NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG
-Kepedulian terhadap lingkungan kembali ditunjukkan warga Kampung Jongor, Desa Serangmekar, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.
Seorang warga, Siti Sadiah (62), memilih turun tangan memperbaiki kondisi jalan gang di lingkungan tempat tinggalnya. Perbaikan tersebut dilakukan sejak pagi hingga sore hari, Jumat (28/8/2026).
Siti tidak sendiri. Ia merupakan istri dari Edi Supriyadi (68), seorang wartawan senior di Bandung. Keduanya diketahui memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Perbaikan gang tersebut dilakukan karena kondisi jalan yang mulai mengalami kerusakan dan dinilai membutuhkan perhatian. Dari kondisi di lapangan, permukaan gang terlihat tidak sepenuhnya rata dan terdapat sejumlah bagian yang mengalami kerusakan.
Mengapa Siti Memilih Memperbaiki Sendiri?
Langkah Siti menjadi menarik karena persoalan perbaikan infrastruktur lingkungan pada dasarnya bukan semata-mata harus dibebankan kepada masyarakat.
Pemerintah desa memiliki berbagai sumber pembiayaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang dapat digunakan sesuai ketentuan dan skala prioritas.
Karena itu, ketika seorang warga memilih mengeluarkan tenaga maupun biaya sendiri untuk memperbaiki gang, muncul pertanyaan lebih luas: apakah kebutuhan warga sudah benar-benar terakomodasi dalam perencanaan pembangunan di tingkat desa?
Namun, keputusan Siti memperbaiki gang tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai bentuk kritik atau ketidakpercayaan terhadap pemerintah.
Bisa jadi keputusan itu lahir dari alasan yang jauh lebih sederhana, ia ingin jalan di depan rumah dan lingkungan sekitarnya segera bisa digunakan dengan lebih nyaman dan aman oleh warga.
Bagi warga, kerusakan kecil pada gang bisa menjadi persoalan sehari-hari. Jalan tersebut digunakan untuk berjalan kaki, mengakses rumah, membawa barang, maupun mobilitas kendaraan roda dua.
Ketika menunggu proses pengusulan dan penganggaran membutuhkan waktu, sebagian warga terkadang memilih melakukan perbaikan secara swadaya.
Di sinilah nilai kepedulian Siti menjadi penting.
Swadaya Warga Jangan Sampai Menggantikan Tanggung Jawab Pemerintah
Semangat gotong royong merupakan kekuatan sosial yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Akan tetapi, gotong royong warga seharusnya menjadi pelengkap pembangunan, bukan pengganti tanggung jawab pemerintah.
Jika setiap kerusakan fasilitas lingkungan harus diperbaiki menggunakan dana pribadi warga, maka perlu ada evaluasi mengenai bagaimana kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat dipetakan dan diprioritaskan.
Terlebih, masyarakat juga memiliki hak untuk mengetahui bagaimana anggaran pembangunan desa direncanakan dan digunakan.
Dalam konteks Kampung Jongor, aksi Siti justru dapat menjadi momentum bagi pemerintah desa dan pihak terkait untuk melihat kembali kondisi infrastruktur lingkungan secara langsung.
Sebab, apa yang dilakukannya sekadar memperbaiki permukaan jalan.
Ada pesan sosial yang lebih besar di baliknya: ketika warga masih mau bergotong royong memperbaiki lingkungannya, pemerintah juga dituntut memastikan pembangunan berjalan merata dan kebutuhan dasar masyarakat tidak terlewatkan.
Antara Kepedulian dan Pertanyaan tentang Anggaran
Apa yang dilakukan Siti memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu menunggu bantuan pemerintah.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka ruang evaluasi. Pemerintah setempat perlu memastikan bahwa program pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat hingga tingkat gang dan permukiman.
Sebab, bagi masyarakat, pembangunan bukan hanya berbicara mengenai proyek besar.
Jalan gang yang setiap hari mereka lewati juga merupakan bagian dari wajah pembangunan daerah.
Dan ketika seorang warga berusia 62 tahun memilih turun tangan memperbaikinya sendiri, pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya “mengapa Siti mau memperbaiki jalan?”, tetapi juga “mengapa warga masih merasa perlu turun tangan sendiri untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur lingkungannya?”
**
