Dongeng Anak Narasinetwork "Adit dan Medali Pahlawan Puasa"

Jumat, 20 Feb 2026 02:10
    Bagikan  
Dongeng Anak Narasinetwork "Adit dan Medali Pahlawan Puasa"
Nana Wiyono

Adit yang masih kecil penasaran tentang puasa. Di sekolah ia dan teman-temannya menjadi Tim Kebaikan Sekolah dan menanam biji jagung sebagai simbol kebaikan.

NARASINETWORK.COM - Mulai November 2025 Narasinetwork.com menghadirkan "Pulau Imaji :  Berlayar dalam Dongeng Narasi" Digagas oleh Erna Winarsih Wiyono, program ini membawa kembali kehangatan tradisi mendongeng sebelum tidur dengan sentuhan modern dan suri tauladan.

Menikmati ilustrasi dan cerita dongeng pendek karya Kak Nana dalam "Pulau Imaji," hadir dua kali sebulan di rubrik Khazanah Narasinetwork.com

Program ini diharapkan menjadi ruang inklusif yang ramah bagi semua pembaca, baik dewasa maupun anak-anak Indonesia.

Episode kedua bertutur tentang "Adit dan Medali Pahlawan Puasa"  Selamat membaca.

"Puasa mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati ada dalam memberi, bukan hanya menerima."

Keluarga Pak Sukri tinggal di Desa Bahagia, satu area di pusat kota yang ramai. Pak Sukri memiliki empat orang anak, dua perempuan, dua laki-laki, dan paling bungsu bernama Adit. Adit duduk di kelas 2 SD dan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang banyak hal.

Jelang awal bulan Ramadan 2026, Adit melihat kakak nomor tiga, Banu yang sudah duduk di bangku SMP sedang menyiapkan makanan untuk sahur.

Adit kecil bertanya dalam hati, "Kenapa aku belum boleh ikut puasa?" Pertanyaan itu membuatnya penasaran dan ingin segera merasakan bagaimana rasanya berpuasa.

Adit bertekad untuk mengisi hari-hari Ramadan dengan melakukan banyak kebaikan. Ia ingin membuktikan bahwa meskipun masih kecil, bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

"Bahkan dalam keterbatasan, kita selalu bisa menemukan cara untuk berbagi dan memberi."

Dimulailah kisah Adit dalam menjalani bulan Ramadan, sebuah perjalanan yang akan mengajarkannya tentang arti kebersamaan, kepedulian, dan indahnya berbagi.

"Hem, kakak bisa puasa, kenapa Adit belum bisa?" ujar Adit sambil mengamati kakaknya yang sedang menyiapkan bekal pagi untuknya.

"Kak Banu sudah kelas 3 SMP, Adit. Nanti kamu juga bisa kok," jawab kakaknya sambil mengusap kepalanya dengan lembut.

Pagi pertama di bulan Ramadan, Adit terbangun lebih awal dari biasanya. Ia langsung bergegas ke dapur dan melihat ibunya sedang menata hidangan sahur di meja makan yang sudah rapi, Aroma masakan memenuhi ruangan.

"Bu, Adit bantu ya!" seru Adit sambil mengambil sendok makan.

"Boleh sekali, sayang. Kamu siap ikut puasa hari ini?" tanya ibunya sambil menaruh nasi putih hangat di atas meja.

"Siap banget, Bu! Tapi, puasa itu benar-benar menyenangkan?" tanya Adit dengan nada penasaran.

Ibunya tersenyum hangat. "Tentu saja! Kamu akan tahu sendiri nanti," jawabnya sambil mengelus rambut Adit.

Setelah sahur, Adit melaksanakan shalat Subuh bersama ayahnya. Kemudian, ia berangkat ke sekolah dengan semangat. Ia membayangkan hari pertama berpuasa yang penuh pengalaman baru.

Sesampainya di sekolah, Adit melihat teman-temannya yang juga berpuasa sudah berkumpul di halaman belakang kelas. Pak Guru Budi berdiri di tengah-tengah mereka dengan membawa banyak pot kecil dan kantong berisi biji jagung manis.

