NARASINETWORK.COM - Tahun 2026 menjanjikan perubahan yang menarik dalam lanskap media sosial. Bagi pemasar yang siap beradaptasi, ada banyak peluang untuk terhubung dengan audiens secara lebih efektif dan meningkatkan hasil pemasaran.
Berikut Enam Tren Media Sosial Tahun 2026 :
1. Video Pendek dan Konten Dihasilkan Pengguna Dominasi KreativitasRiset Emplifi menunjukkan 73% pemasar memprioritaskan video berdurasi pendek (Reels, TikTok, Stories) dan 47% memprioritaskan konten video yang dihasilkan pengguna menjelang tahun baru.
Data menunjukkan konsumen menyukai cerita otentik dan mudah dipahami dalam durasi singkat dan menarik.Potensi kreatif muncul dari kombinasi kedua format tersebut. Contohnya, video unboxing pelanggan yang disajikan dalam gaya TikTok, atau Reels yang dibuat berdasarkan ulasan dengan tampilan merek dalam postingan. Fokusnya adalah pada keaslian dalam format yang mudah dikonsumsi dan dibagikan.
2. Media Berbayar Beralih Fokus ke VideoPemasar mengalokasikan anggaran ke platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok—tempat untuk bercerita melalui video, memiliki audiens muda, dan pengembangan perdagangan daring yang pesat.
Strategi yang disesuaikan dengan karakteristik platform akan membantu merek meningkatkan keterlibatan dan memperluas jangkauan audiens. Contohnya, penggunaan format Shorts yang imersif di YouTube, kolaborasi dengan kreator di TikTok, dan Reels interaktif di Instagram.
Iklan media sosial berbayar berkembang menjadi sarana dinamis untuk terhubung dengan konsumen dan memenuhi ekspektasi mereka.Perkembangan baru muncul berupa perdagangan berbasis percakapan. Kemitraan seperti integrasi Walmart dengan ChatGPT mengubah cara konsumen menemukan dan membeli produk, memungkinkan pembelian langsung dalam sesi obrolan.
Saat platform mengintegrasikan konten, pencarian, dan fitur belanja, media berbayar akan berkembang dari feed media sosial ke percakapan yang didukung oleh teknologi, dengan relevansi dan personalisasi sebagai fokus utama iklan.
3. Teknologi Berintegrasi ke Dalam Alur KerjaTeknologi memberikan peningkatan produktivitas di berbagai bidang pemasaran media sosial, mulai dari penerapan chatbot, pendataan konten dihasilkan pengguna, hingga optimasi penargetan iklan dan pemanfaatan analitik untuk menghasilkan hasil yang terukur.Pada tahun 2026, penggunaan teknologi tidak lagi bersifat eksperimental.
Merek akan memasukkan solusi generatif sebagai bagian dari operasional sehari-hari.Bisnis yang menjual langsung ke konsumen telah membuktikan media sosial sebagai saluran perdagangan yang efektif, dengan rata-rata aktivitas posting 6 kali lebih banyak dibandingkan pesaing ritel dengan skala yang sama. Bagi perusahaan ritel, cara untuk bersaing adalah dengan menggunakan teknologi untuk membuat, menemukan, mendistribusikan, dan mengelola konten.
4. Influencer Virtual dan Kreator Dihasilkan Teknologi Meningkatkan PeranAwal tahun lalu, hampir 60% pemasar merencanakan peningkatan kolaborasi dengan influencer virtual atau yang dihasilkan teknologi.
Namun, laporan terbaru menunjukkan banyak pemasar mengurangi hubungan dengan influencer virtual—kemitraan dengan akun khusus menurun sekitar 30% dalam delapan bulan pertama tahun 2025 dibandingkan tahun 2024, seiring dengan laporan tentang penurunan minat audiens dan kinerja yang belum optimal.
Alih-alih sebagai pengganti kreator nyata, merek dapat mengintegrasikan kreator virtual ke dalam strategi sebagai kolaborator gabungan, alat untuk bercerita dengan hasil yang terukur, dan untuk melakukan eksplorasi visual. Untuk menghasilkan dampak positif, kampanye harus berdasarkan pada suara yang sebenarnya, menerapkan transparansi tentang peran teknologi, dan sesuai dengan preferensi audiens.
5. Pengelolaan Beban Kerja Jadi Prioritas Bagi Tim Media Sosial KecilSebagian besar tim media sosial berukuran kecil, seringkali kurang dari enam orang, yang masing-masing mengelola ratusan merek secara global. Hampir setengah dari pemasar media sosial melaporkan mengalami kelelahan kerja. Dengan tuntutan konten yang meningkat dan anggaran yang terbatas, pembuatan alur kerja yang efisien menjadi kebutuhan utama untuk menghindari pergantian karyawan yang tinggi.
Pada tahun 2026, akan ada penerapan otomatisasi yang menyederhanakan tugas-tugas rutin di departemen pemasaran media sosial. Tugas seperti penjadwalan postingan, pelaporan hasil utama, dan aktivitas serupa akan diotomatiskan, sehingga tim dapat fokus pada pekerjaan kreatif yang memiliki nilai lebih tinggi.Merek yang sukses akan menggunakan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi, dengan teknologi menangani beban operasional, sementara anggota tim fokus pada kreativitas, penyampaian cerita, dan pembangunan koneksi dengan audiens.
6. Pemasaran Media Sosial, Perdagangan, dan Layanan Pelanggan Menyatukan FungsiMedia sosial telah melebihi perannya sebagai saluran pemasaran semata. Dua pertiga pemasar saat ini bekerja sama erat dengan tim perdagangan dan layanan pelanggan, dan integrasi yang lebih erat menjadi faktor keunggulan kompetitif.
Tahun 2026, batasan antara titik kontak pelanggan akan semakin kabur, menghasilkan pengalaman yang lebih menyeluruh. Contohnya, iklan TikTok yang langsung mengarah ke proses pembelian, pesan langsung dari pelanggan yang menjadi peluang penjualan tambahan, atau percakapan dengan chatbot yang mendorong pembelian berulang.
Interaksi media sosial akan berperan sebagai pintu masuk untuk seluruh pengalaman pelanggan, di mana penemuan produk, pembelian, dan layanan dilakukan dalam alur yang lancar dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Merek yang menghubungkan semua titik kontak dengan data yang terpadu, respons waktu nyata, dan otomatisasi yang sesuai dengan konteks dapat mengubah media sosial dari saluran penyampaian informasi menjadi sarana untuk menghasilkan pendapatan dan mempertahankan pelanggan.
