NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Hanna Sania dan Nurhayati dari Rumah Baca Ceria (RBC) tampil pada peringatan Hari Puisi Indonesia yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan "Unjuk Rasa, Unjuk Karya" yang digelar Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPSTIM), Minggu (26/7), di Selasar Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Keduanya mengisi panggung sastra melalui penampilan puisi sebagai bentuk penyampaian sikap terhadap kondisi ruang seni di TIM.
Acara berlangsung sejak siang hingga malam dengan agenda pameran seni, apel budaya, musik, tari, puisi, serta penyampaian manifesto FPSTIM. Berbagai komunitas seni ikut berpartisipasi untuk menyuarakan harapan agar Taman Ismail Marzuki tetap menjadi ruang berkesenian yang terbuka bagi para pelaku seni.
Hanna Sania dan Nurhayati tampil setelah penampilan Megawati dari Komunitas Seni dan Sastra Bekasi. Penampilan keduanya mendapat sambutan dari peserta yang memenuhi area Selasar Teater Kecil.
Pada kesempatan tersebut, Hanna Sania dan Nurhayati lmembawakan puisi berjudul "Kembalikan Panggung Kami". Puisi itu berisi kritik terhadap perubahan tata kelola ruang seni yang dinilai mengurangi peran seniman dalam proses pengambilan keputusan.
KEMBALIKAN PANGGUNG KAMI
Dengar kami
Ini bukan puisi pengantar tidur
Ini tuduhan
Ini ingata,n yang menolak dibungkam
Taman Ismail Marzuki
bukan lahir dari tender
tidak dibangun dari laba
Tetapi lahir dari kegelisahan
yang menolak tunduk
pada kekuasaan dan pasar
Hari ini apa yang terjadi
Panggung dipoles
jiwanya diusir
Seni dijadikan ornamen
budaya dijadikan alasan
sementara keputusan
dibuat tanpa seniman
Lampu menyala
tapi bukan untuk kebenaran
Lampu menyala
untuk menutupi perampasan
Kami melihat jelas
panggung diubah jadi mesin
ruang diubah jadi komoditas
dan seniman diminta antre
seperti penyewa
di rumahnya sendiri
Ini bukan revitalisasi
Ini penggusuran yang rapi
Ketika harga sewa
lebih penting dari proses
ketika proposal
lebih dipercaya dari gagasan
di situlah seni dibunuh
secara sopan dan administratif
Kami tidak butuh panggung megah
jika kebebasan harus ditinggalkan di pintu masuk
Kami tidak butuh gedung baru
jika keberanian
tidak diberi ruang hidup
Taman Ismail Marzuki
jangan bicara kebudayaan
jika keputusanmu
tak melibatkan mereka
yang hidup dari seni!
Jangan bicara masa depan
jika sejarahmu
kau injak sendiri
Ingat ini baik-baik
tanpa seniman
bangunan ini hanyalah beton berAC
Tanpa kebebasan
pertunjukan hanyalah kebisingan kosong
Maka kami berdiri hari ini
bukan sebagai tamu
bukan sebagai penyewa
tapi sebagai pemilik ingatan
yang kau coba hapus
Kembalikan panggung
Kembalikan ruang
Kembalikan keputusan
ke tangan budaya
bukan neraca
Karena seni tidak bisa dibeli
budaya tidak bisa disewa
dan panggung ini
tidak akan pernah tenang
selama jiwanya
dirampas
Cibitung, 31 Januari 2026 - Hanna Sania.
Melalui puisinya, Hanna Sania menyoroti persoalan akses ruang berkesenian, biaya pemanfaatan gedung, serta posisi seniman di Taman Ismail Marzuki. Ia juga menyampaikan harapan agar ruang seni tetap memberi tempat bagi proses berkarya dan keterlibatan pelaku seni.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan penampilan tari, musik akustik, puisi dari sejumlah penyair, orasi budaya, hingga penyampaian Manifesto Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki. Acara ditutup dengan penandatanganan petisi oleh seniman, komunitas, dan peserta yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap ruang berkesenian di Taman Ismail Marzuki.
Peringatan Hari Puisi Indonesia tahun ini menjadi ajang bagi para penyair, pegiat literasi, musisi, dan komunitas seni untuk menyampaikan karya serta pandangan mengenai keberadaan ruang seni di Taman Ismail Marzuki. Penampilan Hanna Sania dan Nurhayati menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara yang menempatkan puisi sebagai media penyampaian sikap melalui karya sastra.
