilayah Kota Manado relatif terbatas dan hanya dapat ditemukan di sekitaran Manado Utara, termasuk Bahowo. Hal ini menjadikan Bahowo sebagai aset berharga bagi kota tersebut.

Mangrove Park Bahowo, yang berlokasi di Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, merupakan salah satu ekosistem yang penting untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Hutan mangrove sendiri adalah hutan yang terletak di daerah pantai, dengan tanah yang berair dan salinitas tinggi, serta ditumbuhi oleh tumbuhan mangrove yang khas. Mangrove Park Bahowo sangat penting karena berperan sebagai tempat hidup dan berkembangnya berbagai jenis satwa liar seperti burung, ikan, udang, kepiting, dan lain-lain.

Selain itu, hutan mangrove juga memiliki peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya, misalnya sebagai penahan erosi pantai, pengikat karbon, dan penjaga kualitas air.

Di sini, pengunjung dapat menikmati keindahan hutan mangrove dengan menyusuri jalur-jalur kayu yang sudah dibuatkan. Selain itu, pengunjung juga bisa memancing, snorkeling, atau menyelam di sekitar hutan mangrove untuk melihat keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Pengunjung juga bisa merasakan suasana sunset pada saat matahari terbenam.

Namun, Mangrove Park Bahowo juga menghadapi berbagai ancaman yang mengancam kelangsungan hidupnya. Beberapa ancaman tersebut antara lain eksploitasi kayu mangrove yang berlebihan, pengambilan kerang dan ikan secara ilegal, serta penambangan pasir dan batu yang merusak ekosistem mangrove.

Oleh karena itu, diperlukan peran serta semua pihak untuk menjaga kelestarian hutan mangrove di Manado. Masyarakat sekitar perlu diedukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove, dan pemerintah setempat perlu mengambil tindakan tegas terhadap pelaku ilegal yang merusak ekosistem mangrove.

Pemerintah Kota Manado telah menunjukkan komitmennya dalam konservasi dan rehabilitasi hutan mangrove, misalnya dengan melakukan penanaman mangrove secara massal, membangun pagar untuk melindungi hutan mangrove dari kerusakan, dan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove.

Dengan menjaga kelestarian hutan Mangrove Park Bahowo, kita tidak hanya akan mendapatkan manfaat ekologis dan lingkungan yang penting, tetapi juga manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga kelestarian hutan mangrove di Manado, dan memberikan kontribusi positif bagi alam dan kehidupan manusia.

Kisah sukses Bahowo dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki potensi ekowisata berbasis konservasi mangrove. Dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, konservasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Tags
Ekowisata

Berita Terbaru

“Gawat! TTD Sekda Bisa Dipakai Sembarangan, Ada Apa di Internal Pemkab?”
Respons Cepat Pemkab Bandung Pasca Ambruk Pasar Soreang, Pastikan Korban Tertangani dan Pedagang Terlindungi
Rawan Banjir Bandang, Kang DS Gulirkan Program Pentahelix Normalisasi Sungai Cisunggalah di Desa Panyadap Solo
RSUD Baru Bermasalah, Ketua DPRD Kabupaten Bandung Soroti Kualitas Proyek dan Pengawasan
Gercep! Forkopimcam Ciparay Tangani Lansia Terlantar
Refleksi Nyepi 2026 Menguatkan Nilai Kemanusiaan Melalui Saka Boga Sevanam
Observasi Cuaca Sebagai Investasi Keselamatan BMKG Peringati HMD ke-76
X Sesuaikan Batas Usia Pengguna Jadi 16 Tahun untuk Mematuhi PP TUNAS Indonesia
Atlet Ferry Pradana Terima Bonus Pemerintah Targetkan Prestasi di ASEAN Para Games Malaysia
Bonus Atlet Medali Asean Para Games 2026 Cair Ditransfer Langsung ke Rekening BRI
Menilik Jejak Migrasi Pelikan Simbol Kesehatan Ekosistem Perairan
Langkah Praktis Melunakkan Daging Menggunakan Bahan Alami
Dari Dapur Rumah Sendiri Hadir Sajian Iftar Tanah Maluku
Ingin Bikin Sandwich Sendiri? Coba Yuk Berbagai Isian yang Lezat!
Mbah Senari Pahlawan Budaya yang Jaga Kelestarian Lontar Yusuf di Banyuwangi
Program Mudik Gratis Kemenag Dorong Kemudahan Perjalanan dan Penghematan Bagi Pemudik
RT dan RW di Kertasari Gerudug ke BJB, Dinilai Tidak Efektif dan Harus Segera Dievaluasi
Bupati Bandung Lepas Mudik Gratis, 700 Warga Asal Jawa Tengah Bisa Pulang Kampung Secara Gratis
Polemik Perda dan KUHP Baru, Penertiban Miras di Kabupaten Bandung Berubah Arah
WOW! Istri Doni Salmanan Bayar Uang Denda Rp1 Miliar