"Siapa yang siap menanam hari ini?" tanya Pak Guru dengan suara ceria.

"Siap, Pak!" jawab semua anak serempak.

Setiap anak mendapatkan satu pot dan beberapa biji jagung. Adit menggali tanah di dalam potnya dengan hati-hati, meletakkan biji-bijinya perlahan, lalu menutupinya dengan tanah.

"Kenapa kita harus menanam biji jagung, ya, Pak?" tanya salah satu teman.

Pak Guru mengangguk. "Setiap biji yang kalian tanam seperti kebaikan di hati. Jika kalian menjaga puasa dengan baik, bijinya akan tumbuh kuat. Sama seperti kebaikan yang akan tumbuh besar di dalam diri kalian," jelasnya.

Seharian itu, Adit berusaha menjaga dirinya dengan baik. Ketika teman-temannya makan saat jam istirahat, ia memilih untuk duduk di dekat kebun sekolah dan merawat tanamannya.

"Semoga kamu cepat tumbuh, ya," ujar Adit sambil melihat potnya dengan penuh harapan.

Siang hari, setelah pelajaran matematika selesai, Pak Guru berdiri di depan kelas.

"Anak-anak yang berpuasa hari ini akan menjadi 'Tim Kebaikan Sekolah'!" ucap Pak Guru dengan senyum bangga.

Semua anak bertepuk tangan dengan riang. Mereka mulai bekerja bersama-sama, Adit membantu membersihkan sampah di sekitar taman bermain. Ketika melihat teman bernama Bima kesulitan membawa tas berat, ia segera menawarkan bantuan.

"Bima, aku bantu kamu angkat, ya," kata Adit sambil mengambil sebagian tas Bima.

"Terima kasih, ya, Adit," jawab Bima dengan senyum lega.

Setelah itu, Adit melihat Bu Tina, penjaga sekolah, sedang membersihkan jendela kelas. Ia langsung mendekatinya.

"Bu Tina, Adit bantu membersihkan jendela, ya," 

"Kamu tidak capek, ya?" tanya Bu Tina.

"Malah senang, Bu!" jawab Adit dengan penuh semangat.

Meskipun perut sudah mulai terasa lapar, Adit bertekad tidak ingin membatalkan puasanya, Adit ingin puasanya poll hingga maghrib tiba.

Saat jam pulang hampir tiba, Bu Guru Siti mengajak mereka ke dapur kecil sekolah.

"Hari ini kita akan membuat takjil bersama!" ucap Bu Guru Siti dengan gembira.

Ilustrasi : Erna Winarsih Wiyono @February' 20 2026

Ada buah nangka manis, kolang-kaling renyah, dan bahan untuk membuat bubur sumsum. Adit langsung membantu mencuci buah nangka. Teman-temannya yang lain membantu memasak air gula dan menyiapkan mangkuk.

"Adit, kamu bisa potong nangka kecil-kecil ?" tanya teman bernama Sinta.

"Bisa, dong! Tunggu, ya," jawab Adit sambil mengambil pisau kecil yang ada di dekatnya.

Setelah semua takjil siap, Pak Guru membawa mereka ke rumah singgah anak yatim tak jauh dari lokasi sekolah Adit. Adit membawa mangkuk bubur sumsum hangat dan mendekati seorang anak kecil bernama Rina.

"Ini untuk kamu, ya, Rina," katanya dengan senyum lebar.

Rina menerima mangkuk dengan senyum. "Terima kasih, Kak Adit! Rasanya enak banget!"

Adit melihat anak-anak lain menikmati takjil yang mereka buat bersama. Hatinya terasa riang gembira dan mulai mengerti apa artinya puasa.

