NARASINETWORK.COM - Rangkaian kegiatan berjualan dan puasa yang dilakukan anak-anak selama Bulan Ramadan menunjukkan nilai pendidikan yang bermanfaat dan mampu membangun karakter sejak usia dini.
Melalui pengalaman langsung, mereka diajarkan mengenai kerja keras, empati, dan kemandirian, yang mampu memperkuat pemahaman anak terhadap makna aspek sosial dan spiritual.
Dalam sebuah telewicara daring Jakarta - Padang bersama narasinetwork.com, Sastri Bakry berbagi cerita tentang cucunya, Asyifa, yang mulai berjualan di sekolah dan melanjutkan kegiatan tersebut selama Ramadan bersama teman-temannya.
Sastri menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai positif melalui pendidikan praktik, memanfaatkan momentum bulan suci sebagai media pembelajaran.
Sebulan yang lalu, Asyifa mengirimkan foto saat berjualan pizza mini seharga Rp 2.000 per buah di acara Happy Market Day di lingkungan sekolah. Dalam acara tersebut, setiap siswa kelas, berjumlah 30 anak, diwajibkan menjual produk mereka dan melakukan transaksi jual beli dengan harga yang sama. Program ini berlangsung setiap hari selama acara berlangsung dan bertujuan mengajarkan anak-anak tentang usaha serta pengelolaan keuangan secara langsung.
Selain kegiatan di sekolah, orang tua juga melakukan kegiatan serupa di lingkungan rumah. Ranti Arastri, orang tua dari anak-anak Alle, Asyifa, dan Aisyah, mengajak anak-anak berjualan cendol kecebong dengan harga Rp 12.000 per boks di depan rumah Teras Talenta. Total 12 boks disiapkan, namun beberapa calon pembeli tidak selalu menunjukkan minat yang tinggi.
Mengajarkan anak berjualan selama Ramadan dapat menjadi metode yang efektif apabila dilakukan dengan proses yang tepat. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, mengatur waktu, serta memahami perjuangan mendapatkan penghasilan secara bertahap. Selain itu, aktivitas ini juga membantu menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang membutuhkan serta memperkuat rasa berbagi.
Sementara itu, kegiatan berjualan di lingkungan sekitar tidak selalu harus dilakukan secara berlebihan. Penting untuk memastikan bahwa kegiatan ini tidak mengurangi hak anak untuk bermain dan menikmati masa kanak-kanak. Anak-anak sebaiknya dilibatkan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sebagai sumber pendapatan keluarga.
Suara adzan terdengar saat Alle, Asyifa, dan Aisyah menghitung hasil penjualan hari itu—tiga boks terjual. Mereka merasa bersyukur atas pencapaian tersebut. Keberhasilan kecil ini memberikan pengalaman berharga yang dapat menjadi pelajaran tentang kerja keras, pengelolaan uang, dan sikap berbagi.
Kegiatan berjualan dan puasa memberikan beberapa pelajaran utama, antara lain :
- Kerja keras dan usaha
anak-anak memahami bahwa keberhasilan diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh.
- Empati
puasa mengajarkan mereka untuk memahami dan merasakan kesulitan hidup orang lain.
- Kemandirian
berjualan mengembangkan jiwa mandiri melalui pengelolaan dagangan dan komunikasi.
- Pengelolaan uang
mereka belajar menghitung hasil penjualan dan memahami nilai uang secara bertahap.
- Kesederhanaan
puasa menumbuhkan pola hidup sederhana, sedangkan berjualan memberi gambaran bahwa penghasilan memerlukan usaha keras.
- Berbagi dan peduli
melalui kegiatan ini, anak-anak diajarkan untuk berbagi hasil usaha dengan yang membutuhkan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini mendukung proses pendidikan karakter yang penting bagi anak. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar tentang nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan spiritual yang menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian.
