Berkendara Aman : Tolak Gengsi, Utamakan Keselamatan

Jumat, 17 Oct 2025 12:56
    Bagikan  
Berkendara Aman : Tolak Gengsi, Utamakan Keselamatan
Istimewa

Gengsi seringkali membuat orang mengabaikan keselamatan saat berkendara. Keinginan untuk terlihat keren atau mapan bisa mendorong orang untuk mengemudi tanpa keterampilan yang cukup, membeli SIM ilegal, atau melakukan tindakan berbahaya di jalan raya.

NARASINETWORK.COM - Di era modern yang serba dinamis, mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan telah bertransformasi menjadi simbol status, kebebasan, dan pencapaian. Namun, di balik gemerlap kemudahan dan prestise yang ditawarkan, terselip sebuah ironi yang mengkhawatirkan: gengsi.

Dorongan untuk tampil mapan atau mengesankan sering kali membutakan individu terhadap aspek-aspek utama seperti kemampuan mengemudi yang mumpuni, kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang sah, dan yang terpenting, keselamatan diri sendiri serta pengguna jalan lainnya.

Fenomena gengsi ini termanifestasi dalam berbagai perilaku yang berpotensi membahayakan. Salah satunya adalah hasrat untuk segera mengendarai mobil mewah atau berkelas, meskipun keterampilan mengemudi belum terasah dengan baik. Alih-alih mengikuti kursus mengemudi atau berlatih secara intensif, sebagian orang memilih jalan pintas dengan langsung terjun ke jalan raya, bermodalkan keyakinan semu dan mengandalkan keberuntungan semata. Tindakan ini bukan hanya gegabah, tetapi juga sangat berbahaya. Kurangnya penguasaan teknik mengemudi yang benar dapat meningkatkan risiko kecelakaan, membahayakan nyawa pengemudi, penumpang, dan pengguna jalan lainnya.

Selain itu, gengsi juga dapat mendorong seseorang untuk mengabaikan kelengkapan dokumen kendaraan, terutama SIM. Beberapa individu mungkin merasa malu atau tidak percaya diri untuk mengikuti ujian SIM yang sesungguhnya, sehingga memilih jalur ilegal dengan membeli SIM palsu. Tindakan ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mencerminkan ketidakpedulian terhadap keselamatan.

SIM adalah bukti formal bahwa seseorang telah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang memadai untuk mengoperasikan kendaraan bermotor dengan aman dan bertanggung jawab. Tanpa SIM yang sah, pengemudi tidak memiliki jaminan kompetensi, dan risiko kecelakaan pun meningkat secara signifikan.

Lebih jauh lagi, gengsi dapat membutakan mata hati seseorang terhadap pentingnya keselamatan berlalu lintas. Dalam upaya untuk terlihat keren, berani, atau superior, sebagian pengemudi mungkin melakukan tindakan-tindakan berbahaya seperti ngebut, melanggar rambu lalu lintas, menerobos lampu merah, atau mengemudi dalam keadaan mabuk atau terpengaruh obat-obatan terlarang.

Mereka mungkin merasa bahwa kecelakaan tidak akan pernah menimpa mereka, atau bahwa mereka memiliki kendali penuh atas situasi. Namun, kenyataannya, kecelakaan lalu lintas dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menimpa siapa saja, tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau tingkat pendidikan.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menyadari bahwa gengsi di balik kemudi adalah ilusi yang menyesatkan dan berbahaya. Keinginan untuk tampil mapan, mengesankan, atau superior tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa, mengalami cacat permanen, atau menyebabkan kerugian material dan emosional bagi orang lain. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama, dan setiap pengemudi harus bertanggung jawab penuh atas tindakan mereka di jalan raya.

Untuk mengatasi masalah kompleks ini, diperlukan upaya kolektif dan sinergis dari berbagai pihak. Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas, serta memberikan edukasi yang lebih efektif dan berkelanjutan tentang pentingnya keselamatan berkendara. Program-program edukasi ini harus menyasar semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dan disampaikan melalui berbagai media yang mudah diakses dan dipahami.

Lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, juga perlu berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai keselamatan sejak dini. Kurikulum pendidikan harus memasukkan materi tentang etika berlalu lintas, peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta bahaya dan konsekuensi dari perilaku mengemudi yang tidak aman. Keluarga juga memiliki peran krusial dalam membentuk perilaku anak-anak sebagai pengguna jalan yang bertanggung jawab. Orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam mematuhi peraturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan.

Selain itu, media massa, baik cetak, elektronik, maupun daring, dapat membantu menyebarkan informasi yang benar, akurat, dan relevan tentang keselamatan berkendara. Media juga dapat berperan dalam menghilangkan stigma negatif terhadap pengemudi yang berhati-hati, taat aturan, dan bertanggung jawab. Kampanye-kampanye keselamatan lalu lintas yang kreatif, inovatif, dan menarik dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keselamatan di jalan raya.

Pada akhirnya, keselamatan di jalan raya adalah tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara yang beradab. Dengan mengutamakan keselamatan di atas gengsi, kita dapat menciptakan lingkungan lalu lintas yang lebih aman, nyaman, tertib, dan beradab bagi semua orang. Mari kita jadikan jalan raya sebagai ruang publik yang menghargai setiap nyawa, bukan sebagai arena untuk mempertontonkan status sosial, kekayaan, atau kekuasaan. 


Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Langkah Pemerintah Menyusun Jadwal dan Pengaturan Pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri 2026
Dari PKB untuk Rakyat: Kang Cucun Hadirkan Ambulans Gratis di 31 Kecamatan
Antisipasi Kerawanan Ramadan, Satpol PP Kabupaten Bandung Turun Hingga Tingkat Desa
IANJO Art Installation Highlights Marginalised Stories of Ianfu Women
Perjanjian Perdagangan Energi dengan AS Tidak Perbesar Impor Nasional
Penguatan Pendidikan dan Riset di Papua melalui Alih Aset BRIN
Makan Bergizi Gratis: Program Bekelanjutan untuk Tingkatkan Kualitas SDM Sejak Dini
Data Indonesia Jadi Incaran Pengembangan AI Pemerintah Siapkan Langkah Perlindungan
Teknologi Maggot Didorong Jadi Andalan Pengolahan Sampah Nasional
Pekerja Menjadi Kelompok Terbesar dalam Program BP Tapera pada 2025
Perkuat Budaya Komunikasi Efektif, RSUD Majalaya Terapkan Metode SBAR
Penetapan Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Jenderal TNI (Purn.) H. Try Sutrisno 
Momentum Nyepi dan Ramadan Sinergi Umat Hindu dalam Aksi Kemanusiaan
MBG: Langkah Nyata Pemerintah Wujudkan Ketahanan Gizi ke Anak Sejak Dini di Kabupaten Blitar
Kementerian Agama Siapkan Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H dengan Prosedur Terbuka
Komisi IX DPR Sebut Pentingnya Intervensi Gizi Sejak Dini dalam Sosialisasi Makan Bergizi Gratis di Kediri
7 Fitur Unggulan Samsung Galaxy S26 Series untuk Efisiensi dan Kreasi
Kemenkes RI Luncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara 2025–2034 dalam Rangka Menurunkan Angka Kematian
Kusdono Rastika Suara yang Berbisik dari Seni Lukis Kaca Cirebon
Ekspresi Seni Islam Ruang Tafakur Hadir di Bentara Budaya Jakarta