Ilustrasi : Erna Winarsih Wiyono @February' 20 2026

Ketika sampai di rumah, Adit melihat meja makan sudah penuh dengan hidangan lezat. Ada ayam goreng spesial buatan ibu, es krim dari pedagang dekat rumah, dan kue klepon yang dibuat oleh neneknya. Sebelum makan, Pak Sukri memimpin doa bersama untuk mengucap syukur atas rejeki hari ini.

Adit langsung menggigit potongan ayam yang lembut.

Wah, Bu, makanannya enak banget!" katanya dengan gembira.

Ayahnya tersenyum. "Itu karena kamu sudah menjalankan puasa dengan baik dan membantu banyak orang hari ini. Makanan akan terasa lebih nikmat kalau kamu menghargainya," ujarnya.

"Tidak sangka Adit puasa penuh hari ini, ujar ibu sambil mengecup kening Adit dengan lembut."

Malam itu, Adit melihat tanamannya di atas meja belajar. Tunas-tunas kecil hijau sudah bermunculan.

Ilustrasi : Erna Winarsih Wiyono @February' 20 2026

"Besok kita akan lebih baik lagi, ya, tanamanku. Kita akan membantu lebih banyak orang," bisiknya.

Sambil memegang medali kecil bertuliskan "Pahlawan Puasa" yang diberikan Pak Guru, Adit tertidur dengan lelap.

Ia bermimpi sedang bermain bersama teman-temannya di kebun sekolah yang penuh dengan tanaman besar dan buah lezat, sambil berbagi cerita tentang hari-hari puasa mereka.

**

Pesan dari cerita dongeng pendek ini adalah :

Bahwa kebaikan dan semangat berbagi dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang usia. 

Dongeng ini mengajarkan bahwa arti Ramadan tidak hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang meningkatkan kepedulian, berbagi kebahagiaan, dan menanam kebaikan dalam hati.

Source :

Cerita & Ilustrasi : Erna Winarsih Wiyono

Copyright Ilustrasi : NW Studio @ernawinarsihwiyono/2026/Februari

Kotak Saran : NW Studio - +6281212393683 (Jakarta).


Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Dongeng Anak Narasinetwork "Adit dan Medali Pahlawan Puasa"
Gebrakan Besar di Jombang! Makan Bergizi Gratis Digelontorkan, Warga Berbondong-bondong Hadir
Peran Krusial Masyarakat dalam Kelancaran Program Makan Siang Gratis di Jombang
Esensi Ramadan Dari Balik Dapur Sederhana
Anti Ribet dan Stylish Memilih Overall Denim Jeans untuk Anak Aktif
Standar Hidup di Media Sosial Antara Impian dan Tekanan Nyata
Algoritma Baru Media Sosial Fokus pada Kualitas dan Dampak Bukan Hanya Viralitas
Strategi Media Sosial 2026 Fokus pada Video, Otomatisasi, dan Pengalaman Pelanggan
Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis di Mejayan Madiun Sebut Sebagai Investasi SDM Masa Depan
Sosialisasi Program MBG di Madiun, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Ajak Masyarakat Berpartisipasi
Imlek Festival 2026 Semarak Perayaan Imlek dengan Sentuhan Akulturasi Nusantara
Daihatsu National Skill Contest 2026 Wujud Komitmen Daihatsu dalam Pelayanan Terbaik
GAIKINDO Rilis Jadwal Pameran Otomotif 2026 Dari Kendaraan Komersial hingga Gaya Hidup
BBWI Travel Fair 2026 Momentum Kebangkitan Pariwisata Domestik dan Dukungan Produk Lokal
Ekspor Furnitur Indonesia Capai USD1,67 Miliar Pemerintah Diversifikasi Pasar Ekspor
Kemenkes Gandeng Teknologi Genomik untuk Efisiensi Anggaran Kesehatan
Status JKN Nonaktif Sementara Tak Jadi Alasan Penolakan Kemenkes Lindungi Hak Pasien
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pemerintah Komitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di UI
Indonesia and Australia Collaborate on Climate-Resilient Transport Solutions
Ramadan 1447 H Momentum Refleksi dan Aksi Sosial untuk Kebangsaan