NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Sejarah teater remaja di Ibu Kota mencatat nama Teater Assemble Gema Patriot sebagai salah satu eksponen penting yang mewakili semangat patriotisme dan dinamika seni peran di Jakarta Pusat pada era 1970-an. Berdasarkan arsip literatur dan catatan kompetisi seni tahun 1974, kelompok ini menjadi bagian dari kebangkitan teater yang diprakarsai oleh Gubernur Ali Sadikin.
Puncak pengakuan terhadap kualitas keaktoran Teater Assemble Gema Patriot tercatat pada Festival Teater Remaja DKI Jaya yang babak finalnya berlangsung pada 17 hingga 30 Desember 1973 di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Dalam festival yang diikuti oleh 111 grup teater dari seluruh Jakarta, Teater Assemble Gema Patriot berhasil menonjol melalui prestasi individu. Salah satu aktrisnya, Idam, dinobatkan sebagai salah satu Pemain Pembantu Terbaik Wanita.
Pencapaian ini menempatkan grup asal Jakarta Pusat tersebut sejajar dengan kelompok teater ternama lainnya seperti Teater Remaja Jakarta, Arvisco, dan Teater Karang yang saat itu mendominasi pentas seni pertunjukan remaja.
Sesuai dengan namanya, Teater Assemble Gema Patriot dikenal melalui pementasan naskah-naskah yang mengusung tema patriotisme dan semangat kebangsaan. Pada Januari 1974, kelompok ini tercatat aktif menggelar pementasan yang bertujuan menanamkan nilai-nilai perjuangan melalui medium panggung.
Kelompok ini berada di bawah naungan pembinaan teknis yang terintegrasi dalam sistem pembinaan di Gelanggang Remaja hingga bermuara ke pusat kesenian nasional, Taman Ismail Marzuki.
Kualitas akting para personel Teater Assemble Gema Patriot tidak lepas dari pengamatan dewan juri yang terdiri dari tokoh sastra dan teater terkemuka Indonesia saat itu, antara lain : Putu Wijaya, Taufiq Ismail, Ami Priyono, Syu’bah Asa, dan Slamet Sukirnanto.
Penutupan festival oleh Gubernur Ali Sadikin pada Februari 1974 menandai era di mana kegiatan teater menjadi bagian dari program pembangunan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Meskipun nama Teater Assemble Gema Patriot kini lebih banyak tersimpan dalam arsip sejarah, kontribusinya dalam mencetak aktor berbakat seperti Idam menjadi bukti nyata keberhasilan visi "Jakarta sebagai Pusat Kota Kebudayaan Indonesia" yang dicanangkan pada masa tersebut.
Pertemuan hangat di acara "Aku Berlari-Lari Kecil Menuju-Mu" Jumat (13/3/2026) mempertemukan penulis dengan dua sosok inspiratif dari masa lalu, Sri Nuntari Farida dan Erbia Cholifah. Di tengah lantunan syahdu para ustadz, penyair, dan deklamator Merah Putih, kedua ibu ini berbagi kisah tentang pengabdian mereka. Sri Nuntari, yang kini tetap produktif melestarikan budaya melalui seni angklung, membuka kembali kenangan saat keduanya masih aktif di dunia teater.
Nostalgia mengalir saat mereka mengenang masa kejayaan sebagai pemain dalam kelompok Teater Assemble Gema Patriot. Keduanya bercerita antusias tentang pengalaman terlibat dalam berbagai pertunjukan keliling puluhan tahun silam. Pertemuan ini menjadi jembatan yang menghidupkan kembali catatan sejarah teater remaja Jakarta Pusat yang pernah mereka isi dengan semangat patriotisme.
