Pantai Kamali dan Patung Kepala Naga "Ikon Kebanggaan Kota Baubau"  

Senin, 29 Sep 2025 21:59
    Bagikan  
Pantai Kamali dan Patung Kepala Naga "Ikon Kebanggaan Kota Baubau"  
Sultan Musa

Pantai Kamali di Baubau, Sulawesi Tenggara, ikonik dengan patung Kepala Naga hijau. Dulunya hasil reklamasi, kini menjadi ruang publik populer dengan pemandangan Selat Buton dan aktivitas pelabuhan.

NARASINETWORK.COM - Kota Baubau, yang dikenal dengan julukan "Kota Seribu Benteng," memiliki ikon kebanggaan yang memikat, yaitu Pantai Kamali. Pantai ini memiliki ciri khas berupa patung Kepala Naga berwarna hijau yang menghadap ke laut. Ekor naga ini dibangun terpisah dan terletak dekat Kantor Walikota, berjarak sekitar 5 kilometer.

Pantai Kamali terletak di Jalan Mayjend Sutoyo, Kelurahan Wale, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Berbeda dengan pantai pada umumnya yang identik dengan pasir putih dan laut biru, Pantai Kamali menawarkan pengalaman yang unik. Di sini, pengunjung dapat menikmati deburan ombak yang kuat, langit biru yang luas, dan awan putih yang seolah menyentuh Selat Buton. Pantai ini merupakan hasil reklamasi pada tahun 2004 seluas 34.040 m2 dan diresmikan pada 18 Agustus 2005.

Nama "Kamali" berasal dari bahasa suku Wolio yang berarti "istana" atau tempat tinggal raja dan keluarganya. Suku Wolio merupakan suku yang mendiami wilayah bekas Kesultanan Buton dan tersebar di berbagai kabupaten di sekitarnya. Sejarah suku ini erat kaitannya dengan Kesultanan Buton, yang dulunya merupakan Kerajaan Wolio sebelum menjadi kesultanan Islam pada abad ke-15.

Saat ini, Pantai Kamali menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi dan menjadi daya tarik wisata yang unik. Pantai ini menggabungkan konsep alun-alun dan taman, dengan alun-alun Kota Baubau yang berada persis di pinggir pantai. Pantai ini dibangun memanjang mengikuti garis pantai, sehingga pengunjung tidak akan menemukan pasir landai menuju laut.

Selain pemandangan Selat Buton yang indah dan hijaunya Pulau Muna di seberang pantai, Pantai Kamali juga menawarkan pemandangan aktivitas hilir mudik perahu nelayan dan kedatangan kapal-kapal di Pelabuhan Murhum yang lokasinya berdekatan. Suara kapal yang terdengar hingga ke pantai menambah pengalaman tersendiri bagi pengunjung.

Pantai Kamali dibagi menjadi tiga area utama: barat, timur, dan tengah. Area barat digunakan sebagai tempat parkir dan dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Area timur menjadi tempat pedagang berjualan pada malam hari, dengan berbagai aksesoris dan mainan anak-anak. Area tengah menjadi pusat aktivitas dengan adanya patung kepala naga besar berwarna hijau yang menghadap ke laut. Patung ini melambangkan keberanian, kekuatan, kejayaan, dan kegigihan Kerajaan Buton di masa lalu.

Tongkrongan Favorit di Malam Hari :

Pantai Kamali selalu ramai dikunjungi menjelang matahari terbenam. Panorama sunset yang mempesona dengan cahaya kuning keemasan dan rona merah, serta lampu-lampu kapal yang mulai dinyalakan, menciptakan pemandangan yang indah. Pada malam hari, pantai ini menjadi tempat tongkrongan favorit bagi masyarakat sekitar. Lampu warna-warni yang dipasang di sepanjang pantai menambah pesona keindahan. Jika beruntung, pengunjung dapat menikmati pertunjukan jalanan seperti konser musik mini.

Pengunjung juga dapat menikmati wisata kuliner lokal yang terkenal nikmat, mulai dari makanan utama, camilan, hingga makanan khas Pulau Buton. Minuman khas Sulawesi, Saraba, juga menjadi favorit di tempat ini.

Akses Menuju Pantai Kamali :

Pantai Kamali sangat mudah diakses. Jika dari Pelabuhan Murhum Baubau, jaraknya hanya sekitar 100 meter. Dari Bandara Betoambari, perjalanan menuju Pantai Kamali hanya memakan waktu sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor. Jalur menuju pantai sudah diaspal dengan baik.

