WALHI Soroti Lahan Kritis dan Tutupan Hutan Kabupaten Bandung yang Terus Menyusut

Kamis, 16 Apr 2026 22:25
    Bagikan  
WALHI Soroti Lahan Kritis dan Tutupan Hutan Kabupaten Bandung yang Terus Menyusut
Ilustrasi

Demografis penyusutan hutan dan alih fungsi lahan tahun 2025 di Kabupaten Bandung

NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG 

-Kabupaten Bandung menghadapi persoalan serius terkait kerusakan lingkungan. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa sebaran lahan kritis kini semakin meluas, dengan konsentrasi tertinggi berada di sejumlah kecamatan seperti Kertasari, Pangalengan, Pacet, Arjasari, Ibun, Rancabali, Banjaran, Pasirjambu, hingga Ciwidey.

Kondisi ini tidak berdiri sendiri. Pada lapis kedua, lahan kritis juga teridentifikasi di wilayah Ciparay, Baleendah, Pamengpeuk, Banjaran, dan Soreang menandakan bahwa degradasi lingkungan telah merata dan tidak lagi terbatas di kawasan hulu saja.

Yang lebih mengkhawatirkan, hingga tahun 2025, tutupan hutan di Kabupaten Bandung disebut telah menyusut drastis hingga sekitar 60 persen.

Dari total kawasan hutan yang diperkirakan mencapai kurang lebih 10 ribu hektare atau setara dengan 50 persen dari luas wilayah Kabupaten Bandung angka penyusutan ini menjadi alarm keras bagi keberlanjutan lingkungan.

Di sisi lain, kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum masih menyimpan persoalan besar. Lahan kritis di kawasan ini diperkirakan mencapai sekitar 70 ribu hektare.

Angka tersebut mencerminkan betapa kompleksnya persoalan ekologis yang dihadapi, terutama di wilayah yang menjadi penopang utama sistem tata air di Jawa Barat.

Merujuk pada data tersebut, berbagai kalangan menilai bahwa upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Bandung, di bawah kepemimpinan Bupati Dadang Supriatna, belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar terkait lahan kritis.

“Sehingga jika merujuk kepada angka tersebut, langkah dan upaya yang dikerjakan oleh Bupati Dadang Supriatna tidak bisa dikatakan sudah menjawab lahan kritis yang terjadi di Kabupaten Bandung,” ujar Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin, dikonfirmasi Kamis (16/4/2026). 

Ia menegaskan, kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan bencana ekologis terus berulang.

“Hal ini yang terus menyebabkan banjir, longsor dan gerakan tanah masih terus terjadi hingga tahun ini,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Wahyudin juga menyoroti kebijakan tata ruang yang dinilai belum berpihak pada upaya perlindungan lingkungan. Menurutnya, revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) terkesan tidak diarahkan untuk memperkuat fungsi kawasan lindung.

“Dalam upaya revisi RTRW dan RDTR terkesan tidak bertujuan dalam menguatkan fungsi serta menjaga kawasan agar terhindar dari alih fungsi lahan, baik di kawasan hutan maupun non-kawasan hutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa maraknya aktivitas ekstraktif menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hutan di Kabupaten Bandung.

“Kegiatan-kegiatan ekstraktif mulai dari tambang, pembangunan kondominium, hingga wisata, terus menggerus kawasan hutan. Hutan yang ada pun semakin terdegradasi akibat aktivitas tersebut,” tambah Wahyudin.

Jika tidak segera ditangani secara komprehensif dan konsisten, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memperparah krisis lingkungan di Kabupaten Bandung.

Lebih dari sekadar angka, lahan kritis adalah cermin dari ketidakseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan yang pada akhirnya akan kembali berdampak pada kehidupan masyarakat itu sendiri.

**

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

WALHI Soroti Lahan Kritis dan Tutupan Hutan Kabupaten Bandung yang Terus Menyusut
Hari Seni Sedunia Memuliakan Ekspresi dan Budaya Global
Digitalisasi Khazanah Islam Menjaga Karya Ulama Tetap Hidup
Dirut BUMD Bandung Daya Sentosa Dijebloskan ke Tahanan, Skema Bisnis Berujung Dugaan Korupsi Ratusan Milyar
Program MBG Adalah Fondasi Membangun Generasi Sehat dan Cerdas di Srengat Blitar
Rini Intama Menyuarakan Sejarah Lewat Kata dan Kain 'Molase dan Dinayra'
Catatan Perjalanan dari Tepi Selat Lombok
Menelusuri Eksotisme Laut Asia Tenggara Bersama Silolona Sojourns
Sketsa Gaya 'Pilihan Busana Anggun untuk Usia 70 Tahun ke Atas' Vol.1
Tren Alas Kaki Pointy Paduan Kenyamanan Flat Shoes dan Estetika Penari
Pergeseran Pandangan Masyarakat Terhadap Batasan Usia Belajar Balet
Wajah Stasiun Jakarta Kota Ruang Ekspresi Musisi Jalanan yang Tertata dan Legal
Perluas Penerima Manfaat, Sosialisasi Program MBG di Gelar di Desa Plandirejo Blitar
Program MBG di Kepatihan Tulungagung Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat
Harga Tahu Tempe Tetap Stabil Penyesuaian Hanya pada Volume
Pelantikan Dubes Andi Rahadian untuk Kesultanan Oman Merangkap Republik Yaman
Industri Kendaraan Niaga Menjadi Penopang Utama Sistem Logistik Nasional
Transformasi Birokrasi Kemenperin Optimalkan Layanan Lewat Digitalisasi
Kementerian Agama Terapkan WFH Setiap Jumat sebagai Bagian Modernisasi Budaya Kerja
Mengenal Koleksi Kundika Perunggu Dinasti Goryeo di Museum Nasional Korea