NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Kementerian Pertanian melakukan langkah penguatan pengawasan terhadap penyakit yang menular dari hewan ke manusia atau zoonosis, serta keamanan produk pangan asal hewan. Upaya ini dilaksanakan untuk melindungi kondisi kesehatan masyarakat, mengingat pergerakan dan penyebaran hewan ternak meningkat di berbagai daerah pada masa ini.
Berbagai tindakan telah disiapkan, mulai dari pemantauan kesehatan hewan, peningkatan kemampuan tenaga kerja di bidang peternakan, hingga penyampaian informasi mengenai cara pengolahan daging yang aman. Materi sosialisasi ditujukan bagi masyarakat luas maupun panitia pelaksana ibadah kurban agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai standar kesehatan yang berlaku.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa penguatan sistem pengawasan menjadi bagian utama dalam menjamin keamanan pasokan pangan nasional. Hal ini terlebih diperhatikan saat volume lalu lintas hewan ternak bertambah menjelang hari raya.
“Ketahanan pangan tidak hanya dilihat dari jumlah produksi, namun juga kualitas serta jaminan keamanan atas barang yang dihasilkan. Tenaga kerja pertanian dan peternakan harus memiliki keahlian dan pengetahuan memadai, serta mampu memenuhi harapan masyarakat akan pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal,” ujar Andi Amran Sulaiman.
Lebih lanjut ia menjelaskan, tingginya perpindahan hewan ternak antarwilayah memerlukan langkah antisipasi tepat. Pengawasan ketat dilakukan agar jalur distribusi tidak berubah menjadi sarang penyebaran penyakit zoonosis maupun penyakit hewan menular yang menjadi prioritas penanganan nasional.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti, menyatakan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia berperan besar dalam menunjang sistem pencegahan di lapangan. Kondisi ini sangat diperlukan mengingat aktivitas perdagangan dan pemotongan hewan bertambah banyak menjelang Iduladha.
“Melalui proses sertifikasi, pelatihan, hingga pembaruan kompetensi, kami pastikan petugas di lapangan memiliki kemampuan terukur. Mereka siap beradaptasi dengan kebutuhan dan dapat memberikan informasi serta pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkap Idha Widi Arsanti pada keterangan pers (7/5/2026).
Sebagai bentuk tindak lanjut, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu menggelar program pendidikan di tingkat nasional. Kegiatan ini berisi materi mengenai penanganan daging dan prosedur pengawasan kesehatan hewan, yang ditujukan kepada peternak, tenaga penyuluh, petugas lapangan, serta masyarakat umum.
Materi yang diajarkan mencakup cara memeriksa kondisi hewan sebelum dipotong, pengecekan bagian organ tubuh dan karkas, penerapan aturan kebersihan, hingga cara menyalurkan daging ke konsumen. Semua tahapan tersebut disusun berlandaskan prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Hal ini bertujuan agar produk yang dikonsumsi terjaga kualitasnya serta risiko penularan penyakit dapat ditekan seminimal mungkin.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP, Tedy Dirhamsyah, menegaskan bahwa pengawasan kesehatan harus diterapkan secara menyeluruh. Proses dimulai dari pemeliharaan hingga produk sampai ke tangan masyarakat, terlebih saat permintaan dan pengiriman ternak meningkat pesat.
“Pencegahan dilakukan jauh sebelum hewan disembelih. Langkahnya berupa pengecekan kesehatan, pengaturan perjalanan hewan, hingga penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara mengolah daging dengan benar. Hal ini penting agar momen berbagi daging kurban tidak menjadi sarang penyebaran penyakit,” jelas Tedy Dirhamsyah.
Pihak Kementerian Pertanian juga mengimbau masyarakat untuk mengenali berbagai jenis penyakit zoonosis. Di antaranya Antraks, Brucellosis, Penyakit Kulit Berbiji atau Lumpy Skin Disease (LSD), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Penyakit Jembrana, serta infeksi cacing hati. Penyakit ini berpindah melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit, darah, bagian tubuh yang terjangkit, maupun konsumsi makanan asal hewan yang tidak diolah sesuai standar.
Selain risiko bagi kesehatan manusia, penyebaran penyakit tersebut juga membawa dampak pada sektor ekonomi. Kerugian terjadi akibat penurunan hasil produksi peternakan, terganggunya jalur pengiriman hewan, hingga berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil peternakan dalam negeri.
