Bukan Sekadar Malas Ibadah: Ada Kekosongan yang Sering Sembunyikan oleh Remaja

Kamis, 18 Dec 2025 20:18
    Bagikan  
Bukan Sekadar Malas Ibadah: Ada Kekosongan yang Sering Sembunyikan oleh Remaja
Pinterest

Bukan Sekadar Malas Ibadah: Ada Kekosongan yang Remaja Sering Sembunyikan

NARASINETWORK.COM - Di masa remaja, banyak hal berubah sekaligus. Tubuh berkembang, tuntutan akademik meningkat, hubungan sosial semakin kompleks, dan identitas diri mulai dipertanyakan. Perubahan ini sering membuat remaja berada dalam kondisi psikologis yang labil. Namun, ada satu gejala yang jarang disadari sebagai masalah yang lebih dalam: rasa malas beribadah yang muncul bersamaan dengan perasaan kosong dan hilangnya makna hidup.

Beberapa kasus yang ditemui, bahwa beberapa remaja bukan sekadar “malas” dalam arti sederhana. Mereka sebenarnya sedang mengalami ketegangan batin yang cukup serius. Sebagian merasa hidup berjalan otomatis, seperti bangun pagi, sekolah, mengerjakan tugas, pulang, mengulang lagi. Tidak ada ruang untuk bertanya “apa yang sebenarnya aku inginkan?”, “apa yang membuatku bahagia?”, atau “untuk apa aku menjalani semua ini?”

Secara psikologis, kondisi ini dikenal sebagai kekosongan eksistensial. Ini bukan bentuk depresi berat, tetapi semacam kehampaan yang muncul ketika seseorang belum menemukan tujuan atau makna yang membuat hidup terasa berarti. Ketika makna hidup hilang, motivasi intrinsik juga melemah. Dalam teori self-determination, manusia butuh merasa memiliki kendali, merasa kompeten, dan merasa terhubung secara emosional. Bila ketiga kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang mudah kehilangan arah termasuk dalam aspek spiritual.

Pada beberapa remaja, rasa malas beribadah sebenarnya merupakan gejala turunan dari kondisi emosional tersebut. Ibadah membutuhkan kesadaran, ketenangan, dan orientasi moral yang stabil. Tetapi bagaimana mungkin mereka fokus ketika pikiran dipenuhi pertanyaan-pertanyaan besar yang belum terjawab? Bagaimana bisa hati mereka terasa dekat pada ibadah, jika pada saat yang sama mereka merasa jauh dari diri sendiri?

Remaja sering menyembunyikan ini semua. Mereka takut dibilang “nakal”, “kurang iman”, atau “pemalas”. Padahal, di balik perilaku religius yang menurun, ada lapisan-lapisan psikologis yang rumit: rasa tidak berharga, kebingungan identitas, tekanan sosial, perbandingan diri dengan teman yang dianggap “lebih sukses”, hingga ketakutan bahwa hidup tidak memiliki arah.

Membantu remaja dalam kondisi seperti ini tidak cukup hanya dengan menegur atau memberikan nasihat moral. Mereka membutuhkan pendekatan psikologis yang empatik. Mulai dari mengajarkan self-awareness sederhana, membantu mereka mengenali emosi yang muncul, hingga memberi ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi nilai apa yang sebenarnya mereka anggap penting. Ketika remaja mulai memahami diri mereka, mereka lebih mudah membangun kembali makna hidup yang hilang.

Intervensi kecil juga sangat efektif, seperti meminta mereka membuat “jurnal makna” berisi hal-hal yang membuat mereka merasa hidup, atau menemukan aktivitas kecil yang memberi rasa pencapaian. Langkah sederhana ini membantu otak membentuk asosiasi baru, bahwa hidup tidak sesuram yang dibayangkan.

Seiring makna hidup mulai tumbuh kembali, aspek religius biasanya ikut pulih. Ibadah tidak lagi terasa seperti kewajiban berat, tetapi menjadi ruang aman untuk menenangkan diri dan menyambungkan kembali apa yang selama ini terputus seperti, hubungan dengan diri, dengan Tuhan, dan dengan harapan-harapan yang dulu mereka simpan.

Pada akhirnya, pesan terpenting adalah: remaja tidak kehilangan semangat ibadah karena mereka membangkang, tetapi karena mereka sedang kehilangan makna.

Dan tugas kita bukan menghakimi, tetapi menemani perjalanan mereka menemukan dirinya kembali.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Penerapan Pola Hidup Ramah Lingkungan untuk Masa Depan
Mengenal Risiko Gaya Hidup Sedentari di Era Modern
Mengenal Pola Perilaku Maladaptif Anxious Avoidance dan Penanganannya secara Medis
Seogwipo Sambut Musim Semi Melalui Festival Jalan Santai dan Ragam Kuliner Lokal
Sentuhan Arsitektur Lokal dan Kenyamanan Modern di Mercure Resort Sanur
Garpu Restaurant Destinasi Kuliner Tepi Pantai di Karangasem Bali
Legian Beach Hotel Penginapan Bintang Empat di Bali dengan Lokasi Strategis
Pemuda KNPI Kabupaten Bandung Hangatkan Silaturahmi Lewat Halal Bihalal Penuh Kebersamaan
Sidak Usai Lebaran, Bupati Bandung Tekankan Optimalisasi PAD dan Kejelasan Aset Daerah
Festival Randai IMLF-4 Digelar di Bukittinggi Bakal Disaksikan 200 Lebih Delegasi dari Puluhan Negara
Cipta Bella Garut Ramai Pengunjung, Kenyamanan Dipuji, Namun Pengelolaan Perlu Terus Ditingkatkan
Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diharapkan 28-29 Maret Masyarakat Diminta Sesuaikan Jadwal Perjalanan Kembali
Krisis Pangan Dunia Meningkat Indonesia Dorong Swasembada Lewat Deregulasi dan Modernisasi
Kebuntuan Negosiasi Gaji dan Kontrak Lebih dari 1.000 Staf ABC Lakukan Mogok Kerja 24 Jam
Celah Tenang di Sudut Barat Nusa Ceningan
Shelter Pererenan Paduan Arsitektur Tropis dan Hidangan Mediterania
Menikmati Senja dan Kolam Infinity di Timbis Beach Club
Halal Bihalal 1447 Hijriah, Kang DS Ajak ASN Perkuat Silaturahmi dan Tingkatkan Pelayanan
Nahas! Wisatawan Asal Baleendah, Terseret Ombak Pantai Cilame Garut
Antara Target dan Realita: Ketua Komisi D Cecep Suhendar Beberkan Masalah Ketenagakerjaan