Vonis 3 Bulan Kepala Sekolah Penganiaya Siswa MI Al Gozali: Keluarga Korban Teriakkan Ketidakadilan

Kamis, 16 Oct 2025 23:44
    Bagikan  
Vonis 3 Bulan Kepala Sekolah Penganiaya Siswa MI Al Gozali: Keluarga Korban Teriakkan Ketidakadilan
Gustav VR

Halaman depan sekolah MI Al Gozali, kampung pasir madur Desa Mekarlaksana Kecamatan Ciparay

NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG 

-Sidang lanjutan perkara tindak pidana penganiayaan yang melibatkan Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Gozali kembali memicu polemik. Kasus yang telah bergulir sejak Juni 2024 ini menimbulkan kekecewaan mendalam bagi keluarga korban, yang menilai proses hukum berjalan tidak adil dan jauh dari rasa kemanusiaan.

Sidang berlangsung di ruangan Wirjono Prodjodikoro. Baleendah, Kabupaten Bandung pada Kamis (16/10/2025). 

Korban berinisial H (10) disebut mengalami kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan oleh Muhammad Syadudin, Kepala Sekolah sekaligus Ketua Yayasan MI Al Gozali. Meski terbukti bersalah, majelis hakim Pengadilan Negeri Bale Bandung hanya menjatuhkan vonis 3 bulan penjara terhadap terdakwa.


“Saya sudah tujuh kali menghadiri persidangan kasus anak saya ini. Sudah satu tahun kami menunggu keadilan, tapi hukuman bagi terdakwa sangat di luar nalar saya,” ujar Ida Yanti, ibu korban, dengan suara bergetar. Ia hadir bersama seorang tetangganya, Kak Bre, yang selama ini mendampinginya.


Menurut Ida, vonis tersebut tidak memberikan efek jera bagi pelaku.

“Hakim memang menolak permohonan pembebasan, tapi hanya menjatuhkan hukuman tiga bulan. Apakah ini yang disebut keadilan? Apakah ini bisa membuat jera?” ucapnya dengan nada kecewa.

Ia menuturkan, akibat tindakan sang kepala sekolah, anaknya mengalami trauma mendalam.

“Anak saya difitnah mencuri handphone, padahal tidak ada bukti sama sekali. Tuduhan itu dibuat untuk menutupi perbuatan terdakwa,” jelasnya sambil menahan tangis.

Fitnah tersebut, lanjutnya, justru membuat anaknya menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah.

“Dia dibully, dicap maling oleh teman-temannya. Anak saya jadi takut ke sekolah,” tambahnya lirih.


Tragedi ini juga berdampak berat pada keluarga korban. Dua bulan lalu, sang ayah meninggal dunia akibat serangan stroke. Ida meyakini, tekanan mental dan stres karena kasus ini menjadi pemicu utama.

“Suami saya terlalu memikirkan semua ini. Dia sakit hati, merasa tidak berdaya menghadapi ketidakadilan. Dua bulan lalu dia meninggal mendadak. Dunia saya runtuh,” kata Ida dengan mata berkaca-kaca.

Tidak berhenti di situ, Ida juga mengaku mendapat intimidasi dari pihak keluarga terdakwa.

“Ada orang yang mencari-cari rumah saya. Tetangga bilang mereka dari pihak keluarga Syadudin,” ungkapnya.

Ia mengaku kini hidup dalam ketakutan dan kebingungan. “Saya rakyat biasa. Tidak punya kekuasaan, tidak tahu harus minta perlindungan ke siapa,” ucapnya.


Dari informasi yang diterima keluarga, korban penganiayaan oleh terdakwa bukan hanya anaknya.

“Setelah kasus ini mencuat, ternyata banyak juga anak-anak lain yang pernah dianiaya. Ada yang ditempeleng, dipukul, bahkan sampai lebam,” terang Ida.

Lebih miris lagi, menurut kesaksian para orang tua, sang kepala sekolah justru bersikap seolah tidak bersalah.

“Dia memainkan peran seolah dirinya korban. Seakan-akan kebal hukum dan punya ‘backing’ di belakangnya,” katanya.


Sementara itu, keluarga korban telah melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Mereka menilai, ada kejanggalan dalam penegakan hukum terhadap terdakwa.

“Dari hasil konsultasi kami ke Kejati, seharusnya terdakwa bisa dijerat hukuman berat. Setidaknya ancaman 15 tahun penjara sesuai pasal penganiayaan terhadap anak. Tapi kenyataannya hanya 3 bulan. Ini janggal,” tegas Ida.


Meski dihantam kesedihan dan ketakutan, Ida masih berharap keadilan berpihak pada anaknya dan para korban lainnya.

“Saya hanya ingin keadilan ditegakkan. Anak saya tidak pantas mengalami ini. Jangan sampai ada lagi anak yang jadi korban kekerasan dari orang yang seharusnya mendidik,” pungkasnya.

**

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

P3DN Jadi Penggerak Pertumbuhan Industri Nasional dan Penguatan Ekonomi Indonesia
Pendapatan Negara Naik 21,4 Persen APBN Semester I 2026 Jaga Stabilitas Fiskal
Bapenda Kabupaten Bandung Hadir di Hari Anak Nasional, Warga Bisa Urus Pajak Kendaraan Sekaligus Nikmati Acara
Depo POMINDO Pertama di Purwakarta Resmi Beroperasi, Digagas Pengusaha Asal Kuningan
Persakabo Steps Up Preparations for the 5th National Amputee Football Championship
Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"
Goa Garunggang Bogor Tawarkan Wisata Alam Unik dengan Formasi Bebatuan dan Labirin Alami
Ketua APPMBGI Jawa Barat Hadiri Audiensi dan Jajaki Kolaborasi dengan PT Migas Utama Jabar
Wawancara Tokoh : Budi Santoso "PSAI Bogor to Host 5th National Amputee Football Competition"
Anna Ruswan Latuconsina Gelar Diskusi Buku “Arung Jeram Pernikahan” Bahas Perlindungan Perempuan
PSAI Kabupaten Bogor Gelar Latihan Mandiri untuk Persiapan Kompetisi Nasional Sepak Bola Amputasi Edisi V
“Narasinetwork.com Hadirkan Edisi Kompilasi Empat Dongeng Anak ‘Pulau Imaji’”
TVRI Perluas Akses Penyiaran Lewat Uji Coba 5G Broadcast Tanpa Kuota Internet
Pengelolaan Informasi Digital Kemdiktisaintek Raih Penghargaan pada Ajang IDEAS 2026
Kemendikdasmen Gelar Bintang Sobat SMP 2026 Dorong Murid Jadi Penggerak Budaya Digital Positif
Wamenhaj Dorong Ormas Islam Kelola Bimbingan Haji dan Umrah untuk Perkuat Perlindungan Jemaah
Prabowo Resmikan Mandatori Biodiesel B50 Pemerintah Targetkan Hentikan Impor Solar pada 2026
Digital Detox Jadi Pilihan Saat Informasi Terus Membanjiri Ruang Digital
Kemkomdigi Ajak Generasi Muda Kembangkan Satelit Buatan Indonesia
INNOPROM 2026 Jadi Momentum Industri Agro Indonesia Perluas Pasar ke Kawasan Eurasia