NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan maritim tertua di Nusantara yang telah berdiri lebih dari 750 tahun. Dalam catatan sejarah Maluku Utara, kesultanan ini memiliki peran penting dalam perkembangan perdagangan dan hubungan antarkerajaan di kawasan timur Indonesia. Salah satu tokoh yang tercatat pada masa tersebut adalah Rainha Boki Raja, ratu Ternate yang memerintah pada abad ke-16. Sosoknya kembali diperkenalkan melalui prosa lirik karya Toeti Heraty yang kemudian diadaptasi menjadi film dokumenter.
Film Rainha Boki Raja mengisahkan kehidupan sang ratu pada masa perubahan politik di Ternate dan Tidore ketika bangsa-bangsa Eropa mulai memasuki wilayah Maluku. Selain menghadapi kepentingan asing, ia juga berada di tengah sistem kekuasaan yang didominasi laki-laki. Kisah tersebut menggambarkan upaya Rainha Boki Raja mempertahankan kedudukan dan wilayah kekuasaannya pada masanya.
Film dokumenter ini pernah masuk nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia 2024.
Untuk memperkenalkan karya tersebut kepada masyarakat, pemutaran film dan diskusi digelar sebagai bagian dari pameran IWA#4: On The Map. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Acara menghadirkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam produksi film. Gembong Hardian bertindak sebagai direktur artistik, Linda Christanty sebagai penulis naskah, dan Ananda Sukarlan sebagai penata musik. Diskusi dipandu Bagus Purwoadi selaku kurator pameran IWA#4: On The Map.
Sebelum pemutaran film, Ni Made Purnamasari membawakan puisi yang terinspirasi dari kisah Rainha Boki Raja. Kegiatan tersebut juga dihadiri Sultan Hidayatullah Sjah atau Sultan Hidayat M. Sjah, S.I.P., M.A.P., yang dinobatkan sebagai Sultan Ternate ke-49.
Kehadiran Sultan Ternate memperkuat keterkaitan antara film dan sejarah kesultanan yang menjadi latar cerita. Rainha Boki Raja merupakan salah satu tokoh yang tercatat dalam perjalanan Kesultanan Ternate pada abad ke-16, ketika wilayah tersebut berkembang sebagai pusat perdagangan rempah di kawasan timur Nusantara.
Setelah pemutaran film, para narasumber membahas proses produksi, penulisan naskah, penggarapan musik, serta adaptasi prosa lirik karya Toeti Heraty ke dalam format dokumenter. Diskusi juga menyoroti latar sejarah yang melandasi cerita dan posisi Rainha Boki Raja dalam catatan sejarah Ternate.
