Anak-anak Baduy Tanpa Sekolah Formal "Pendidikan yang Tumbuh dari Bumi dan Nilai-Nilai Tradisi"

Minggu, 18 Jan 2026 21:31
    Bagikan  
Anak-anak Baduy Tanpa Sekolah Formal "Pendidikan yang Tumbuh dari Bumi dan Nilai-Nilai Tradisi"
Nana Wiyono

Elis seorang anak Baduy yang menunjukkan kemurnian kasih sayang dan kesopanan menjadi bukti bahwa kualitas baik tidak selalu datang dari sekolah atau lingkungan eksklusif.

NARASINETWORK.COM - Anak-anak di wilayah tersebut tidak mengenal sekolah formal seperti yang umum dikenal luas. Mereka tidak mengenakan seragam dengan warna mencolok, tidak pernah menghabiskan waktu di bangku kelas yang tersusun rapi, dan tidak membawa buku pelajaran yang dicetak dengan huruf jelas. Hal ini bukanlah bentuk kelalaian atau kekurangan apapun, melainkan pilihan yang sarat akan makna bagi seluruh kehidupan mereka.

Sejak usia sekitar 5 hingga 8 tahun, ketika sebagian besar anak-anak di daerah lain baru mulai mengenal taman kanak-kanak atau jenjang sekolah dasar, anak-anak Baduy sudah mulai terlibat dalam aktivitas yang sama dengan orang tua mereka.

Meskipun kemampuan fisik mereka belum sebesar orang dewasa, di usia muda tersebut mereka sudah terbiasa menghabiskan waktu di ladang. Mereka membantu menanam padi, merawat tanaman berbagai jenis, atau mengumpulkan hasil panen yang telah matang. Di tengah hamparan sawah dan kebun itulah mereka mendapatkan pelajaran hidup yang tak tertulis dalam buku apapun. Pendidikan yang mereka terima termasuk dalam kategori pendidikan non-formal, tumbuh dan berkembang seiring dengan setiap langkah yang mereka injakkan di atas tanah kelahirannya.

Banyak orang mungkin mengira bahwa menolak sekolah formal berarti menutup pintu bagi ilmu pengetahuan. Pilihan untuk tidak mengikuti sekolah formal bukanlah tanda bahwa mereka tertutup dari perkembangan zaman, melainkan sebuah keputusan yang didasarkan pada keinginan yang kuat untuk menjaga apa yang dianggap berharga dan penting bagi kehidupan mereka. Mereka menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang menguasai pengetahuan akademis semata, tetapi juga tentang bagaimana hidup dengan baik dan bermakna bersama orang lain.

Di dunia yang semakin cenderung menyamakan segala aspek kehidupan dari gaya berpakaian hingga pola cara berpikir, pilihan mereka memang terasa berbeda dan mungkin menarik perhatian banyak pihak. Namun dalam kesendirian pilihan tersebut, kita dapat melihat bentuk kecerdasan yang sesuai dengan kondisi hidup dan nilai-nilai yang mereka anut.

Proses pembelajaran mereka berjalan melalui cerita lisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta melalui contoh langsung dari orang-orang di sekitar mereka. Tanpa melalui sistem pendidikan yang terstruktur secara ketat, anak-anak Baduy menemukan jalan sendiri dalam belajar dari alam sekitar dan memahami filosofi hidup yang menjadi dasar kehidupan komunitas mereka.

Mereka belajar mengenali jenis tanaman yang bisa dimakan atau memiliki manfaat sebagai obat, memahami siklus musim yang menentukan waktu tanam dan waktu panen, serta memahami cara hidup yang rukun bersama sesama dan alam sekitar.

Saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan seorang anak perempuan ceria sekaligus cantik bernama Elis. Ia selalu membawa boneka yang diberi nama Tina. saya tidak tahu dengan pasti dari mana asal nama tersebut, namun hal itu tidak mengurangi kehangatan yang terpancar dari dirinya.

Selama waktu bertemu, Elis tak pernah melepaskan pelukan dari bonekanya. Wajahnya yang penuh dengan senyum dan cara ia berbicara dengan lembut menunjukkan kemurnian dalam kasih sayang dan perilaku yang sopan.

"Saat itu saya menyadari bahwa kualitas baik seperti kasih sayang dan kesopanan tidak selalu harus diperoleh dari bangku sekolah atau lingkungan yang dianggap eksklusif. Perilaku Elis adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang tumbuh dari lingkungan keluarga dan masyarakat mampu membentuk karakter yang hangat dan penuh perhatian terhadap orang lain."

Anak-anak Baduy belajar tentang tanggung jawab sejak usia muda. Mereka membantu mengurus adik-adiknya, membantu pekerjaan rumah tangga yang ada, dan berkontribusi dalam aktivitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan bagi keluarga mereka.