Berlokasi di pusat kota, akses menuju Pantai Kamali sangat mudah, baik dengan angkutan umum, mobil, maupun sepeda motor.

Tentang Patung Kepala Naga :

Kota Baubau yang berslogan "Semerbak" (Sejahtera, Menawan, Ramah, dan Bersih) memiliki banyak arsitektur bangunan yang dihiasi dengan buah nanas dan patung naga. Secara filosofis, nanas melambangkan masyarakat Buton yang mampu beradaptasi di mana saja, pemimpin yang melindungi rakyat, dan masyarakat diaspora Buton yang tersebar di mana-mana.

Patung kepala naga berwarna hijau yang berdiri gagah di tengah alun-alun Pantai Kamali seolah mengawasi siapapun yang berlayar di Selat Buton. Patung setinggi 5 meter ini dibangun pada tahun 2007 dan menjadi maskot Kota Baubau. Ekor naga dibangun terpisah pada tahun 2010 dan berlokasi di Bukit Palagimata, tepat di depan Kantor Walikota Baubau.

Menurut cerita masa lalu, naga atau "Lawero" dalam bahasa Baubau, banyak menjadi ornamen penghias bangunan di Baubau atau Buton. Lawero berbentuk seperti ular dengan surai atau rumbai-rumbai pada badannya dan pernah hidup di kepulauan Buton.

Terdapat juga versi lain yang menyebutkan bahwa seorang laksamana kerajaan Mongol bernama Kau Shing pernah singgah di Buton. Ia melarikan diri dari armada Mongol dan mencari perlindungan di Buton. Banyak sejarawan lokal yang menduga bahwa ikhwal naga berawal dari kehadiran Dungku Changia di tanah Buton.

Dengan keindahan alamnya, ikon patung kepala naga, dan sejarah yang kaya, Pantai Kamali menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Kota Baubau.

Seperti dituturkan koresponden kami Sultan Musa, seorang Traveler dan Penulis Buku tentang perjalanannya kali ini.

 

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Sederet Teror Pocong yang Bikin Heboh Warga Masyarakat Indonesia, Apa Maksudnya?
Cetak Rekor Tiga Kali Beruntun Persib Bandung Raih Gelar Juara Hattrick Liga Nasional
Persib Juara Liga Ribuan Pendukung Padati Kawasan Tugu Kujang Bogor Hingga Jalur Penghubung
Mengatur Posisi dan Jenis Bantal Mencegah Cedera Tulang Belakang Saat Tidur
Pengalaman Magang Human Resources Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya di Perusahaan Nasional
Pemerintah Siapkan Stimulus Fiskal dan Pajak Impor Guna Redam Pelemahan Kurs Rupiah
Satupena dan Polda Sumbar Bersama Jaga Alam Lewat Penanaman Pohon IMLF-4
Hutan Tarik dan Kepemimpinan Adipati Pertama Tuban "Ronggolawe"
Pelayanan RSUD Majalaya Tuai Apresiasi dari Keluarga hingga Pasien, Begini Katanya
Monumen Makam Mayor Jenderal Johan Jacob Perie di Batavia
Menilik Kemewahan dan Fasilitas Bisnis Premium di Vasa Hotel Surabaya
Mahkamah Konstitusi Tolak Uji Materi Jakarta Tetap Sah Jadi Ibu Kota Negara
Orbit Bulan Perlahan Menjauh Kecepatan Rotasi Bumi Terdeteksi Melambat
Pasar Elektronik China Mengetat Samsung Resmi Tarik Lini Produk Rumah Tangga
Mengasah Kompetensi Psikologi di Akademi Militer:  Pengalaman Magang Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Destinasi Makan Siang Pengisi Tenaga di Sisi Jalur Rel
POMINDO Ekspansi Gila-Gilaan, Tembus 251 Depo di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke
Satpol PP Kabupaten Bandung Gaspol Tertibkan Reklame, Uwais Qorni: Ini Kebijakan Pemerintah Berlanjut
Ketua KPID Jabar: Disrupsi Teknologi dan Informasi Jadi Ancaman Mental Psikologis Generasi Muda
Belajar dan Bertumbuh Bersama Yard Cermin Jiwa yang Tak Bersuara