Setiap tindakan yang mereka lakukan memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai yang mereka anut. Ketika mereka menyiram tanaman, mereka belajar tentang pentingnya kesabaran dan perawatan yang teliti. Ketika mereka bekerja sama dengan teman sebaya untuk membersihkan lahan, mereka memahami makna kerja sama dan rasa kebersamaan. Semua hal ini menjadi bagian dari pembelajaran yang berlangsung setiap hari, tanpa ada jadwal pelajaran yang harus diikuti atau ujian yang harus dikerjakan.

Komunitas Baduy juga mengajarkan anak-anak mereka tentang pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam. Mereka tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan untuk hidup, dan selalu berusaha merawat sumber daya alam yang ada di sekitar mereka.

Anak-anak belajar bahwa alam bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai bagian dari diri mereka yang tidak dapat dipisahkan. Mereka memahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan terhadap alam akan memiliki dampak bagi kehidupan mereka saat ini dan juga bagi generasi mendatang.

Meskipun cara pendidikan yang mereka jalani berbeda dengan anak-anak di luar komunitas Baduy, hal ini tidak membuat mereka kurang berkembang. Mereka memiliki pemahaman yang jelas tentang dunia di sekitar mereka dan mampu hidup cukup serta bahagia sesuai dengan standar yang mereka tetapkan sendiri.

Kemurnian kasih sayang yang diperlihatkan Elis kepada bonekanya dan juga kepada saya sebagai orang yang baru dikenalnya, membuat hati saya terasa hangat dan tersentuh. Ia tidak tahu tentang teknologi canggih yang berkembang atau informasi yang banyak beredar di dunia luar, namun ia memiliki kebaikan hati yang tulus dan kemampuan untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain.

Hal ini mengingatkan kita bahwa dalam mengejar kemajuan dan ilmu pengetahuan, terkadang kita perlu melihat kembali pada nilai-nilai dasar yang terkadang terlupakan, yaitu kasih sayang, kesopanan, dan rasa hormat terhadap sesama manusia serta alam sekitar.

Anak-anak Baduy adalah bukti nyata bahwa pendidikan dapat memiliki bentuk yang beragam. Setiap komunitas memiliki cara sendiri dalam memberikan pembelajaran kepada generasi muda, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan kondisi yang ada di sekitar mereka.

Meskipun jalannya berbeda satu sama lain, tujuan utama dari pendidikan yaitu membentuk pribadi yang baik dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain, tetap sama tanpa ada perbedaan. Pilihan yang diambil oleh anak-anak Baduy untuk menjaga cara pendidikan mereka sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya, adalah salah satu contoh tentang bagaimana keberagaman dalam sistem pendidikan dapat menjadi kekayaan yang luar biasa bagi kita semua.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Anak-anak Baduy Tanpa Sekolah Formal "Pendidikan yang Tumbuh dari Bumi dan Nilai-Nilai Tradisi"
Saat Libur Tahun Baru, PLN Tuntaskan Penggantian Trafo GITET Mandirancan
Meski Libur Tahun Baru, PLN Rampungkan Penggantian Trafo GITET Mandirancan
Libur Tahun Baru, Petugas PLN Tuntaskan Penggantian Trafo GITET Mandirancan
Kabupaten Lebak Tuan Rumah Kemah Budaya PWI Pusat untuk HPN 2026 di Baduy
41 Wartawan dan Sastrawan Kunjungi Kampung Adat Baduy dalam Rangkaian Peringatan HPN 2026
Mentan Andi Amran Sulaiman Pastikan Dukungan Maksimal untuk Petani Terdampak Bencana di Tiga Provinsi Sumatera
AIPA Secretary General Receives Courtesy Call from Georgian Ambassador to ASEAN and Indonesia
Pendaftaran Bimtek SIINas 2026 Dibuka Pelaku Industri Tangerang Dapat Ikut Secara Gratis
Pasar Anyar Tangerang Siap Menyambut Ramadan Akan Hadirkan Kuliner Malam dan UMKM
Alun-alun Benda Kota Tangerang Bakal Jadi Wisata Edukasi Berbasis Kawasan Aerotropolis
Prima Colastic Cup 2026 Kota Tangerang Digelar Puluhan Sekolah Ikuti Lomba Kepramukaan hingga E-Sport
SDN Pademangan Timur 05 Siap Kembali Gelar Pembelajaran Tatap Muka Perbaikan Plafon Capai 95 Persen
Calon Pegawai RSHS Diperas Hingga Jual Aset, Oknum Orang Dalam Diduga Terlibat
Sosialisasi Perpipaan PDAM di Maruyung Pacet, Fokus pada Teknis Pelaksanaan
Suku Baduy Cagar Budaya Banten dengan Kehidupan Tradisional yang Tetap Terjaga
PWI Banten dan Pemkab Lebak Gelar Kemah Budaya HPN 2026 di Wilayah Adat Baduy
John Herdman Resmi Jabat Pelatih Timnas Indonesia Target Bawa Garuda ke Panggung Dunia
Bapenda Kabupaten Bandung Rilis Tutorial Pembayaran Pajak Daerah dan Pelaporan SPTPD Secara Digital
25 Indonesian Professionals Complete Australia Awards Course on Transparency and Leadership